RI News Portal. Jakarta 22 Desember 2025 – Industri udang vaname di Provinsi Lampung, yang secara historis menjadi salah satu pusat produksi utama di Indonesia, menghadapi penurunan signifikan pada ekspor sepanjang 2025. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi faktor kompleks, termasuk ketegangan geopolitik dalam perdagangan internasional, kekhawatiran global terhadap keamanan pangan—terutama kasus deteksi zat radioaktif Cesium-137 pada beberapa pengiriman—serta kenaikan biaya operasional produksi yang membebani daya saing.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim, menekankan perlunya intervensi pemerintah yang komprehensif untuk mengembalikan posisi Lampung sebagai sentra udang nasional. “Ketergantungan berlebih pada pasar Amerika Serikat telah membuat sektor ini rentan terhadap fluktuasi regulasi dan permintaan di sana,” ujarnya baru-baru ini. Dominasi pasar AS, yang menyumbang porsi besar ekspor udang Indonesia, semakin tertekan oleh persaingan ketat dari negara-negara seperti Ekuador dan India. Ekuador, misalnya, unggul berkat infrastruktur logistik yang lebih efisien dan skala produksi intensif, sehingga mampu menawarkan harga lebih rendah di pasar global.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa tantangan ini bukan hanya bersifat eksternal. Banyak tambak udang di Lampung masih mengandalkan metode budidaya tradisional, yang membuatnya rentan terhadap wabah penyakit dan fluktuasi lingkungan. Transisi ke teknologi modern, seperti sistem bioflok atau recirculating aquaculture systems (RAS), dianggap krusial untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan terhadap risiko penyakit. Chusnunia Chalim mengusulkan pendekatan pembinaan terintegrasi, mulai dari modernisasi infrastruktur tambak hingga penguatan diplomasi perdagangan.

Salah satu rekomendasi utama adalah konsolidasi petambak kecil ke dalam kelompok manajemen profesional. Langkah ini tidak hanya akan meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memudahkan akses terhadap pembiayaan murah, seperti skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus sektor akuakultur dengan suku bunga rendah. Konsolidasi semacam ini telah terbukti efektif di negara kompetitor, di mana skala usaha besar memungkinkan investasi teknologi dan pengendalian kualitas yang lebih baik.
Di sisi pasar, diversifikasi tujuan ekspor menjadi prioritas mendesak. Negara-negara seperti China, Jepang, Uni Emirat Arab, dan kawasan Uni Eropa menawarkan peluang besar dengan permintaan stabil dan regulasi yang relatif lebih fleksibel dibandingkan AS. Pemanfaatan perjanjian perdagangan bilateral atau multilateral, seperti Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), dapat mengurangi hambatan tarif dan memperluas akses pasar. Strategi ini sejalan dengan tren global, di mana produsen utama seperti Ekuador dan India semakin mengalihkan fokus ke pasar Asia dan Timur Tengah untuk mengimbangi ketidakpastian di Barat.
Para ahli ekonomi perikanan menilai bahwa kebangkitan industri udang Lampung tidak hanya berdampak pada perekonomian daerah, tetapi juga kontribusi nasional terhadap devisa dari sektor kelautan. Dengan potensi lahan tambak yang luas dan pengalaman panjang, Lampung berpeluang kembali menjadi motor penggerak ekspor udang Indonesia, asalkan didukung kebijakan yang berorientasi pada inovasi, keberlanjutan, dan diversifikasi. Upaya kolektif antara pemerintah, legislatif, dan pelaku usaha diharapkan dapat mengubah tantangan 2025 menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Pewarta : Yudha Purnama

