RI News. Beirut – Hanya beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, serangan udara Israel yang masif menghantam kawasan komersial dan pemukiman padat di pusat Beirut pada Rabu (8 April 2026). Serangan ini menewaskan sedikitnya 182 warga sipil dan melukai hampir 900 orang lainnya, menjadi hari paling mematikan dalam konflik Israel-Hizbullah yang telah berlangsung lebih dari lima minggu.
Militer Israel menyebut operasi tersebut sebagai serangan terkoordinasi terbesar sejak pecahnya perang pada 2 Maret lalu. Dalam waktu singkat hanya 10 menit, lebih dari 100 target diklaim berhasil dihantam di Beirut, Lebanon selatan, dan Lembah Bekaa timur. Sasaran utama, menurut Israel, adalah peluncur roket, pusat komando, dan infrastruktur intelijen Hizbullah.
Namun, saksi mata dan pejabat Lebanon menolak klaim tersebut. Mereka menegaskan bahwa serangan justru menghantam area pemukiman biasa, termasuk gedung apartemen di kawasan Corniche al Mazraa yang ramai. Puing-puing berasap, mayat hangus di persimpangan jalan, serta ambulans yang berpacu di antara kobaran api menjadi pemandangan menyedihkan di siang bolong yang semula cerah.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Iran karena kehadiran kelompok Hizbullah. “Itu adalah konflik terpisah,” ujarnya. Pernyataan ini sejalan dengan sikap Israel yang menegaskan perang melawan Hizbullah yang didukung Iran tetap berlanjut meski ada jeda sementara di front Iran.
Serangan ini langsung memicu reaksi keras dari pemerintah Lebanon. Menteri Sosial Haneed Sayed menyebutnya sebagai “titik balik yang sangat berbahaya”. “Separuh pengungsi internal berada di kawasan ini. Serangan kini mengenai jantung Beirut,” katanya. Perdana Menteri Nawaf Salam menuduh Israel melakukan eskalasi pada saat Lebanon sedang berupaya mencari solusi damai melalui negosiasi. Sementara Presiden Joseph Aoun menggambarkan serangan tersebut sebagai “tindakan barbar” yang mengabaikan hukum humaniter internasional.
Hingga Rabu malam, total korban tewas dalam konflik ini telah mencapai 1.739 orang, dengan lebih dari 5.800 luka-luka. Lebih dari satu juta warga Lebanon terpaksa mengungsi, banyak di antaranya tinggal di tenda-tenda pinggir jalan atau kamp darurat di tepi pantai Beirut.
Baca juga : Gencatan Senjata Rapuh AS-Iran: Selat Hormuz dan Ketidakpastian Nuklir Mengancam Stabilitas Timur Tengah
Ironisnya, pagi harinya banyak pengungsi mulai berkemas untuk pulang setelah mendengar kabar gencatan senjata dengan Iran. Harapan itu pupus seketika. Fadi Zaydan (35), seorang pengungsi dari Nabatieh, mengungkapkan keputusasaannya: “Kami tidak tahan lagi tidur di tenda tanpa mandi, tanpa kepastian. Kami sudah siap pulang, tapi sekarang harus menunggu lagi.”
Di sisi lain, Iran merespons dengan menghentikan kembali pergerakan kapal tanker minyak di Selat Hormuz, sebuah langkah yang berpotensi memperburuk ketegangan ekonomi global. Sementara Hizbullah, meski belum melancarkan serangan balasan signifikan dalam jam-jam pertama, menyatakan tidak akan menerima kembalinya situasi sebelum perang—di mana Israel kerap melakukan serangan harian meski ada kesepakatan gencatan senjata sebelumnya.

Analisis akademis sementara menunjukkan bahwa serangan ini memperlihatkan kompleksitas konflik Timur Tengah: gencatan senjata di satu front tidak serta-merta membawa perdamaian di front lain. Eskalasi di Beirut juga menimbulkan pertanyaan serius tentang perlindungan warga sipil dan prinsip proporsionalitas dalam hukum perang internasional.
Saat ini, Lebanon menyatakan kesiapan bernegosiasi langsung dengan Israel untuk mengakhiri permusuhan. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada respons positif dari pihak Israel. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz bahkan memperingatkan pemimpin Hizbullah bahwa “gilirannya akan tiba”.
Konflik yang berkepanjangan ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur dan merenggut nyawa, tetapi juga memperdalam trauma kolektif masyarakat Lebanon yang telah lama menjadi arena perebutan pengaruh regional.
Pewarta : Setiawan Wibisono

