RI News Portal. Dodoma, 1 November 2025 – Partai oposisi utama Chadema melaporkan sedikitnya 700 warga sipil tewas dalam tiga hari kerusuhan pasca-pemilu nasional yang digelar Rabu (29/10). Angka itu mencakup 350 kematian di Dar es Salaam dan lebih dari 200 di Mwanza, menurut juru bicara partai John Kitoka. Klaim tersebut belum diverifikasi secara independen karena pemerintah memutus akses internet nasional dan melarang jurnalis asing meliput.
Kerusuhan bermula saat pengumuman hasil pemilu yang memenangkan petahana Samia Suluhu Hassan. Chadema menuding adanya manipulasi sistemik, termasuk penghapusan kandidat oposisi dari daftar pemilih dan penutupan tempat pemungutan suara (TPS) di wilayah basis oposisi. Di Dar es Salaam, saksi mata melaporkan massa merobohkan poster kampanye Hassan, membakar TPS, dan bentrok dengan pasukan antihuru-hara yang menggunakan gas air mata serta peluru tajam.
Pemerintah merespons dengan jam malam nasional mulai pukul 18.00 hingga 06.00 serta pemutusan layanan data seluler dan internet tetap. Sumber keamanan anonim menyebut korban tewas berkisar 700–800 jiwa, sementara diplomat Barat di Dodoma mengkonfirmasi “ratusan” kematian berdasarkan laporan intelijen. Sebaliknya, Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB (OHCHR) hanya memverifikasi 10 kematian melalui laporan kredibel hingga Jumat malam, seraya menyatakan “keprihatinan mendalam” atas eskalasi kekerasan.

Amnesty International mengklaim memiliki bukti forensik awal yang menunjukkan minimal 100 kematian, termasuk eksekusi di luar hukum selama jam malam. Rumah sakit pemerintah di Dar es Salaam dan Mwanza menolak memberikan data korban dengan alasan “instruksi dari atas”. Dokter di klinik swasta melaporkan pasien luka tembak tiba pada malam hari, namun enggan mencatat identitas karena ancaman penutupan izin praktik.
Presiden Hassan belum berbicara di depan publik sejak hari pemungutan suara. Pernyataan resmi terakhir disampaikan Kepala Staf Angkatan Darat Jacob Mkunda, yang menyebut pengunjuk rasa sebagai “elemen kriminal yang didanai asing”. Di Zanzibar, Partai Revolusi (CCM) mengklaim kemenangan mutlak dalam pemilu lokal, tetapi ACT-Wazalendo menolak hasil dengan tuduhan penggelembungan suara melalui kotak suara terisi sebelum pencoblosan, pemilih ganda tanpa verifikasi identitas, dan pengusiran pengamat independen dari ruang penghitungan.
Baca juga : Pelimpahan Tahap II Kasus Dugaan Pemalsuan Sertifikat Tanah: Oknum DPRD Kebumen KH Resmi Ditahan Kejaksaan
Pemutusan internet nasional memutus aliran informasi real-time. Juru bicara CCM Hamis Mbeto menyatakan pemulihan akses akan dilakukan “setelah provokator ditangkap”. Peneliti keamanan siber dari Universitas Dar es Salaam yang enggan disebut namanya mencatat bahwa shutdown kali ini merupakan yang terlama sejak 2020, mencakup seluruh penyedia layanan dan VPN publik.
Situasi lapangan tetap tegang. Chadema mengimbau pendukungnya tetap berdemonstrasi secara damai, namun laporan sporadis menyebutkan baku tembak sporadis di kawasan Kariakoo dan Ubungo hingga Sabtu dini hari. Komunitas internasional, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat, menyerukan penyelidikan independen dan pemulihan akses informasi. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda dialog antara pemerintah dan oposisi.
Pewarta : Setiawan Wibisono

