RI News Portal. CARACAS, Venezuela — Di tengah gejolak politik yang belum pernah terjadi sebelumnya di Venezuela, Presiden Sementara Delcy Rodríguez menyatakan komitmen pemerintahannya untuk melanjutkan proses pelepasan tahanan yang ditahan selama era Nicolás Maduro. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers pertamanya sejak Maduro ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat pada awal Januari ini, menandai apa yang digambarkannya sebagai “momen politik baru” bagi negara tersebut. Langkah ini muncul sebagai upaya untuk meredakan ketegangan internal sambil menavigasi dinamika hubungan dengan Washington, yang kini memegang pengaruh signifikan atas arah kebijakan Caracas.
Rodríguez, seorang pengacara dan politisi veteran yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden di bawah Maduro, tampil dengan nada yang lebih akomodatif dibandingkan retorika anti-imperialisme yang biasa terdengar dari rezim sebelumnya. Dari karpet merah di Istana Kepresidenan Miraflores di Caracas, ia menegaskan bahwa proses pelepasan tahanan—yang diduga dipengaruhi oleh permintaan administrasi Trump—belum selesai. “Venezuela sedang membuka diri terhadap momen politik baru yang memungkinkan pemahaman di tengah perbedaan ideologi dan politik,” ujarnya, menekankan pentingnya keragaman dan toleransi. Namun, ia juga menekankan penegakan hukum yang ketat, menyatakan bahwa pesan kebencian, intoleransi, dan kekerasan tidak akan ditoleransi, terutama terkait pelanggaran tatanan konstitusional.

Estimasi dari organisasi hak asasi manusia Venezuela menunjukkan bahwa sekitar 800 tahanan politik masih mendekam di penjara, termasuk pemimpin politik, anggota militer, pengacara, dan aktivis masyarakat sipil. Foro Penal, sebuah kelompok independen yang memantau isu ini, telah memverifikasi setidaknya 68 pelepasan sejak pemerintahan sementara Rodríguez berjanji untuk membebaskan sejumlah signifikan tahanan. Pada hari yang sama dengan konferensi pers tersebut, Foro Penal melaporkan pembebasan setidaknya selusin tahanan, termasuk aktivis politik Nicmer Evans serta staf kampanye oposisi Julio Balza dan Gabriel González. Pelepasan ini juga mencakup warga negara asing, termasuk warga Amerika Serikat, Italia, dan Spanyol, serta tokoh oposisi lainnya yang dilakukan awal pekan ini.
Meskipun Rodríguez mengklaim bahwa pemerintahan sementaranya telah membebaskan 212 tahanan—dengan tambahan 194 yang dimulai oleh Maduro pada Desember lalu—klaim ini bertentangan dengan laporan independen. Foro Penal dan kelompok lain seperti Justicia, Encuentro y Perdón, hanya memverifikasi sekitar 70 kasus, menyoroti ketidaktransparanan dan kecepatan proses yang lambat. Kritik ini semakin tajam karena Rodríguez menyalahkan organisasi non-pemerintah yang “memproklamirkan diri sendiri” atas penyebaran kebohongan tentang Venezuela, sebuah sikap yang mencerminkan ketegangan antara rezim dan pengamat independen. Ia bersikeras bahwa Maduro-lah yang memulai inisiatif ini sebagai sinyal koeksistensi, bukan karena tekanan dari luar.
Dalam konteks lebih luas, langkah ini tampak sebagai permainan strategis ganda. Di satu sisi, pemerintahan Rodríguez berusaha mempertahankan kontrol internal dengan menunjukkan kontinuitas dari era Maduro, terutama dengan kehadiran tokoh-tokoh garis keras seperti saudaranya, Jorge Rodríguez (Presiden Majelis Nasional), dan Diosdado Cabello (Menteri Dalam Negeri), yang mengawasi proses pelepasan. Cabello, yang dikenal karena perannya dalam penindasan, menjadi simbol bahwa tidak ada perubahan radikal dari masa lalu. Di sisi lain, secara internasional, pelepasan ini menyampaikan kemajuan bertahap untuk meredam kritik global, khususnya dari Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump, yang menyebut dirinya akan “menjalankan” Venezuela, menyatakan telah melakukan percakapan panjang dan positif dengan Rodríguez, menandai hubungan yang semakin hangat. Trump telah merekrut Rodríguez untuk mengamankan kendali AS atas penjualan minyak Venezuela, meskipun ia pernah menjatuhkan sanksi atasnya karena pelanggaran hak asasi manusia selama masa jabatan pertamanya. Ancaman Trump terhadap Rodríguez—yang menyebut kemungkinan nasib lebih buruk daripada Maduro, yang kini ditahan di penjara Brooklyn atas tuduhan perdagangan narkoba—menunjukkan ketergantungan yang tidak seimbang. Maduro sendiri telah menyatakan tidak bersalah atas tuduhan tersebut.

Analis seperti Ronal Rodríguez dari Observatorium Venezuela di Universidad del Rosario Kolombia, menilai situasi ini sebagai permainan ketat. “Rezim ingin menyampaikan pesan di dalam negeri bahwa mereka masih memegang kendali penuh dan Amerika Serikat tidak mendominasi,” katanya. “Secara internasional, mereka menunjukkan kemajuan dengan pelepasan tahanan politik. Ini adalah permainan ganda.” Pendekatan ini semakin rumit dengan pengabaian Trump terhadap María Corina Machado, pemimpin oposisi pemenang Nobel Perdamaian tahun lalu, yang dijadwalkan bertemu dengannya di Gedung Putih. Machado, yang telah lama memperjuangkan restorasi demokrasi, kini tersingkir dari pusat kekuasaan, menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan transisi yang adil.
Konferensi pers Rodríguez, yang tidak menerima pertanyaan dari wartawan, berfokus semata pada isu pelepasan tahanan, menghindari pembahasan evolusi hubungan dengan AS atau kritik atas kecepatan proses. Ini mencerminkan keseimbangan rapuh yang dihadapi Rodríguez: mantan kepala intelijen dan pengelola industri minyak yang kini harus menavigasi tekanan dari Washington dan sekutu garis kerasnya yang mengendalikan aparat keamanan. Saat Venezuela memasuki fase baru ini, pelepasan tahanan mungkin menjadi indikator awal apakah transisi ini akan mengarah pada rekonsiliasi sejati atau sekadar taktik bertahan di tengah intervensi eksternal. Namun, dengan ratusan tahanan masih tertahan dan transparansi yang minim, skeptisisme dari komunitas internasional tetap tinggi, menekankan perlunya verifikasi independen untuk memastikan kemajuan hakiki.
Pewarta : Setiawan Wibisono

