RI News Portal. Hammonton, New Jersey – Pada 28 Desember 2025, dua helikopter ringan bertabrakan di udara tak lama setelah lepas landas dari Bandara Municipal Hammonton, menewaskan kedua pilotnya. Korban tewas adalah Kenneth L. Kirsch, 65 tahun, warga Carney’s Point, dan Michael Greenberg, 71 tahun, warga Sewell. Keduanya merupakan pilot pribadi berpengalaman yang memperoleh lisensi pada 2014, dan sering terbang bersama setelah sarapan di sebuah kafe bandara.
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 11:25 pagi di atas wilayah pertanian dekat Basin Road, sekitar 2,4 kilometer dari bandara. Helikopter yang terlibat adalah Enstrom F-28A (diterbangkan Kirsch) dan Enstrom 280C (diterbangkan Greenberg). Saksi mata melaporkan kedua pesawat terbang dalam formasi berdekatan – sering disebut sebagai “flying in tandem” – sebelum tabrakan. Suara keras seperti pecahan terdengar, diikuti helikopter yang berputar tak terkendali dan jatuh ke tanah. Salah satu helikopter terbakar setelah jatuh, sementara yang lain mendarat di area pepohonan.
National Transportation Safety Board (NTSB) memimpin penyelidikan, dengan Federal Aviation Administration (FAA) sebagai pendukung. Tim NTSB telah mendokumentasikan lokasi puing yang membentang sekitar 91 meter, termasuk bagian rotor utama dan ekor. Bangkai helikopter dijadwalkan dipindahkan ke fasilitas aman untuk analisis mendalam, termasuk pemeriksaan rekaman pemeliharaan, data lintasan penerbangan, dan visibilitas kokpit.

Implikasi Keselamatan Penerbangan
Insiden ini menyoroti risiko utama dalam penerbangan umum (general aviation), khususnya prinsip “see and avoid” yang menjadi dasar pencegahan tabrakan di wilayah udara tidak terkontrol seperti sekitar bandara kecil. Mantan penyidik NTSB dan FAA, Alan Diehl, menyatakan bahwa hampir semua tabrakan di udara disebabkan kegagalan pilot untuk mendeteksi dan menghindari pesawat lain tepat waktu. Faktor potensial termasuk blind spot kokpit, pendekatan dari sisi buta, atau distraksi saat terbang formasi rekreasi.
Meskipun cuaca saat itu berawan sebagian dengan angin ringan dan jarak pandang baik, kedekatan antarpesawat tampaknya menjadi pemicu utama. Kedua pilot adalah teman yang rutin terbang bersama, menunjukkan kemungkinan penerbangan formasi informal tanpa koordinasi ketat seperti dalam operasi militer atau komersial. Di bandara non-tower seperti Hammonton, pilot bergantung sepenuhnya pada komunikasi radio sukarela dan pengamatan visual, yang rentan terhadap kesalahan manusia.
Kasus serupa di masa lalu menekankan perlunya peningkatan kesadaran situasional, seperti penggunaan teknologi ADS-B (Automatic Dependent Surveillance-Broadcast) yang lebih luas untuk peringatan lalu lintas, meskipun tidak wajib pada semua helikopter ringan. Penyelidikan NTSB diharapkan menghasilkan rekomendasi untuk mencegah insiden berulang, termasuk pelatihan tambahan bagi pilot rekreasi tentang risiko formasi terbang.
Komunitas Hammonton, kota agraris dengan populasi sekitar 15.000 jiwa di dekat kawasan hutan Pine Barrens, terkejut dengan tragedi ini. Kecelakaan menegaskan bahwa meskipun penerbangan umum menyumbang sebagian besar aktivitas udara di AS, ia juga memiliki tingkat fatalitas tertinggi per jam terbang dibandingkan penerbangan komersial.
Penyelidikan masih berlangsung, dengan laporan awal NTSB diperkirakan dalam 30 hari mendatang. Temuan akhir akan berkontribusi pada pemahaman lebih baik tentang dinamika tabrakan di udara pada pesawat kecil.
Pewarta : Setiawan Wibisono

