RI News Portal. Jakarta – Di tengah musim kompetitif Serie A 2025/26, AS Roma mengalami pukulan telak dengan tersingkirnya mereka dari Coppa Italia di babak 16 besar. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Olimpico pada Rabu dini hari waktu Indonesia bagian barat ini berakhir dengan kekalahan 2-3 atas Torino, menandai akhir prematur dari perjalanan I Lupi di turnamen piala domestik tersebut. Kekalahan ini tidak hanya menyoroti kerentanan defensif Roma, tetapi juga menggarisbawahi dinamika permainan yang semakin kompetitif di level piala Italia, di mana tim-tim underdog seperti Torino mampu mengeksploitasi celah taktis lawan.
Pertandingan ini merupakan debut Roma di Coppa Italia musim ini, sementara Torino datang dengan momentum positif setelah sukses menyingkirkan Modena dan Pisa di babak sebelumnya. Bermain di kandang sendiri, Roma diharapkan mendominasi, tetapi justru tampil di bawah tekanan sejak awal. Analisis pertandingan menunjukkan bahwa formasi 3-4-2-1 yang diterapkan pelatih Roma gagal memberikan keseimbangan antara serangan dan pertahanan, terutama di lini belakang yang sering kali terlalu maju, meninggalkan ruang bagi serangan balik lawan.

Gol pembuka Torino datang pada menit ke-35 melalui Che Adams, yang memanfaatkan kesalahan koordinasi di pertahanan Roma. Pemain asal Skotlandia itu menyelesaikan umpan dengan tenang, mengubah skor menjadi 0-1. Ini menjadi indikasi awal dari masalah struktural Roma, di mana bek-bek mereka seperti Ziolkowski dan Ghilardi kesulitan mengantisipasi pergerakan cepat penyerang Torino. Roma baru mampu menyamakan kedudukan di awal babak kedua, tepatnya menit ke-48, berkat aksi individu Mario Hermoso. Bek Spanyol itu maju ke depan dan melepaskan tembakan mendatar yang tak terbendung oleh kiper Torino, membuat skor 1-1. Gol ini menunjukkan potensi Roma dalam memanfaatkan set-piece dan serangan dari belakang, sebuah elemen yang sering menjadi senjata andalan mereka di kompetisi liga.
Namun, keunggulan sementara itu cepat sirna. Hanya empat menit kemudian, pada menit ke-52, Che Adams kembali mencetak gol keduanya, kali ini menyambar umpan terobosan akurat dari Nikola Vlasic. Gol ini menggarisbawahi kekuatan Torino dalam transisi cepat, di mana gelandang seperti Ilkhan dan Gineitis mampu mengontrol tempo permainan dan memberikan suplai bola ke lini depan. Skor 1-2 membuat Roma semakin terdesak, memaksa mereka untuk lebih agresif menyerang, yang justru membuka ruang bagi Torino.
Baca juga : Pemilu Uganda 2026: Kekuasaan Lama versus Aspirasi Generasi Muda di Tengah Tantangan Demokrasi
Upaya Roma untuk bangkit terlihat pada menit ke-81, ketika pemain muda Antonio Arena mencetak gol penyama melalui sundulan setelah menyambut umpan silang dari Wesley. Gol ini tidak hanya menjaga asa tuan rumah, tetapi juga menyoroti peran pemain akademi dalam skuad Roma, yang semakin diandalkan di tengah rotasi pemain akibat jadwal padat. Namun, dramatisasi mencapai puncaknya di menit-menit akhir. Pada menit ke-90, dari situasi sepak pojok, Ermirkhan Ilkhan memanfaatkan bola liar akibat penangkapan tidak sempurna oleh kiper Roma, Mile Svilar, untuk mencetak gol penentu. Skor akhir 2-3 memastikan kemenangan Torino, yang kini melaju ke perempat final untuk menghadapi Inter Milan.
Dari perspektif akademis, kekalahan ini mengilustrasikan tantangan taktis yang dihadapi Roma di bawah manajemen saat ini. Susunan pemain Roma—dengan Svilar di gawang, diikuti Celik, Ziolkowski, Ghilardi di belakang; Rensch, Cristante, Pisilli, Wesley di tengah; serta Soule, El Shaarawy, dan Bailey di depan—menunjukkan ketergantungan pada kreativitas individu daripada kolektivitas tim. Sebaliknya, Torino dengan Paleari sebagai kiper; Tameze, Ismajli, Coco di pertahanan; Lazaro, Ilkhan, Gineitis, Vlasic, Aboukhlal di lini tengah; serta Simeone dan Adams di serangan—menerapkan pendekatan lebih disiplin, fokus pada counter-attack yang efektif.

Implikasi jangka panjang dari hasil ini patut dicermati. Bagi Roma, tersingkirnya dari Coppa Italia berarti hilangnya peluang untuk meraih trofi alternatif di musim yang penuh tekanan, terutama dengan persaingan ketat di Serie A dan kompetisi Eropa. Ini bisa memengaruhi moral tim dan memaksa evaluasi strategi, mungkin dengan penambahan kedalaman skuad di jendela transfer mendatang. Sementara itu, kemenangan Torino memperkuat narasi tentang demokratisasi kompetisi piala, di mana tim menengah mampu menantang raksasa melalui persiapan matang dan eksekusi presisi.
Secara keseluruhan, pertandingan ini bukan sekadar kekalahan, melainkan pelajaran berharga tentang adaptasi taktis di sepak bola modern. Roma perlu merefleksikan performa mereka untuk menghindari kegagalan serupa di kompetisi lain, sementara Torino membuktikan bahwa ketekunan dan opportunisme bisa mengubah nasib di lapangan.
Pewarta : Vie

