RI News Portal. Sulawesi Utra 4 Januari 2026 – Kepergian Anthonieta Evia Maria Mangolo, mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Negeri Manado, pada akhir Desember 2025, telah meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, rekan sejawat, dan komunitas akademik. Kematiannya, yang diduga terkait tekanan psikologis akibat dugaan pelecehan seksual, tidak hanya menjadi tragedi pribadi, melainkan cerminan dari tantangan sistemik dalam perlindungan mahasiswa di lingkungan pendidikan tinggi Indonesia.
Empat tahun lalu, Evia memulai perjalanan akademiknya dengan penuh harapan. Saat itu, ia didampingi oleh Dra. Carolin Manuahe, M.Si., seorang dosen di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam universitas yang sama. Carolin bukan hanya membantu proses administratif pendaftaran, tetapi juga menjadi saksi atas semangat Evia sebagai mahasiswa baru. “Evia datang dengan mimpi besar, seperti banyak anak muda lainnya yang menitipkan masa depan mereka di kampus,” kenang Carolin dengan nada pilu dalam wawancara pada 2 Januari 2025 di sebuah ruko di Kelurahan Tatahadeng.

Sebagai seorang pendidik dan ibu—Carolin adalah orang tua dari Bupati Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Chyntia Ingrid Kalangit, S.KM.—ia merasakan duka yang berlipat. “Hati saya remuk sebagai ibu, dan terpukul sebagai dosen. Institusi pendidikan harus menjadi tempat aman di mana mimpi anak-anak kita dilindungi, bukan diancam,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan kegelisahan lebih luas: kampus, yang seharusnya menjadi bastion etika dan kemanusiaan, kini dihadapkan pada pertanyaan mendasar tentang mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan seksual.
Kasus Evia membuka kembali diskursus tentang kerentanan mahasiswa terhadap pelecehan, terutama dalam hubungan kuasa yang asimetris antara dosen dan mahasiswa. Dugaan yang muncul dari surat pernyataan Evia sebelum kepergiannya menyoroti perlunya transparansi dan akuntabilitas institusi. Meskipun penyelidikan sedang berlangsung, peristiwa ini mengingatkan bahwa keterlambatan respons dapat memperburuk trauma korban dan menghambat keadilan.
Baca juga : Militer AS di Venezuela: Operasi Penangkapan Nicolás Maduro dan Implikasinya terhadap Hukum Internasional
Di tengah kesedihan, Carolin menyampaikan pesan perpisahan yang penuh makna spiritual. Ia percaya Evia kini berada di tempat damai, bebas dari penderitaan duniawi. “Selamat jalan, anakku. Imanmu kepada Kristus telah membawa rohmu ke Firdaus yang abadi. Haleluya, amin,” doanya, yang menjadi penghiburan bagi banyak pihak yang berduka.
Nama Evia Maria Mangolo kini transcend menjadi lebih dari sekadar catatan mahasiswa berprestasi—ia menjadi simbol panggilan nurani bagi reformasi di dunia pendidikan. Tragedi ini mendesak semua pemangku kepentingan untuk memperkuat satuan tugas pencegahan kekerasan seksual, meningkatkan edukasi etika, dan memastikan bahwa setiap laporan ditangani dengan serius serta cepat. Hanya dengan langkah konkret, kita dapat mencegah jeritan serupa terulang, menjadikan kampus sebagai ruang yang benar-benar aman dan memberdayakan bagi generasi mendatang.
Pewarta : Marco Kawulusan

