Skip to content
13/06/2026
  • Facebook
  • Youtube
  • Instagram
RI NEWS

RI NEWS

PORTAL BERITA INDONESIA

baner iklan
Primary Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
    • IstanaBerita seputar Istana
    • PemerintahanBerita seputar Pemerintahan
    • Politik
    • Parlemen
  • Buser Berita
    • TNI/PolriBerita seputar TNI dan Polri
    • KPKBerita seputar KPK
    • Hukum/PolitikBerita seputar Hukum
  • Regional
    • AcehBerita Seputar Aceh
    • DKI JakartaBerita seputar DKI Jakarta
    • Jawa BaratBerita seputar Jawa Barat
    • Jawa TengahBerita seputar Jawa Tangah
    • Jawa TimurBerita seputar Jawa Timur
    • YogyakartaBerita seputar Yogyakarta
    • BaliBerita Seputar Bali
    • BantenBerita seputar Sumatera
    • Nusa TenggaraBerita seputar Nusa Tenggara
    • SumateraBerita seputar Sumatera
    • KalimantanBerita seputar Kalimantan
    • PapuaBerita seputar Papua
    • SulawesiBerita seputar Sulawesi
    • MalukuBerita seputar Maluku
  • Olah Raga
  • Ilmu PengetahuanBerita seputar Ilmu Penegetahuan
  • Budaya
  • Hiburan
  • BisnisBerita seputar Bisnis
  • Redaksi
  • Privacy Policy
Live
  • Home
  • World
  • Penindasan Pasca-Kerusuhan: Jejak Darah dan Penangkapan Massal Mengguncang Iran

Penindasan Pasca-Kerusuhan: Jejak Darah dan Penangkapan Massal Mengguncang Iran

Jurnalis RI News Portal Posted on 4 bulan ago 3 minutes read
Jejak Darah dan Penangkapan Massal Mengguncang Iran
Silahkan bagikan ke media anda ...

RI News Portal. Cairo – Lebih dari sebulan setelah gelombang protes nasional yang mengguncang Iran pada akhir Desember 2025, aparat keamanan terus menjalankan operasi penyisiran besar-besaran. Ribuan warga—mulai dari mahasiswa hingga dokter, pengacara, hingga tokoh reformis—masih ditangkap secara bertahap, sering kali tanpa proses hukum yang jelas.

Protes yang bermula dari kemarahan atas ambruknya nilai rial, inflasi yang melonjak, dan kelangkaan kebutuhan pokok dengan cepat berubah menjadi tuntutan politik radikal. Demonstran di lebih dari 190 kota dan desa menyerukan akhir dari sistem teokrasi yang telah berkuasa selama hampir setengah abad. Puncak kerusuhan terjadi pada 8–9 Januari 2026, ketika ratusan ribu orang turun ke jalan secara serentak.

Respons pemerintah bersifat luar biasa keras. Pasukan keamanan menggunakan kekerasan mematikan, termasuk senjata api dan senjata terlarang lainnya, yang menurut laporan kelompok hak asasi menyebabkan ribuan korban jiwa—angka yang jauh melampaui pernyataan resmi pemerintah yang hanya menyebut sekitar 3.117 orang tewas. Organisasi seperti Human Rights Activists News Agency (HRANA) memperkirakan korban tewas mencapai lebih dari 7.000 orang, sementara beberapa sumber independen bahkan menyebut angka lebih tinggi lagi.

Penangkapan massal menjadi ciri utama fase pasca-protes. Agen keamanan memanfaatkan rekaman kamera pengawas jalanan, CCTV toko, hingga citra drone untuk melacak identitas peserta demonstrasi. Mereka kemudian melakukan penggerebekan rumah ke rumah, sering pada dini hari, untuk menangkap individu yang dicurigai. Banyak tahanan ditahan tanpa akses komunikasi selama berminggu-minggu, tanpa hak bertemu keluarga atau pengacara—kondisi yang oleh para aktivis disebut sebagai “penghilangan paksa”.

Data dari komite pemantau independen di luar negeri mencatat lebih dari 2.200 nama tahanan yang telah diverifikasi, termasuk 107 mahasiswa, 82 anak di bawah umur (termuda berusia 13 tahun), 19 pengacara, dan 106 dokter. HRANA memperkirakan total penangkapan telah melampaui 50.000 orang, dengan penahanan masih berlanjut setiap hari. Pemerintah Iran sendiri hanya mengakui ribuan penangkapan, jauh lebih rendah dari estimasi independen.

Penindasan tidak berhenti pada demonstran biasa. Belakangan ini, aparat menargetkan tokoh-tokoh reformis terkemuka, termasuk pimpinan koalisi reformis utama serta mantan diplomat dan anggota parlemen senior. Penangkapan ini dilakukan dengan tuduhan “mengganggu ketertiban politik dan sosial” serta dugaan keterkaitan dengan kepentingan asing, meskipun tuduhan tersebut belum dibuktikan secara terbuka.

Baca juga : Generasi Muda Afrika Menuntut “Reuni yang Hilang”: Mengapa KTT AU 2026 Berisiko Menjadi Simbol Krisis Legitimasi

Ekonomi yang semakin memburuk menjadi latar belakang yang memperparah ketegangan. Nilai mata uang anjlok drastis, inflasi mencapai level rekor, dan sanksi internasional serta korupsi sistemik terus menggerus daya beli masyarakat. Pemerintah merespons dengan program subsidi terbatas seperti kupon barang pokok, namun langkah tersebut dianggap tidak cukup oleh kelompok buruh, pensiunan, dan pedagang yang terus menyuarakan kekecewaan.

Di tengah represi domestik, komunitas diaspora Iran di berbagai belahan dunia menggelar aksi solidaritas besar-besaran, menuntut perubahan rezim. Sementara itu, pernyataan dari Washington—termasuk penempatan aset militer tambahan di Teluk Persia—menambah ketegangan geopolitik.

Para pengamat melihat keganasan penindasan kali ini sebagai indikasi kerapuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya di kalangan elite penguasa. Meskipun demonstrasi jalanan telah mereda akibat pemadaman internet nasional dan kehadiran militer yang masif, ketidakpuasan mendalam terhadap ekonomi dan legitimasi politik tetap mengintai di bawah permukaan.

Situasi ini menunjukkan bahwa meski protes besar telah diredamkan dengan kekerasan, akar masalah yang memicunya—ketidakadilan ekonomi, pembatasan kebebasan, dan ketidakpercayaan terhadap pemerintahan—belum terselesaikan.

Pewarta : Setiawan Wibisono

About the Author

Jurnalis RI News Portal

Author

Jurnalis RI News Portal adalah seorang wartawan yang menjunjung tinggi kode etik jurnalis dan profesiinal di bidangnya.

Visit Website View All Posts

Silahkan bagikan ke media anda ...

Post navigation

Previous: Generasi Muda Afrika Menuntut “Reuni yang Hilang”: Mengapa KTT AU 2026 Berisiko Menjadi Simbol Krisis Legitimasi
Next: Munich Menjadi Panggung Solidaritas Global: Ratusan Ribu Suara Diaspora Menentang Rezim Teheran di Tengah Ancaman Krisis Baru

Related Stories

Yoon Suk Yeol Divonis 30 Tahun Penjara atas Dugaan Provokasi Drone ke Pyongyang

Kekuasaan di Semenanjung Korea: Yoon Suk Yeol Divonis 30 Tahun Penjara atas Dugaan Provokasi Drone ke Pyongyang

Jurnalis RI News Portal Posted on 6 jam ago 0
Dialog Damai dengan Beijing Tanpa Melemahkan Pertahanan Taiwan

Cheng Li-wun di Washington: Dialog Damai dengan Beijing Tanpa Melemahkan Pertahanan Taiwan

Jurnalis RI News Portal Posted on 6 jam ago 0
Deportasi ke Negara Ketiga

Deportasi ke Negara Ketiga: Celah Hukum Trump yang Mengancam Nyawa Pencari Suaka Iran di Afrika Tengah

Jurnalis RI News Portal Posted on 9 jam ago 0
Indonesia Bisa
C.I.A Official
#Advestaiment RI_News
#Iklan RI_News
#Iklan RI_News
Berita Video
Ucapan
Ucapan
Ucapan

Komentar

  1. Sugeng Rudianto mengenai Pemerintah Siap Perkuat Efisiensi Anggaran 2027: Prioritas Belanja Produktif dan Perlindungan Sosial yang Lebih Tepat Sasaran
  2. Sugeng Rudianto mengenai Pemerintah Siap Perkuat Efisiensi Anggaran 2027: Prioritas Belanja Produktif dan Perlindungan Sosial yang Lebih Tepat Sasaran
  3. Sammy Sandinata mengenai Prabowo Perkuat Fondasi Ekonomi: Luhut dan Chatib Basri Bertemu di Istana
  4. Adi tanjoeng mengenai Komnas HAM Dalami Tragedi Kembru: 12 Nyawa Melayang, Ribuan Warga Mengungsi di Papua Tengah
  5. Sammy Sandinata mengenai Komnas HAM Dalami Tragedi Kembru: 12 Nyawa Melayang, Ribuan Warga Mengungsi di Papua Tengah

Berita Video

 

Berita video mengungkap fakta dengan visual live dan streaming.

Cara Instal Aplikasi RI News Portal di HP kalian ; Download file Zip apk RI News Portal, simpan dan ekstrak file Zip. Kemudian instal ..... enjoy RI News Portal sudah di HP Kalian.

Aplikasi RI News PortalUnduh
Aplikasi RI News PortalUnduh

RI NEWS-Media Portal Berita Republik Indonesia-Menyajikan informasi peristiwa yang teraktual dan terpercaya-Virnanda Creator Production adalah media pemberitaan yang berdedikasi tinggi untuk menyampaikan informasi berkualitas kepada masyarakat. Kami berkomitmen untuk menjadi sumber informasi dunia yang akurat, cepat, dan terpercaya. Kami percaya bahwa informasi yang baik dapat mencerdaskan umat manusia dan menjaga kedamaian dunia. Oleh karena itu, kami berupaya menciptakan dunia yang terbebas dari pertikaian dan permusuhan.

Pos-pos Terbaru

  • Kemenko Polkam Perkuat Sinergi Lintas Lembaga Hadapi Ancaman Geopolitik Multipolar
  • Delapan Pejuang Papua Kembali ke Pangkuan NKRI: Bendera Merah Putih Dikecup, Senjata Diserahkan di Pegunungan Bintang
  • Mengawal Libur Sekolah: Bandung Kerahkan 350 Petugas Gabungan Cegah Lonjakan Kejahatan Remaja
  • Kekuasaan di Semenanjung Korea: Yoon Suk Yeol Divonis 30 Tahun Penjara atas Dugaan Provokasi Drone ke Pyongyang
  • Cheng Li-wun di Washington: Dialog Damai dengan Beijing Tanpa Melemahkan Pertahanan Taiwan
Copyright © RI News Production | Editor IT by Setiawan Wibisono S.Th | PT. Virnanda Creator Productions .