RI News Portal. Purbalingga – Di lereng Gunung Slamet yang dingin dan tak kenal ampun, tragedi pendakian kembali menyita perhatian publik. Syafiq Ridhan Ali Razan, pemuda berusia 18 tahun asal Magelang, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa setelah lebih dari dua pekan dinyatakan hilang. Temuan ini tidak hanya menutup babak pencarian yang melelahkan, tetapi juga membuka diskusi mendalam tentang akurasi estimasi forensik di lingkungan alam liar.
Pemeriksaan medis yang dilakukan tim rumah sakit di Purbalingga mengoreksi dugaan awal tim pencarian dan penyelamatan (SAR). Awalnya, berdasarkan kondisi fisik jenazah saat ditemukan, diperkirakan korban meninggal empat hingga lima hari sebelumnya. Namun, hasil visum luar menunjukkan bahwa kematian terjadi sekitar 15 hari lalu—hanya beberapa hari setelah Syafiq dilaporkan hilang pada akhir Desember 2025. Perbedaan estimasi ini menyoroti tantangan dalam menilai waktu kematian di medan pegunungan, di mana faktor seperti suhu rendah dan kelembapan dapat memperlambat proses dekomposisi, sehingga menyesatkan pengamatan awal.
Dokter yang menangani visum menyatakan tidak ada indikasi kekerasan atau penganiayaan pada tubuh korban. Satu-satunya temuan signifikan adalah patah tulang pada paha kiri, yang kemungkinan besar disebabkan oleh kecelakaan selama pendakian. Keluarga menolak otopsi lanjutan, sehingga penyebab pasti kematian tetap bergantung pada dugaan seperti hipotermia—kondisi di mana suhu tubuh turun drastis akibat paparan dingin berkepanjangan, umum terjadi pada pendaki yang tersesat di ketinggian. Pendekatan akademis terhadap kasus semacam ini menekankan pentingnya integrasi data meteorologi dan fisiologi manusia dalam investigasi, untuk menghindari kesalahan yang bisa memengaruhi strategi pencarian.

Proses penemuan jenazah berlangsung dramatis. Pada 14 Januari 2026, sekitar pukul 08.00 pagi, tim SAR gabungan menemukan Syafiq di kawasan Pos 9, tepatnya di punggungan Watu Langgar, Gunung Malang. Cuaca buruk menghambat evakuasi segera, sehingga baru keesokan harinya jenazah berhasil dibawa turun melalui jalur yang licin dan berbahaya, tiba di basecamp sekitar pukul 14.10. Tim yang terlibat, termasuk petugas darurat, polisi, dan relawan pecinta alam, harus bekerja estafet di tengah hujan deras, menunjukkan dedikasi luar biasa dalam operasi yang berisiko tinggi.
Syafiq memulai pendakian pada 27 Desember 2025 bersama rekannya, Hirmawan Haidar Bahran, melalui basecamp di Pemalang. Saat rekannya mengalami cedera, Syafiq turun mencari bantuan, tapi justru hilang kontak. Hirmawan ditemukan selamat, sementara pencarian Syafiq meluas hingga melibatkan berbagai pihak, termasuk komunitas pendaki lokal.
Baca juga : Penghormatan Leluhur: Ziarah Bupati Brebes ke Makam Pusponegoro II dalam Refleksi Sejarah Daerah
Kasus ini menjadi pengingat akademis tentang kerentanan manusia di alam liar. Studi tentang keselamatan pendakian menunjukkan bahwa persiapan fisik, peralatan darurat, dan pemahaman cuaca sering kali menjadi pembeda antara hidup dan mati. Di Indonesia, di mana gunung-gunung aktif seperti Slamet menarik ribuan pendaki setiap tahun, peningkatan edukasi forensik dan protokol SAR bisa mencegah tragedi serupa. Meski duka mendalam menyelimuti keluarga, cerita Syafiq mendorong refleksi kolektif: pendakian bukan sekadar petualangan, tapi ujian ketahanan yang memerlukan kehati-hatian ilmiah.
Pewarta : Ikhwanudin

