RI News Portal. Jakarta – Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat mengajak seluruh insan pers untuk tetap menjaga kepedulian terhadap nasib masyarakat miskin dan terpinggirkan, meskipun industri media tengah bergulat dengan tantangan bertahan hidup di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan tekanan ekonomi yang semakin berat.
Dalam pernyataannya di Jakarta pada Jumat lalu, Komaruddin menekankan bahwa persoalan ekonomi yang dihadapi pers memang nyata dan dirasakan hampir di semua media. Namun, ia mengingatkan agar hal tersebut tidak membuat wartawan dan media lupa pada tanggung jawab sosial yang lebih besar.
“Cobalah sempatkan kepedulian pada nasib-nasib rakyat yang terpinggirkan itu harus sering, lebih banyak disuarakan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan tak lama setelah kasus tragis bunuh diri seorang siswa sekolah dasar di daerah terpencil yang diduga dipicu ketidakmampuan membeli alat tulis sekolah menjadi perbincangan luas publik. Kasus itu menjadi pengingat pahit betapa kemiskinan struktural masih membayangi kehidupan sehari-hari sebagian besar masyarakat Indonesia.

Komaruddin menyebut situasi tersebut sebagai sebuah alarm bagi pers. Ia menyoroti struktur sosial masyarakat Indonesia yang masih berbentuk piramida, dengan lapisan terbawah ditempati oleh kelompok miskin yang rentan. Menurutnya, tanpa suara pers yang konsisten, masalah-masalah akibat kemiskinan struktural berisiko terabaikan begitu saja.
“Kan ada ungkapan no viral, no justice. Kalau nanti ramai-ramai itu baru diperhatikan. Tapi kalau hanya satu itu nanti lupa lagi,” katanya, seraya menekankan pentingnya liputan berkelanjutan agar isu kemiskinan tidak sekadar menjadi tren sesaat.
Lebih jauh, Komaruddin menyerukan adanya upaya bersama antara pers, pemerintah, dan berbagai pihak terkait untuk terus mengingatkan perlunya penanganan serius terhadap kemiskinan struktural. Ia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan pemerataan manfaat pembangunan.
Baca juga : Gerindra Respons Cepat Kritik Publik: Atribut Bendera di Jalanan Ditarik Usai HUT ke-18
“Kalau mengejar pertumbuhan, tapi siapa yang tumbuh? Sekarang ini yang tumbuh banyak orang kaya-kaya, tapi yang miskin kan tidak berubah,” ungkapnya.
Pernyataan Komaruddin ini sekaligus menjadi panggilan bagi pers untuk mempertahankan peran advokasi sosial di tengah tekanan bisnis yang kian ketat. Di saat banyak media terpaksa memangkas biaya dan tenaga kerja demi bertahan, pesan tersebut menggarisbawahi bahwa independensi ekonomi tidak boleh mengorbankan independensi moral dalam menyuarakan keadilan bagi yang tak bersuara.
Dengan demikian, di tengah badai ekonomi yang menerpa industri pers, ajakan untuk tetap peka terhadap nasib rakyat kecil menjadi pengingat bahwa fungsi pers tidak hanya sebagai penyampai informasi, melainkan juga sebagai pengawal keadilan sosial yang berkelanjutan.
Pewata : Yogi Hilmawan

