RI News Portal. Wonogiri, 14 Januari 2026 – Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), inisiatif nasional yang bertujuan menjadikan koperasi desa sebagai pusat kegiatan ekonomi multifungsi, masih menghadapi sejumlah kendala dalam implementasinya di lapangan, khususnya di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Meski dirancang untuk mempercepat pemerataan ekonomi pedesaan melalui integrasi berbagai layanan, faktor geografis dan pengelolaan aset desa menjadi penghambat utama di beberapa wilayah.
KDMP tidak lagi membatasi peran koperasi desa hanya sebagai lembaga simpan pinjam. Program ini mendorong koperasi menjadi pusat layanan terpadu yang mencakup pengelolaan kios pangan, apotek desa, jasa logistik, hingga klinik kesehatan dasar. Dengan desain bangunan modern, setiap unit KDMP dilengkapi fasilitas pendukung seperti cold storage untuk penyimpanan produk pertanian, sistem kasir digital, serta konektivitas internet yang memungkinkan transaksi daring dan pemantauan usaha secara real-time.
Tujuan utama program ini adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui penciptaan pendapatan tambahan dan lapangan kerja baru. Selain itu, KDMP diarahkan untuk memperkuat kemandirian pangan lokal, mengembangkan industri agro, serta memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tingkat desa. Dengan pendekatan ini, pemerintah berupaya membangun ekosistem ekonomi desa yang lebih tangguh dan mandiri.

Namun, di Kabupaten Wonogiri, tidak semua desa mampu melaksanakan tahapan pembangunan KDMP dengan lancar. Kendala utama berasal dari kondisi lokasi yang spesifik. Banyak tanah kas desa masih produktif ditanami tanaman hijau sehingga sulit dialihfungsikan. Di samping itu, terdapat gedung-gedung lama yang masih kokoh dan berfungsi, sehingga pembangunan baru dianggap kurang prioritas. Kondisi topografi juga menjadi faktor signifikan: sejumlah desa di wilayah dataran tinggi memiliki kontur terasering dengan jurang-jurang curam, yang menyulitkan penentuan lokasi bangunan yang aman dan aksesibel.
Kondisi ini terpantau jelas di Kecamatan Slogohimo. Awaludin, anggota TNI Koramil Resort Kecamatan Slogohimo, menyatakan bahwa hingga saat ini terdapat empat desa di wilayahnya yang belum memulai progres fisik pembangunan gedung KDMP. “Keempat desa tersebut masih menunggu rekomendasi dari pihak desa dan kecamatan. Proses musyawarah desa (musdes) masih berlangsung untuk menentukan lokasi yang sesuai dengan kesepakatan warga,” ujar Awaludin.
Baca juga : Longsor di Wonogiri: Curah Hujan Ekstrem dan Respons Institusi Kewilayahan dalam Mitigasi Bencana
Ia menegaskan bahwa kewenangan penentuan lokasi sepenuhnya berada di tangan pemerintah desa dan masyarakat setempat. Peran TNI hanya sebatas pendampingan dan pengawasan. Meski demikian, Awaludin optimistis bahwa pada Januari 2026 ini beberapa desa di Slogohimo dapat mempercepat pengerjaan sehingga ikut serta dalam peluncuran serentak yang direncanakan.
Kendala yang dihadapi di Wonogiri mencerminkan tantangan lebih luas dalam implementasi program pembangunan berbasis desa di wilayah dengan karakteristik geografis dan sosial yang beragam. Keberhasilan KDMP ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah daerah dan masyarakat dalam menemukan solusi kontekstual, seperti pemanfaatan aset existing atau penyesuaian desain bangunan dengan kontur lahan.
Program ini tetap menjadi harapan bagi pemerataan ekonomi nasional, terutama di wilayah pedesaan yang selama ini tertinggal dalam akses layanan ekonomi modern.
Pewarta: Nandar Suyadi

