RI News Portal. Jakarta, 15 Januari 2026 – Dalam langkah yang menegaskan prioritas pemerintah terhadap pengembangan sumber daya manusia unggul, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Britania Raya pada pekan depan. Kunjungan ini tidak hanya bersifat diplomatik formal, tetapi secara khusus menitikberatkan pada penjajakan kemitraan pendidikan tinggi dengan institusi-institusi riset terkemuka dunia.
Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Presiden dalam taklimat tertutup yang berlangsung selama tiga jam di Istana Kepresidenan Republik Indonesia pada Kamis siang. Pertemuan tersebut dihadiri sekitar 1.200 akademisi, meliputi rektor, dekan, dan guru besar—from bidang ilmu sosial humaniora hingga sains dan teknologi—dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di seluruh
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, yang terlibat langsung dalam persiapan kunjungan, menekankan bahwa agenda utama Presiden adalah dialog strategis dengan Russell Group—konsorsium 24 universitas riset intensif paling bergengsi di Britania Raya. Kelompok ini mencakup institusi seperti University of Oxford, University of Cambridge, Imperial College London, dan University College London, yang secara konsisten menduduki peringkat teratas dunia dalam inovasi ilmiah dan kontribusi pengetahuan global.

“Presiden secara tegas menyatakan hanya ingin berdiskusi dengan yang paling top,” ungkap Christie usai pertemuan. “Ini bukan kemitraan sembarangan, melainkan seleksi ketat untuk membawa standar akademik tertinggi ke Indonesia, baik melalui program bersama, pertukaran dosen-mahasiswa, maupun kolaborasi riset strategis.”
Pendekatan selektif ini mencerminkan visi jangka panjang pemerintahan saat ini: bukan sekadar menambah jumlah kerja sama internasional, tetapi memastikan transfer pengetahuan yang benar-benar transformatif bagi ekosistem pendidikan tinggi nasional. Dengan demikian, Indonesia dapat mempercepat lompatan kualitas dalam menghasilkan lulusan dan penelitian yang kompetitif di panggung global.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo juga menyampaikan komitmen anggaran yang signifikan untuk mendukung agenda tersebut. Pagu dana riset nasional tahun 2026 dinaikkan sebesar Rp4 triliun—atau 50 persen dari alokasi awal Rp8 triliun—sehingga total mencapai Rp12 triliun. Penambahan ini diarahkan untuk memperkuat riset terapan yang mendukung prioritas nasional, seperti swasembada pangan, transisi energi berkelanjutan, dan hilirisasi sumber daya alam.
Baca juga : Presiden Prabowo Sampaikan Taklimat Strategis Ekonomi dan Ketahanan Nasional kepada 1.200 Akademisi
Kombinasi antara diplomasi pendidikan selektif dengan investasi domestik yang substansial ini menandai babak baru dalam kebijakan ilmu pengetahuan Indonesia. Kunjungan ke Britania Raya, yang diperkirakan berlangsung antara 18-25 Januari 2026, berpotensi menjadi katalis bagi kemitraan yang tidak hanya meningkatkan peringkat universitas Indonesia di indeks global, tetapi juga memperkaya konten kurikulum dan kapasitas riset dosen muda—langkah krusial untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat pengetahuan di kawasan Asia Tenggara pada dekade mendatang.
Meski jadwal pasti masih dalam tahap finalisasi, sinyal yang kuat dari Istana hari ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi telah menjadi salah satu pilar utama diplomasi era Prabowo Subianto.
Pewarta : Albertus Parikesit

