RI News Portal. Semarang – Pelaksanaan program nasional penyediaan makanan bergizi gratis di Kota Semarang menghadapi hambatan utama terkait kualitas sumber air pada fasilitas dapur penyedia, meskipun progres operasional menunjukkan kemajuan signifikan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr. Abdul Hakam, menyatakan bahwa dari total 133 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terdaftar, sebanyak 110 unit telah aktif mendukung distribusi makanan bergizi gratis kepada penerima manfaat. Namun, hanya sekitar 85 SPPG yang telah memperoleh Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sementara 25 lainnya masih dalam proses penyempurnaan.
“Kendala utama yang diidentifikasi adalah kondisi sumber air yang belum memenuhi standar baku mutu berdasarkan hasil pengujian laboratorium,” ungkap Hakam dalam pernyataan resminya pada Kamis pekan ini. Temuan ini mencakup parameter mikrobiologi dan kimiawi yang masih menunjukkan hasil positif, sehingga memerlukan intervensi lebih lanjut sebelum sertifikat dapat diterbitkan.

Menurut Hakam, aspek lain seperti inspeksi kesehatan lingkungan dan sertifikasi bagi penjamah makanan telah terpenuhi secara keseluruhan pada SPPG yang beroperasi. Proses penerbitan SLHS dilakukan secara langsung oleh dinas kesehatan setempat dengan masa berlaku tiga tahun, berbeda dari mekanisme perizinan lain yang bersifat daring.
Untuk menjaga keberlanjutan standar, pengawasan rutin dilakukan oleh puskesmas melalui pengambilan sampel periodik, baik terhadap sumber air maupun produk makanan yang dihasilkan. “Pengawasan ini dilakukan secara berkala, seperti setiap dua minggu hingga satu bulan, untuk memastikan tidak ada penyimpangan,” tambahnya.
Dinas Kesehatan Kota Semarang terus mendorong percepatan pemenuhan SLHS, dengan catatan penambahan sertifikat baru setiap minggu, berkisar antara lima hingga sepuluh unit. Upaya ini sejalan dengan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program nasional yang bertujuan meningkatkan status gizi masyarakat, khususnya anak sekolah dan kelompok rentan.
Baca juga : Penyamaran sebagai Awak Kabin: Kasus Psikososial di Balik Keinginan Menjaga Citra Keluarga
Dari perspektif akademis, isu kualitas air ini mencerminkan tantangan struktural yang lebih luas di wilayah urban seperti Semarang, di mana ketergantungan pada sumber air tanah atau distribusi lokal sering kali dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti kontaminasi industri atau urbanisasi. Penelitian di bidang kesehatan lingkungan menekankan bahwa standar higiene sanitasi tidak hanya krusial untuk pencegahan penyakit bawaan air, tetapi juga menjadi fondasi keberhasilan intervensi gizi publik jangka panjang. Progres di Semarang ini dapat menjadi model evaluasi bagi daerah lain dalam mengintegrasikan aspek sanitasi ke dalam program pangan nasional.
Pewarta : Sriyanto

