RI News. Washington 13 Maret 2026 – Keenam awak pesawat pengisi bahan bakar KC-135 Stratotanker Angkatan Udara Amerika Serikat dinyatakan tewas setelah pesawat tersebut jatuh di wilayah udara ramah pada Kamis (12/3) sore waktu setempat. Kejadian ini terjadi di tengah Operasi Epic Fury, kampanye militer AS dan sekutu melawan Iran yang telah memasuki minggu kedua.
Menurut pernyataan resmi Komando Pusat AS (CENTCOM), insiden melibatkan dua pesawat KC-135 yang sedang menjalankan misi pengisian bahan bakar di udara. Satu pesawat berhasil mendarat dengan selamat—diduga di wilayah Israel berdasarkan laporan diplomatik—sementara pesawat kedua hilang di atas gurun Irak barat. Penyelidikan awal menegaskan bahwa penyebab bukan tembakan musuh maupun tembakan dari pasukan sekutu (“friendly fire”).
Kematian keenam awak tersebut menambah daftar korban militer AS dalam konflik ini menjadi setidaknya 13 orang, di mana tujuh lainnya gugur akibat aksi tempur langsung. Pentagon mencatat lebih dari 140 prajurit terluka, termasuk delapan kasus luka berat. Tragedi ini menjadi kehilangan pesawat militer AS keempat yang diakui secara terbuka sejak operasi dimulai pada 28 Februari lalu.

Pesawat KC-135 Stratotanker, yang memasuki dinas sejak era 1950-an dan berbasis desain Boeing 707, tetap menjadi tulang punggung operasi pengisian bahan bakar udara AS. Pesawat ini memungkinkan jet tempur dan pembom menjangkau target jauh tanpa mendarat, terutama ketika misi semakin dalam ke wilayah Iran tengah dan timur. Dalam skenario perang berkepanjangan, peran tanker menjadi krusial karena pesawat AS harus menempuh jarak lebih panjang untuk mengejar target yang mundur.
Namun, usia armada KC-135—sebagian besar diproduksi hingga akhir 1960-an—telah lama menjadi perhatian para analis pertahanan. Meski telah melalui berbagai modernisasi avionik dan mesin, kekhawatiran atas kelelahan struktur logam dan sistem mekanis tetap ada. Transisi ke pengganti KC-46A Pegasus berjalan lebih lambat dari rencana, sehingga AS masih mengandalkan ratusan unit KC-135 (376 unit per data terakhir Congressional Research Service, termasuk 151 di dinas aktif).
Paket awak standar KC-135 terdiri dari pilot, kopilot, dan operator boom yang mengendalikan selang pengisian dari posisi rawan di bagian belakang pesawat. Dalam misi evakuasi medis atau pengawasan, jumlah awak bisa bertambah. Kehilangan keenam awak sekaligus menunjukkan kemungkinan adanya personel tambahan atau situasi darurat yang tidak biasa.
Pada konferensi pers di Pentagon Jumat pagi, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut awak pesawat sebagai “pahlawan Amerika” dan mengakui sifat perang yang penuh ketidakpastian. “Perang adalah neraka. Perang adalah kekacauan,” ujarnya. “Hal-hal buruk bisa terjadi, seperti yang kita saksikan kemarin dengan jatuhnya tanker KC-135 kita.” Pernyataan itu disampaikan sebelum pengumuman resmi kematian keenam awak.
Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, menegaskan bahwa pesawat jatuh di atas wilayah ramah selama misi tempur, dan penyebabnya bukan aksi permusuhan. Ia juga menyatakan operasi udara akan semakin intens, dengan peningkatan jumlah serangan signifikan dalam 24 jam ke depan.
Dari perspektif strategis, insiden ini menyoroti kerentanan operasional di belakang garis depan. Pakar keamanan seperti Yang Uk dari Asan Institute for Policy Studies (Korea Selatan) menilai bahwa pesawat tanker jarang menjadi sasaran langsung karena biasanya beroperasi jauh dari zona pertempuran aktif. Namun, jika konflik berlarut, permintaan misi jarak jauh akan meningkat, menambah tekanan pada armada tanker yang menua.

Sementara itu, kelompok bersenjata di Irak yang terkait Iran mengklaim bertanggung jawab atas penembakan pesawat tersebut, meski klaim itu bertentangan dengan penilaian resmi AS. Perbedaan narasi ini mencerminkan kompleksitas informasi di medan perang modern.
Kehilangan ini bukan hanya tragedi manusiawi, melainkan juga pengingat bahwa keberhasilan operasi udara besar-besaran bergantung pada infrastruktur pendukung yang andal. Saat AS mempersiapkan fase operasi berikutnya, pertanyaan tentang percepatan modernisasi armada tanker dan mitigasi risiko operasional semakin mendesak.
Identitas keenam awak belum diumumkan menunggu pemberitahuan kepada keluarga. Upaya pemulangan jenazah sedang berlangsung.
Pewarta : Setiawan Wibisono

