RI News. Padang, Minggu (12 Juli 2026) — Keberlanjutan lingkungan dan keseimbangan sosial di Sumatra Barat kini berada di titik krusial. Pengelolaan sektor pertambangan, kehutanan, dan perkebunan yang cenderung mengabaikan prinsip keberlanjutan dinilai menjadi ancaman serius bagi generasi mendatang.
Praktisi komunikasi Sumatra Barat, Rispondi, S.I.Kom., menegaskan bahwa media massa memikul tanggung jawab moral dan intelektual yang sangat besar di tengah krisis ekologis dan sosial ini. Menurutnya, media tidak boleh hanya berperan sebagai penyampai informasi semata, melainkan harus menjadi pilar penyeimbang yang mendorong pembangunan berkelanjutan (sustainable development) di tengah masyarakat.
“Sektor pertambangan, kehutanan, dan perkebunan adalah kekayaan alam yang harus dikelola dengan komitmen jangka panjang. Jika hari ini kita membiarkan eksploitasi tanpa kendali, secara tidak langsung kita sedang mewariskan kerusakan alam dan penderitaan kepada anak cucu kita di masa depan,” ujar Rispondi dalam keterangannya, Minggu (12-7-2026).

Rispondi menjelaskan bahwa dampak dari tata kelola yang belum optimal di ketiga sektor tersebut bersifat sistemik. Aktivitas penebangan hutan secara liar telah terbukti merusak keanekaragaman hayati dan mengganggu siklus hidrologi, yang berujung pada peningkatan risiko bencana alam. Sementara itu, maraknya pertambangan ilegal meninggalkan lubang-lubang kehancuran yang merampas hak ekologi generasi mendatang.
Lebih lanjut, alumnus ilmu komunikasi ini menyoroti konflik agraria berupa tumpang tindih kepemilikan lahan perkebunan yang kerap memicu benturan horizontal di tengah masyarakat. “Tumpang tindih lahan menciptakan persoalan baru yang merusak tatanan sosial budaya kita. Alih-alih membawa kesejahteraan, ketidakpastian hukum ini justru memicu ketimpangan ekonomi dan konflik sosial yang berkepanjangan,” tambahnya.
Baca juga : Dugaan Penguasaan Lahan Negara 120 Hektar di BAB Tapan: Pengakuan Terbuka Kerabat Oknum Picu Kecaman
Dalam perspektif yang lebih luas, Rispondi mengajak seluruh media di Sumatra Barat untuk memperkuat fungsi kontrol sosialnya. Ia berharap media mampu menyajikan jurnalisme investigasi yang solutif, mengedukasi masyarakat, serta mengawal kebijakan pemerintah agar tetap berpihak pada kelestarian alam dan kesejahteraan rakyat.
Menutup pandangannya, Rispondi menyampaikan pesan reflektif yang sarat makna. “Alam Minangkabau ini adalah titipan, bukan warisan yang bisa dihabiskan. Mari kita jaga bersama alam kita. Menyelamatkan hutan, menghentikan tambang ilegal, dan merapikan tata kelola lahan hari ini adalah bukti cinta nyata kita untuk anak cucu kita kelak,” pungkasnya dengan penuh optimisme.
Pewarta: Sami S
Tagline: #KeberlanjutanSumbar, #LingkunganMinangkabau, #HentikanTambangIlegal, #JagaHutanSumbar, #KeadilanAgraria, #PembangunanBerkelanjutan,

