RI News Portal. Yerusalaem 26 Desember 2025 – Sebuah serangan brutal penabrakan kendaraan dan penusukan terjadi di wilayah utara Israel, menewaskan dua warga sipil Israel dan melukai beberapa orang lainnya. Pelaku, seorang warga Palestina dari Tepi Barat yang diduga menyusup secara ilegal ke wilayah Israel beberapa hari sebelumnya, berhasil dinetralkan oleh seorang warga sipil bersenjata di dekat kota Afula.
Serangan ini dimulai di kota Beit She’an, di mana pelaku menabrakkan kendaraannya ke pejalan kaki, menewaskan seorang pria berusia 68 tahun bernama Mordechai Shimshon dan melukai seorang remaja laki-laki. Pelaku kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah kibbutz Ein Harod di sepanjang Jalan 71, di mana ia keluar dari kendaraan dan menusuk seorang wanita muda berusia 19 tahun bernama Aviv Maor hingga tewas. Korban wanita ditemukan di dekat halte bus, sementara upaya pelaku untuk melanjutkan serangan dihentikan oleh intervensi cepat seorang warga sipil yang menembaknya, menyebabkan pelaku terluka sedang dan dirawat di rumah sakit.

Pihak berwenang Israel segera mengidentifikasi pelaku sebagai penduduk kota Qabatiya di Tepi Barat utara, dekat Jenin—wilayah yang telah menjadi hotspot kekerasan dalam beberapa tahun terakhir. Menteri Pertahanan Israel langsung memerintahkan penempatan pasukan tambahan di sekitar Qabatiya untuk melakukan operasi militer terhadap apa yang disebut sebagai infrastruktur pendukung aksi kekerasan. Langkah ini mencerminkan pola respons Israel yang umum, yaitu penggerebekan dan pembatasan di kampung halaman pelaku, meskipun sering dikritik oleh pengamat internasional sebagai bentuk hukuman kolektif yang memengaruhi penduduk sipil tak bersalah.
Insiden ini bukanlah kejadian terisolasi, melainkan bagian dari lonjakan kekerasan bilateral di Tepi Barat yang diduduki sejak pecahnya perang Israel-Hamas pada Oktober 2023. Konflik tersebut, yang dipicu oleh serangan Hamas yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel selatan, telah menyebabkan puluhan ribu korban jiwa di Gaza dan memicu gelombang kekerasan di Tepi Barat. Di satu sisi, serangan oleh individu atau kelompok Palestina terhadap warga Israel telah meningkat, sering diklasifikasikan sebagai aksi terorisme oleh otoritas Israel. Di sisi lain, kekerasan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina—termasuk penyerangan properti, pembakaran lahan pertanian, dan pengusiran paksa—juga mencapai rekor tertinggi pada 2025, dengan ratusan insiden tercatat setiap bulannya.
Baca juga : Ketegangan Diplomatik Menjelang Pertemuan Trump-Netanyahu: Implikasi bagi Proses Perdamaian Gaza
Dari perspektif akademis, eskalasi ini dapat dianalisis melalui lensa siklus kekerasan yang saling memperkuat: respons militer Israel yang intensif di Tepi Barat, termasuk penggerebekan rutin dan perluasan pemukiman, sering memicu rasa frustrasi dan radikalisasi di kalangan Palestina muda. Sebaliknya, serangan terhadap warga sipil Israel memperkuat narasi keamanan nasional yang mendukung kebijakan pengetatan kontrol. Data dari organisasi internasional menunjukkan bahwa sejak 2023, lebih dari 1.000 warga Palestina tewas di Tepi Barat, sementara puluhan warga Israel menjadi korban serangan serupa. Fenomena ini semakin rumit dengan infiltrasi ilegal pekerja atau penduduk Palestina ke Israel, yang difasilitasi oleh perbatasan berpori dan kebutuhan ekonomi.

Presiden Israel menyatakan keterkejutan atas serangan ini dan menegaskan komitmen untuk memperkuat keamanan perbatasan, sementara komunitas internasional terus menyerukan de-eskalasi. Namun, tanpa kemajuan substantif dalam negosiasi damai—termasuk isu pemukiman, status Tepi Barat, dan hak pengungsi—pola kekerasan ini berisiko berlanjut, mengancam stabilitas regional yang lebih luas.
Analisis ini menekankan perlunya pendekatan multilateral yang menyeimbangkan kepentingan keamanan Israel dengan hak asasi manusia Palestina, guna menghentikan siklus balas dendam yang telah merenggut nyawa ribuan orang dalam dua tahun terakhir.
Pewarta : Setiawan Wibisono

