RI News Portal. Jakarta – Di tengah arus globalisasi yang semakin deras, upaya pelestarian kebudayaan melalui literasi menjadi semakin krusial. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan hal ini saat meluncurkan buku “Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri” di Jakarta pada Kamis lalu, menyebut karya tersebut sebagai instrumen vital dalam memajukan kebudayaan nasional. Buku ini, yang mendokumentasikan kekayaan budaya Sumatra bagian selatan, bukan sekadar koleksi artefak visual, melainkan jembatan antargenerasi yang memastikan ekspresi budaya tetap hidup dan relevan.
Fadli Zon, dalam pidatonya, menggarisbawahi peran buku sebagai medium riset mendalam yang mengintegrasikan pengumpulan data, artefak, dan elemen visual. “Buku ini sangat penting. Melalui riset, pengumpulan artefak, data, hingga visual, literasi budaya menjadi pengikat agar ekspresi budaya tidak hilang dan dapat diwariskan lintas generasi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa mandat konstitusional negara untuk memajukan kebudayaan di era peradaban dunia menuntut pendekatan seperti ini, di mana dokumentasi tertulis mencegah hilangnya warisan akibat erosi waktu. “Sering kali buku dianggap remeh, padahal melalui buku kebudayaan bisa menjadi abadi,” tegas Fadli, sambil menyoroti kontribusi komunitas sebagai elemen kunci dalam gerakan ini.

Peluncuran buku tersebut diramaikan dengan pergelaran seni yang memukau, menampilkan ekspresi budaya dari wilayah yang dijuluki Bhumi Lima Negeri. Fadli Zon meresmikan acara bersama Prinny Harun Sohar, Ketua Umum komunitas perempuan yang terlibat dalam penyusunan buku. Acara ini tidak hanya menjadi momen seremonial, melainkan demonstrasi hidup dari kekayaan wastra dan tradisi Sumatra bagian selatan, mencakup busana adat perempuan, perhiasan emas, serta kain tenun yang menjadi ikon identitas regional.
Buku “Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri” sendiri menggali akar sejarah kawasan yang dikenal sebagai Swarnadwipa atau Pulau Emas sejak abad ke-7, era kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Melalui narasi yang mendalam, karya ini menghubungkan lima provinsi—Sumatra Selatan, Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Bangka Belitung—sebagai pewaris tunggal dari peradaban maritim kuno tersebut. Isinya mencakup dokumentasi rinci: 32 busana pengantin perempuan, 39 busana adat perempuan, serta beragam aksesori dan wastra yang merefleksikan keragaman etnis dan pengaruh lintas budaya.
Tantowi Yahya, penyanyi sekaligus mantan Duta Besar RI untuk Selandia Baru yang hadir dalam acara, memuji buku ini sebagai masterpiece dokumentasi yang membangkitkan kebanggaan kolektif. “Ini adalah dokumentasi budaya Sumatra bagian selatan yang pernah dikenal sebagai Bumi Swarnadwipa dan Sriwijaya, meskipun sekarang telah menjadi lima provinsi,” katanya. Menurut Tantowi, bahasa penyajian yang mudah dipahami membuat buku ini aksesibel bagi pembaca luas, sekaligus mengungkap keterkaitan budaya regional dengan kawasan Asia lebih luas. “Pengaruh Sriwijaya dan rumpun Melayu terasa kuat dalam buku ini,” tambahnya, menekankan bagaimana narasi tersebut memperkuat rasa identitas di tengah fragmentasi administratif modern.
Disusun oleh komunitas perempuan Putri Bumi Sriwijaya bekerja sama dengan penerbit terkemuka, buku ini mewakili model kolaboratif antara masyarakat sipil dan institusi negara dalam pelestarian budaya. Pendekatan ini tidak hanya mendokumentasikan aset tangible seperti busana dan perhiasan, tetapi juga nilai intangible seperti cerita lisan dan simbolisme yang melekat padanya. Dalam konteks akademis, karya semacam ini berkontribusi pada studi antropologi dan sejarah budaya, menyediakan sumber primer bagi peneliti untuk mengeksplorasi evolusi identitas Melayu di Nusantara.
Peluncuran ini menjadi pengingat bahwa pemajuan kebudayaan bukanlah tugas eksklusif pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Dengan memadukan seni, literasi, dan komunitas, “Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri” membuka jalan bagi inisiatif serupa, memastikan warisan Sumatra bagian selatan tetap bersinar sebagai bagian integral dari mozaik kebudayaan Indonesia.
Pewarta : Yogi Hilmawan

