RI News Portal. Simalungun 17 Desember 2025 – Di tengah ancaman degradasi ekosistem perairan akibat aktivitas budidaya intensif dan spesies invasif, sebuah inisiatif kolaboratif dilaksanakan di kawasan Nagori Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun. Kegiatan penaburan benih ikan nila dan ikan mas (emas) menjadi wujud nyata komitmen bersama antara aparatur militer, kepolisian, pemerintah daerah, dan komunitas nelayan tradisional untuk memulihkan keseimbangan hayati Danau Toba.
Inisiatif ini dipimpin oleh Kapten Inf P. Sitorus, yang bertindak sebagai perwakilan komando distrik militer setempat, dengan dukungan dari unsur kepolisian sektor wilayah Parapat, kelompok perikanan lokal, serta nelayan tradisional Nagori Sibaganding. Kegiatan tersebut juga melibatkan partisipasi luas dari pemangku kepentingan daerah, termasuk bupati dan wakil bupati Kabupaten Simalungun, perwakilan kejaksaan, legislatif lokal, camat setempat, kepala dinas ketahanan pangan dan perikanan, dinas lingkungan hidup, balai pengelolaan sumber daya air wilayah Sumatera, serta tokoh masyarakat dan kelompok perempuan setempat.
Restocking benih ikan jenis nila dan mas dipilih karena keduanya merupakan spesies yang adaptif terhadap kondisi perairan Danau Toba, sekaligus menjadi sumber protein utama bagi masyarakat pesisir. Langkah ini tidak hanya bertujuan meningkatkan populasi ikan tangkapan, tetapi juga menekan dominasi spesies predator invasif yang telah mengganggu rantai makanan alami. Dalam konteks ekologis, Danau Toba sebagai danau vulkanik terbesar di Asia Tenggara menghadapi tantangan eutrofikasi dan penurunan keanekaragaman hayati akibat limbah organik dari keramba jaring apung serta perubahan iklim.

Kapten Inf P. Sitorus menekankan bahwa kegiatan ini merupakan respons konkret terhadap kebutuhan pelestarian aset alam nasional. “Danau Toba bukan sekadar sumber daya ekonomi, melainkan warisan bersama yang harus dijaga keberlanjutannya. Peningkatan stok ikan melalui restocking diharapkan memberikan multiplier effect: keseimbangan ekosistem yang lebih baik dan peningkatan kesejahteraan ekonomi bagi nelayan tradisional,” ujarnya.
Suasana kegiatan dipenuhi semangat gotong royong, di mana nelayan tradisional secara langsung terlibat dalam proses penaburan benih. Partisipasi aktif ini mencerminkan kesadaran kolektif bahwa keberlanjutan Danau Toba bergantung pada harmoni antara manusia dan lingkungan. Berbeda dari upaya restocking sebelumnya yang sering bersifat sektoral, inisiatif kali ini menonjolkan integrasi lintas institusi, termasuk militer dan kepolisian, sebagai model sinergi yang dapat direplikasi di kawasan danau lainnya di Indonesia.
Baca juga : Penangkapan Pengedar Sabu di Kafe Simalungun: Peran Intelijen Masyarakat dalam Pemberantasan Narkotika
Dari perspektif akademis, kegiatan semacam ini selaras dengan prinsip pengelolaan sumber daya perikanan berkelanjutan, sebagaimana direkomendasikan dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDG) 14 tentang kehidupan bawah air. Dengan melibatkan komunitas basis, inisiatif ini berpotensi menjadi studi kasus efektif dalam mengatasi trade-off antara eksploitasi ekonomi dan konservasi ekosistem di perairan darat tropis.
Keberhasilan jangka panjang bergantung pada monitoring pasca-restoking dan penguatan regulasi terhadap praktik budidaya yang tidak ramah lingkungan. Jika konsisten, langkah ini dapat menjadi fondasi bagi pemulihan populasi ikan endemik dan peningkatan resiliensi ekosistem Danau Toba menghadapi tekanan antropogenik di masa depan.
Pewarta : Jhon Sinaga

