RI News Portal. Kyiv, 26 Desember 2025 – Dalam perkembangan signifikan menjelang akhir tahun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengumumkan rencana pertemuan langsung dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 28 Desember mendatang di Florida. Pertemuan ini diharapkan menjadi titik krusial dalam upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina yang telah memasuki tahun keempat sejak invasi skala penuh pada Februari 2022.
Menurut Zelenskyy, agenda utama mencakup pembahasan jaminan keamanan jangka panjang bagi Ukraina, serta penyelesaian rancangan kerangka perdamaian berisi 20 poin yang telah dikembangkan bersama tim negosiator Amerika Serikat. Kerangka ini, yang disebut Zelenskyy telah mencapai kemajuan sekitar 90 persen, merupakan evolusi dari proposal awal yang lebih luas dan kontroversial. Dokumen tersebut menekankan pada mekanisme gencatan senjata yang dapat diverifikasi, pemulihan ekonomi pasca-konflik, serta pengaturan khusus untuk wilayah timur yang menjadi sumber perselisihan utama.
Salah satu elemen kunci yang dibahas adalah kemungkinan pembentukan zona demiliterisasi di sebagian Donbas, di mana pasukan Ukraina bersedia mundur jika diimbangi oleh penarikan pasukan Rusia, disertai pengawasan internasional. Zelenskyy menegaskan bahwa pendekatan ini bukanlah penyerahan wilayah, melainkan langkah pragmatis untuk menciptakan kondisi stabilitas, sambil mempertahankan integritas teritorial Ukraina secara keseluruhan. Selain itu, kerangka tersebut mencakup komitmen rekonstruksi dengan dana investasi besar, percepatan integrasi Ukraina ke Uni Eropa, serta jaminan keamanan yang setara dengan proteksi aliansi transatlantik.

Dari sisi Rusia, respons masih menunggu klarifikasi resmi pasca-pembahasan proposal oleh utusan Kremlin. Meskipun ada sinyal kemajuan lambat dalam dialog tidak langsung melalui perantara Amerika, Moskwa belum menunjukkan fleksibilitas signifikan terkait tuntutan penarikan total dari wilayah yang dikuasai atau pembatasan permanen terhadap orientasi keamanan Ukraina. Analis internasional mencatat bahwa dinamika ini mencerminkan ketegangan klasik dalam negosiasi konflik berkepanjangan: di satu sisi, tekanan untuk kompromi cepat guna menghentikan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur; di sisi lain, risiko bahwa kesepakatan prematur dapat melemahkan posisi salah satu pihak di masa depan.
Pertemuan di Florida ini muncul setelah serangkaian kontak intensif, termasuk diskusi antara utusan khusus AS dengan perwakilan Ukraina dan Rusia secara terpisah. Zelenskyy juga menyuarakan harapan keterlibatan lebih aktif dari mitra Eropa, mengingat implikasi keamanan regional yang luas. Meskipun jadwal ketat menyulitkan kehadiran fisik pemimpin Eropa, format hibrida sedang dipertimbangkan untuk memastikan suara kolektif benua tersebut terwakili.
Baca juga : Serangan Brutal Penabrakan dan Penusukan di Israel Utara: Eskalasi Kekerasan dalam Konflik Israel-Palestina
Secara lebih luas, inisiatif ini menandai pergeseran paradigma dalam diplomasi konflik Ukraina, di mana aktor eksternal—khususnya Amerika Serikat—berperan sebagai fasilitator utama. Dari perspektif akademis, proses ini mengilustrasikan prinsip realisme dalam hubungan internasional: negara-negara mencari keseimbangan kekuatan melalui negosiasi, di tengah ancaman eskalasi militer yang berkelanjutan. Namun, keberhasilan jangka panjang bergantung pada mekanisme verifikasi yang kuat dan komitmen multilateral, untuk mencegah pelanggaran yang telah menjadi pola historis dalam konflik serupa.

Sementara diplomasi berlangsung, situasi di lapangan tetap tegang, dengan laporan serangan udara dan drone yang menyebabkan korban sipil serta kerusakan infrastruktur energi di kedua belah pihak. Hal ini semakin menekankan urgensi penyelesaian yang berkelanjutan, bukan sekadar gencatan senjata sementara.
Pertemuan Zelenskyy-Trump berpotensi menjadi katalisator perubahan, tetapi juga mengandung risiko kegagalan jika perbedaan mendasar tidak teratasi. Pengamat global akan memantau dengan saksama, mengingat dampaknya terhadap arsitektur keamanan Eropa dan dinamika kekuatan dunia pasca-2025.
Pewarta : Setiawan Wibisono

