RI News Portal. Caracas – Dalam pidato kenegaraan pertamanya sebagai presiden sementara, Delcy Rodríguez menyampaikan sinyal perubahan signifikan bagi ekonomi Venezuela dengan mendorong liberalisasi sektor minyak melalui keterlibatan investor asing yang lebih luas. Langkah ini muncul hanya beberapa minggu setelah penggulingan Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat, yang menciptakan konfigurasi politik baru di negara Amerika Latin tersebut.
Rodríguez, yang sebelumnya menjabat wakil presiden di bawah Maduro, mengakui tekanan eksternal dari Washington sambil tetap mempertahankan narasi kedaulatan nasional. Ia menggambarkan pembentukan “kebijakan baru” yang memungkinkan akses lebih besar bagi perusahaan internasional terhadap cadangan minyak Venezuela—sumber daya utama yang selama dua dekade terakhir dikelola ketat oleh negara di bawah doktrin sosialis Bolivarian. Pendapatan dari ekspor minyak, menurutnya, akan dialokasikan ke dana kekayaan negara untuk merevitalisasi layanan kesehatan dan infrastruktur yang kini berada dalam kondisi kritis.

Analis politik menilai pidato tersebut sebagai upaya strategis untuk menyeimbangkan kepentingan domestik dengan tuntutan eksternal. Dengan nada yang jauh lebih terkendali dibandingkan retorika anti-imperialis pendahulunya, Rodríguez menyerukan dialog diplomatik dan menolak politik yang didasarkan pada “kebencian dan intoleransi”. Pernyataan ini kontras dengan demonstrasi massa pro-Maduro di Caracas yang masih rutin digelar, di mana peserta mengecam intervensi AS sebagai bentuk agresi imperialis.
Di sisi lain, pemimpin oposisi María Corina Machado—yang diakui luas sebagai pemenang pemilu 2024 oleh komunitas internasional—sedang berada di Washington untuk bertemu Presiden Donald Trump. Pertemuan tersebut menyoroti perpecahan dalam lanskap politik Venezuela: sementara Rodríguez mendapat dukungan langsung dari Gedung Putih, Machado justru mengalami pembatasan akses terhadap pembahasan masa depan negara. Machado menyatakan keyakinannya pada dukungan Trump, meskipun detail pertemuan tetap tertutup.
Para pengamat mencatat bahwa pemerintahan sementara Rodríguez kini memiliki ruang gerak lebih besar tanpa tekanan pemilu jangka pendek. Namun, aparat keamanan era Maduro masih beroperasi penuh, menciptakan suasana ketidakpastian di kalangan masyarakat. Banyak warga Caracas enggan berkomentar terbuka karena khawatir akan represi, sementara yang lain menyatakan kebingungan atas dinamika kekuasaan baru yang didominasi pengaruh eksternal.
Dari perspektif akademis, transisi ini mencerminkan dilema klasik negara penghasil minyak yang bergantung pada sumber daya alam: antara mempertahankan kontrol negara untuk tujuan redistribusi sosial dan membuka pasar untuk menarik modal asing guna pemulihan ekonomi. Langkah Rodríguez dapat dilihat sebagai pragmatisme yang dipaksakan oleh sanksi bertahun-tahun, tetapi juga berisiko memperdalam ketergantungan pada aktor eksternal. Prospek jangka panjang tetap tidak menentu, tergantung pada kemampuan pemerintahan sementara menavigasi tuntutan reformasi ekonomi tanpa mengorbankan basis dukungan politik domestik.
Perkembangan ini akan terus dipantau karena implikasinya tidak hanya bagi Venezuela, tetapi juga bagi dinamika geopolitik di Amerika Latin dan hubungan dengan kekuatan besar global.
Pewarta : Setiawan Wibisono

