RI News. Dubai, United Arab Emirates – Memasuki bulan kedua konflik bersenjata antara Amerika Serikat bersama Israel melawan Iran, dinamika pertempuran semakin menunjukkan pola perang asimetris. Iran, meski menghadapi serangan udara intensif dari dua kekuatan militer paling maju, berhasil mempertahankan pengaruh strategisnya melalui pengendalian parsial Selat Hormuz — jalur vital yang selama ini menjadi arteri utama pasokan energi dunia.
Analis keamanan Timur Tengah mencatat bahwa Teheran tidak berupaya mengalahkan lawannya secara konvensional. Sebaliknya, Republik Islam menerapkan pendekatan “bertahan untuk menang” (survive to claim victory). Dengan sumber daya yang semakin terbatas, Iran mampu menimbulkan dampak ekonomi global yang signifikan hanya melalui ancaman dan pengendalian lalu lintas maritim di selat sempit tersebut.
Selat Hormuz, yang biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia, kini berubah menjadi zona pengawasan ketat. Iran secara selektif mengizinkan kapal tertentu melintas dengan “biaya” yang ditentukan sendiri, sementara sebagian besar lalu lintas terhenti. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak tajam, pasar saham mengalami tekanan, dan biaya produksi serta transportasi berbagai barang kebutuhan pokok ikut meningkat di banyak negara, termasuk di Asia sebagai konsumen utama.

Keunggulan geografis dan doktrin pertahanan Iran menjadi faktor kunci. Negara pegunungan seluas hampir Alaska ini menyediakan ruang luas untuk menyembunyikan aset militer. Pangkalan bawah tanah, peluncur rudal mobile yang disamarkan sebagai kendaraan sipil, serta taktik “tembak dan lari” (shoot and scoot) memungkinkan Iran terus mengancam kapal-kapal di perairan tersebut meski angkatan lautnya telah mengalami kerusakan berat.
Pendekatan ini bukan hal baru. Selama puluhan tahun, Iran telah melatih kelompok-kelompok sekutunya — dari Houthi di Yaman hingga milisi Syiah di Irak — untuk menggunakan taktik gerilya serupa guna mengganggu jalur perdagangan internasional. Kini, strategi itu diterapkan langsung oleh Tehran sendiri, menjadikan Selat Hormuz sebagai alat tekanan utama dalam menghadapi superioritas udara lawan.
Di sisi lain, ekonomi Iran yang telah lama terisolasi akibat sanksi internasional justru relatif tahan terhadap guncangan yang ditimbulkannya sendiri. Sementara itu, negara-negara importir minyak di seluruh dunia — termasuk sekutu AS — merasakan dampak langsung berupa inflasi energi yang dapat memengaruhi stabilitas politik domestik.
Presiden AS Donald Trump telah beberapa kali menunda batas waktu ultimatum bagi Iran untuk membuka kembali selat tersebut secara penuh, dengan ancaman serangan terhadap infrastruktur pembangkit listrik. Deadline terbaru ditetapkan pada 6 April pukul 20.00 waktu Timur. Namun, hingga kini, Teheran menunjukkan ketangguhan dan terus menolak syarat-syarat yang dianggapnya tidak realistis, sambil mengajukan tuntutan balik termasuk pengakuan kedaulatan atas selat dan kompensasi kerusakan perang.
Para pengamat mencatat adanya celah potensial yang bisa dieksploitasi pihak lawan jika konflik berlarut. Di dalam negeri Iran, ingatan masyarakat terhadap represi protes massal awal tahun ini masih kuat, dan perekrutan anak muda ke pasukan paramiliter Basij menandakan tekanan pada sumber daya manusia militer. Kepemimpinan pusat juga tampak melemah, dengan laporan bahwa pemimpin tertinggi baru belum muncul secara publik.
Meski demikian, pakar strategi pertahanan mengingatkan bahwa demonstrasi kekuatan militer semata jarang berhasil memaksa pihak yang lebih lemah secara konvensional menyerah sepenuhnya. “Iran memahami keterbatasannya di medan tempur langsung, sehingga tujuannya adalah bertahan cukup lama hingga dapat mengklaim kemenangan politik dan naratif,” ujar seorang analis keamanan regional.

Konflik ini semakin memperlihatkan kerapuhan rantai pasok energi global terhadap gangguan di titik-titik sempit strategis. Bagi Washington dan Tel Aviv, tantangannya bukan hanya membuka Selat Hormuz, melainkan juga menemukan jalan keluar yang tidak memicu eskalasi lebih luas yang justru dapat merugikan ekonomi dunia lebih dalam lagi.
Sementara negosiasi tidak resmi terus diklaim berlangsung di balik layar, kedua pihak tampak masih saling menguji batas ketahanan masing-masing. Dalam perang asimetris seperti ini, pemenang sering kali bukan pihak yang paling kuat secara militer, melainkan yang paling mampu bertahan dalam dimensi waktu dan ekonomi.
Pewarta : setiawan Wibisono

