RI News Portal. Jakarta, 6 Januari 2026 – Data terbaru menunjukkan bahwa laju inflasi Indonesia sepanjang tahun 2025 berhasil dipertahankan dalam koridor yang stabil, dengan angka tahunan mencapai 2,92 persen. Pencapaian ini mencerminkan efektivitas pendekatan kebijakan makroekonomi yang pro-stabilitas, di tengah dinamika tekanan harga yang dipengaruhi faktor musiman dan eksternal.
Menurut rilis resmi Badan Pusat Statistik pada 5 Januari 2026, inflasi bulanan pada Desember 2025 tercatat 0,64 persen, lebih tinggi dibandingkan November yang hanya 0,17 persen. Kenaikan ini terutama bersumber dari komponen harga pangan bergejolak (volatile food) yang melonjak hingga 2,74 persen secara bulanan, dipicu oleh gangguan cuaca ekstrem, kenaikan biaya produksi peternakan, serta lonjakan permintaan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Komoditas utama penyumbang antara lain cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah.
Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) menyumbang inflasi bulanan sebesar 0,37 persen, terutama akibat penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi serta tarif transportasi udara dan antarkota, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat pada periode libur akhir tahun. Sebaliknya, inflasi inti tetap relatif terkendali pada 0,20 persen bulanan, dengan kontribusi utama dari emas perhiasan dan minyak goreng, menandakan bahwa tekanan permintaan domestik fundamental masih terjaga.

Dari perspektif tahunan, inflasi inti berada pada level rendah 2,38 persen, didukung oleh kebijakan suku bunga yang konsisten dalam mengendalikan ekspektasi inflasi, kapasitas ekonomi nasional yang belum sepenuhnya termanfaatkan, rendahnya imported inflation berkat stabilisasi nilai tukar rupiah, serta kontribusi positif dari proses digitalisasi ekonomi. Inflasi volatile food tahunan mencapai 6,21 persen, namun tetap dapat dikelola melalui upaya intensif menjaga pasokan pangan dan sinergi lintas instansi dalam program ketahanan pangan nasional. Adapun administered prices tahunan hanya 1,93 persen, mencerminkan pendekatan hati-hati pemerintah dalam penyesuaian harga barang dan jasa yang diatur.
Bank Indonesia menyatakan keyakinan bahwa trajektori inflasi akan tetap terkendali dalam rentang 1,5 hingga 3,5 persen pada 2026 dan 2027. Optimisme ini didasarkan pada fondasi yang kuat dari konsistensi kebijakan moneter serta koordinasi erat dengan pemerintah pusat dan daerah dalam mekanisme pengendalian inflasi. Sinergi ini telah terbukti efektif dalam meredam volatilitas harga pangan, yang sering menjadi sumber utama ketidakstabilan inflasi di negara berkembang seperti Indonesia.
Baca juga : Progres Penyusunan Aturan Turunan UU KUHAP 2025: Antara Kepastian Hukum dan Tantangan Implementasi
Dalam konteks akademis, pencapaian ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan forward-looking dalam pengelolaan inflasi, di mana ekspektasi masyarakat dan pelaku ekonomi dijadikan anchor utama. Rendahnya inflasi inti menunjukkan bahwa transmisi kebijakan moneter berjalan efektif, sementara pengendalian volatile food menekankan peran kebijakan supply-side, termasuk investasi infrastruktur distribusi dan diversifikasi produksi pangan. Ke depan, tantangan seperti perubahan iklim dan fluktuasi harga komoditas global tetap perlu diantisipasi melalui penguatan resiliensi domestik.
Secara keseluruhan, stabilitas inflasi 2025 tidak hanya mendukung daya beli masyarakat, tetapi juga menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Prospek jangka menengah yang positif ini dapat menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global.
Pewarta : Albertus Parikesit

