RI News. Kendal, 29 April 2026 — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kendal terus memperkuat komitmennya dalam pembinaan luar lembaga dengan menjalin koordinasi strategis bersama Pemerintah Desa Wonosari. Pertemuan yang digelar pada Selasa (28/04) lalu tersebut bertujuan untuk mengukuhkan program Desa Binaan, yang memungkinkan partisipasi aktif warga binaan dalam kegiatan pembangunan masyarakat.
Koordinasi ini menghasilkan kesepakatan penting: warga binaan Lapas Kelas IIA Kendal diperkenankan terlibat dalam program Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD). Program padat karya ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat, khususnya mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap, sebagai wujud pengabdian bersama sekaligus sarana reintegrasi sosial yang bermakna.
Kepala Desa Wonosari, Mustagfirin, menyambut baik rencana keterlibatan tersebut. “Kami sangat terbuka dan memberikan kesempatan bagi petugas dan warga binaan Lapas Kelas IIA Kendal untuk ikut serta dalam kegiatan pembinaan di desa yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat yang belum memiliki pekerjaan,” ujar Mustagfirin dalam pertemuan tersebut.

Keterlibatan warga binaan dalam agenda pembangunan desa ini dirancang sebagai bagian dari proses asimilasi, dengan pengawasan ketat dan sepengetahuan perangkat desa setempat. Melalui kegiatan bersama ini, para warga binaan tidak hanya berkontribusi pada pembangunan fisik dan sosial desa, tetapi juga mempraktikkan keterampilan yang telah dibina selama di lapas.
Kasubbag TU Lapas Kendal, Rini Sulistyowati, menyampaikan apresiasi mendalam atas keterbukaan Pemerintah Desa Wonosari. “Kami sangat mengapresiasi keterbukaan Pemerintah Desa Wonosari. Sinergi ini merupakan sarana asimilasi yang nyata, di mana petugas dan warga binaan kami dapat mempraktikkan keterampilan mereka secara langsung. Fokus kami adalah memastikan program ini berjalan selaras dengan kepentingan masyarakat,” tegas Rini.
Sinergi antara Lapas Kelas IIA Kendal dan Desa Wonosari ini diharapkan membawa dampak ganda. Di satu sisi, mendukung percepatan pembangunan desa melalui tenaga kerja tambahan yang terampil dan termotivasi. Di sisi lain, memberikan bekal kemandirian serta pengalaman sosial yang berharga bagi warga binaan sebelum mereka kembali sepenuhnya ke tengah masyarakat.
Program Desa Binaan ini menjadi contoh kolaborasi lintas sektor yang mengintegrasikan pendekatan keamanan, pembinaan, dan pembangunan desa. Dengan semangat gotong royong, kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperkuat fondasi pembangunan di tingkat desa, tetapi juga mempercepat proses reintegrasi sosial yang berkelanjutan bagi warga binaan.
Pewarta: Ragil Surono


