RI News Portal. Jakarta, 8 Desember 2025 – Film panjang Wasiat Warisan resmi tayang serentak di bioskop-bioskop Indonesia mulai Kamis, 4 Desember 2025. Disutradarai Agustinus Sitorus dan diproduksi antara lain oleh PIM Pictures, film berdurasi 128 menit ini menjadi salah satu judul langka layar lebar Tanah Air yang mengangkat budaya Batak Toba secara mendalam sekaligus menjadikan Danau Toba serta Pulau Samosir sebagai “karakter” utama cerita.
Berbeda dari sejumlah film bertema keluarga Indonesia yang cenderung berlatar urban, Wasiat Warisan memilih menempatkan konfliknya di sebuah hotel tua keluarga yang terbengkalai di tepi Danau Toba. Hotel tersebut diwarisi tiga bersaudara setelah kedua orang tua mereka—Pak Gomgom dan Mak Dame—meninggal dunia dalam kurun waktu berdekatan.
Derby Romero memerankan Togar, anak bungsu yang telah bertahun-tahun merantau dan bekerja di Jakarta. Ia terpaksa pulang kampung ketika menerima kabar duka sekaligus kenyataan bahwa hotel warisan keluarga nyaris disita bank. Sarah Sechan berperan sebagai Tarida, kakak perempuan sulung yang selama ini tinggal di kampung dan mengurus orang tua hingga akhir hayat mereka. Astrid Tiar memerankan Ramona, kakak tengah yang temperamentnya mudah meledak dan selama ini memilih menjauh dari urusan keluarga.

Kedatangan seorang perempuan misterius bernama Linda (diperankan Marsha Aruan) yang mengaku memegang surat utang bermaterai dari almarhum Pak Gomgom langsung memanaskan suasana. Nilai utang yang fantastis itu membuat hotel—satu-satunya aset berharga keluarga—terancam dilelang. Perseteruan antar saudara yang semula hanya perbedaan pandangan kecil seputar “mau dijual atau dipertahankan” lantas membesar menjadi pertengkaran emosional yang menguak luka-luka lama.
Di tengah kekacauan itu, Togar bertemu kembali dengan cinta pertamanya (diperankan Cut Beby Tshabina) yang ternyata masih tinggal di Samosir. Pertemuan tak terduga itu memaksa Togar menghadapi pilihan sulit: tetap bertahan membantu keluarga atau kembali ke kehidupan mapan di ibu kota yang selama ini ia bangun untuk melupakan masa lalu.
Puncak drama terjadi ketika wasiat terakhir almarhumah Mak Dame—yang selama ini disembunyikan di dalam Alkitab Batak tua—ditemukan secara tak sengaja. Isi wasiat itu tidak hanya mengandung pesan moral, tetapi juga fakta hukum yang mengubah segala asumsi ketiga bersaudara tentang utang-piutang orang tua mereka.
Baca juga : KPK Luncurkan E-Learning Antikorupsi Massal: 5,85 Juta ASN Ditargetkan Bebas dari Korupsi Kecil-Kecilan
Sutradara Agustinus Sitorus, yang juga berasal dari etnis Batak Toba, mengatakan bahwa ia ingin menunjukkan sisi lain dari budaya Batak yang jarang terekam di layar lebar. “Kita sering melihat Batak hanya dari sisi pesta adat yang meriah atau orasi yang lantang. Padahal di balik itu ada kerapuhan keluarga modern yang terbelah antara adat, iman Kristen, dan tekanan ekonomi masa kini,” ujarnya usai gala premiere di Jakarta, Rabu malam.
Syuting dilakukan hampir 100 persen di lokasi asli di Samosir dan sekitar Danau Toba pada medio 2024–2025. Penonton akan disuguhi panorama alam yang masih alami, rumah adat Batak yang masih dihuni, serta ritual-ritual kecil sehari-hari seperti mangokkot (mengupas kulit kopi secara bersama) dan penggunaan ulos dalam adegan-adegan emosional.
Secara artistik, Wasiat Warisan berhasil menyeimbangkan drama keluarga yang berat dengan sisipan komedi ringan khas Batak—terutama melalui dialog-dering yang sering kali memainkan logat dan kosakata lokal tanpa terasa dipaksakan. Musik skor karya Aksan Sjuman dan Toria Nainggolan memadukan gondang Batak modern dengan sentuhan orkestra yang lembut, memberikan napas emosional yang kuat di sepanjang film.

Hingga berita ini diturunkan, Wasiat Warisan telah mencatatkan okupansi cukup tinggi di bioskop-bioskop Sumatera Utara dan kota-kota besar lainnya. Banyak penonton dari kalangan perantau Batak yang mengaku menangis di beberapa adegan karena merasa “seperti sedang menonton cerita keluarga sendiri”.
Dengan mengangkat isu warisan budaya sekaligus warisan materi dalam satu tarikan napas, Wasiat Warisan tidak hanya menjadi tontonan hiburan akhir tahun, tetapi juga cermin bagi banyak keluarga Indonesia yang kini berada di persimpangan antara tradisi dan realitas ekonomi modern.
Pewarta : Vie

