RI News Portal. Washington, 26 Desember 2025 – Dalam perkembangan diplomatik terbaru terkait konflik perbatasan yang berkecamuk antara Kamboja dan Thailand, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan yang telah menewaskan puluhan orang dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi. Dalam percakapan telepon pada Kamis (25/12) dengan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, Rubio menegaskan kesiapan Washington untuk memfasilitasi pembicaraan guna memulihkan stabilitas regional.
Pernyataan resmi dari Departemen Luar Negeri AS menyebutkan bahwa Rubio menyampaikan aspirasi Presiden Donald Trump akan perdamaian abadi di kawasan Asia Tenggara, serta menekankan urgensi implementasi penuh terhadap Kesepakatan Perdamaian Kuala Lumpur yang ditandatangani pada Oktober lalu di sela KTT ASEAN. Kesepakatan tersebut, yang disaksikan langsung oleh Presiden Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, sempat menjadi tonggak harapan de-eskalasi setelah bentrokan sengit pada musim panas sebelumnya. Namun, pelaksanaannya terhambat pasca-insiden ranjau darat yang melukai personel militer Thailand, memicu kembalinya pertempuran pada awal Desember.

Hun Manet, melalui unggahan di kanal komunikasi resminya, mengonfirmasi diskusi dengan Rubio meliputi kemajuan gencatan senjata dan komitmen Kamboja terhadap kerangka damai bilateral. Ia menyoroti dedikasi Phnom Penh dalam menyelesaikan sengketa melalui saluran diplomasi, dengan harapan dialog bilateral dapat menghasilkan perdamaian jangka panjang.
Langkah Rubio ini muncul sehari setelah perundingan militer bilateral pertama antara kedua negara digelar pada Rabu (24/12) di Provinsi Chanthaburi, Thailand. Pertemuan yang berlangsung singkat tersebut menjadi sinyal awal upaya meredam ketegangan, meski laporan pertukaran tembakan sporadis masih beredar. Negosiasi militer dijadwalkan berlanjut pada akhir pekan, di tengah tekanan internasional untuk menghidupkan kembali mekanisme komite perbatasan bersama.

Konflik yang meletup kembali sejak 8 Desember telah menimbulkan korban jiwa signifikan di kedua belah pihak, dengan otoritas Thailand melaporkan puluhan personel keamanan dan warga sipil tewas akibat serangan artileri serta dampak sekunder, sementara Kamboja mencatat kerugian serupa di kalangan penduduk sipil. Krisis kemanusiaan semakin memburuk dengan jutaan warga terdampak pengungsian massal, memicu kekhawatiran akan instabilitas regional yang lebih luas.
Para analis hubungan internasional menilai intervensi AS kali ini mencerminkan strategi diplomatik yang lebih inklusif, dengan penekanan pada fasilitasi daripada mediasi langsung, mengingat preferensi kedua negara terhadap penyelesaian bilateral. Namun, keberhasilan upaya ini bergantung pada kemauan politik Bangkok dan Phnom Penh untuk menahan diri dari provokasi lebih lanjut, serta dukungan berkelanjutan dari aktor regional seperti ASEAN.
Baca juga : Pesan Natal Presiden Prabowo: Empati Nasional di Tengah Duka Bencana Sumatera
Situasi di lapangan tetap rapuh, dengan kedua militer mempertahankan postur defensif di sepanjang garis perbatasan yang dipersengketakan sejak era kolonial. Pengamat menekankan bahwa tanpa komitmen tegas terhadap verifikasi independen dan penarikan aset berat, risiko eskalasi ulang tetap tinggi, mengancam kemajuan diplomatik yang telah diraih dengan susah payah.
Pewarta : Anjar Bramantyo
