
RI News Portal. Semarang 27 Agustus 2025 — Di tengah eskalasi konflik Israel-Hamas yang telah berlangsung selama 22 bulan, serangan militer Israel terhadap Rumah Sakit Nasser di Gaza selatan pada 25 Agustus 2025 menewaskan setidaknya 20 orang, termasuk lima jurnalis dan pekerja kesehatan. Insiden ini, yang digambarkan sebagai “serangan ganda” atau double-tap strike, memicu kecaman global dan menimbulkan pertanyaan mendalam tentang etika perang modern serta perlindungan terhadap fasilitas medis dan wartawan di zona konflik.
Serangan pertama terjadi pada lantai atas salah satu gedung rumah sakit, menewaskan juru kamera Reuters, Hussam al-Masri, yang sedang melakukan siaran langsung. Menurut saksi mata, termasuk rekan jurnalis dan staf medis, al-Masri sedang merekam kondisi rumah sakit ketika ledakan menghantam. Tak lama kemudian, saat pekerja kesehatan, jurnalis, dan keluarga pasien bergegas ke lokasi melalui tangga eksternal untuk memberikan pertolongan, serangan kedua dilancarkan, menewaskan 18 orang tambahan. Di antara korban adalah Mohammad Salama dari Al Jazeera, Mariam Dagga yang bekerja untuk Associated Press, serta pekerja kesehatan seperti Jumaa al-Najjar dan sopir darurat Imad al-Shaar.
Militer Israel (IDF) menyatakan bahwa target utama adalah kamera pengintai yang diyakini digunakan oleh Hamas untuk memantau pasukan mereka. Namun, penyelidikan awal IDF tidak memberikan bukti konkret bahwa kamera tersebut milik Hamas, dan pernyataan ini bertentangan dengan laporan bahwa kamera itu sebenarnya milik tim Reuters. Pejabat senior Hamas, Bassem Naim, membantah klaim tersebut, menyebutnya sebagai alasan palsu untuk menyerang fasilitas sipil. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut insiden ini sebagai “kecelakaan tragis,” sementara kepala staf militer mengakui adanya “celah” dalam investigasi, termasuk jenis amunisi yang digunakan.

Pola serangan ganda ini—di mana serangan kedua menargetkan penolong—telah menjadi ciri khas dalam konflik kontemporer, seperti yang terlihat di Ukraina dan Suriah, dan sering dikritik karena meningkatkan risiko bagi warga sipil dan pekerja kemanusiaan.
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mencatat bahwa perang Israel-Hamas telah menjadi salah satu konflik paling mematikan bagi wartawan, dengan 189 jurnalis Palestina tewas sejak Oktober 2023, mayoritas akibat tembakan Israel. Insiden terbaru ini mendorong CPJ untuk menuntut investigasi independen, sementara Kantor Hak Asasi Manusia PBB menyatakan bahwa pembunuhan jurnalis di Gaza harus “mendorong dunia ke aksi, bukan diam.”
Pemimpin global seperti Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan skeptisisme bahwa serangan itu sengaja menargetkan jurnalis, tetapi seruan untuk akuntabilitas datang dari berbagai pihak, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menuntut penyelidikan mendalam. Surat bersama dari Associated Press dan Reuters menekankan bahwa 197 pekerja media telah tewas di wilayah tersebut sejak awal perang, menyoroti pola sistematis yang mengancam kebebasan pers.
Di platform media sosial seperti X (sebelumnya Twitter), diskusi publik menyoroti kontradiksi dalam narasi Israel, dengan pengguna menunjukkan bagaimana Reuters awalnya salah menggambarkan kameranya sendiri sebagai “kamera Hamas” sebelum merevisinya.
Baca juga : Panglima TNI Pimpin Sertijab Perwira Tinggi dan Resmikan Satuan Baru di Mabes TNI
Dari perspektif hukum internasional, Konvensi Jenewa secara tegas melarang serangan terhadap rumah sakit kecuali jika digunakan untuk tujuan militer, dan bahkan dalam kasus itu, serangan harus proporsional serta meminimalkan korban sipil. Israel sering mengklaim bahwa Hamas menyusup ke fasilitas medis, tetapi bukti yang diberikan jarang independen diverifikasi. Kasus ini menambah daftar panjang serangan terhadap rumah sakit Gaza, yang menurut para ahli seperti dari Euro-Med Human Rights Monitor, merupakan “kebohongan terang-terangan” yang melanggar prinsip distingsi dan proporsionalitas.
Secara akademis, insiden ini mencerminkan dinamika asimetris dalam konflik urban, di mana teknologi militer canggih seperti tank dan drone digunakan di area padat penduduk, meningkatkan risiko kolateral. Studi dari jurnal seperti International Review of the Red Cross menunjukkan bahwa pola double-tap sering dianggap sebagai pelanggaran karena secara efektif menargetkan responden pertama, yang bertentangan dengan kewajiban untuk melindungi pekerja medis dan jurnalis sebagai pihak non-kombatan.
Lebih lanjut, dampaknya terhadap jurnalisme independen tidak bisa diremehkan. Dengan 62.819 korban tewas di Gaza menurut Kementerian Kesehatan setempat—setengahnya perempuan dan anak-anak—hilangnya wartawan lokal menghambat pelaporan obyektif, meninggalkan narasi yang didominasi oleh pihak-pihak yang terlibat. Ini menimbulkan pertanyaan etis tentang peran media dalam konflik berkepanjangan, di mana akses informasi menjadi senjata itu sendiri.
Serangan ini terjadi di tengah persiapan Israel untuk ofensif lebih lanjut ke Kota Gaza, meskipun ada demonstrasi domestik yang menuntut gencatan senjata untuk membebaskan sandera. Hamas masih menahan sekitar 50 sandera dari serangan 7 Oktober 2023, dengan hanya delapan yang diselamatkan hidup oleh Israel. Sementara itu, kelaparan dan malnutrisi telah menewaskan 186 orang sejak Juni, termasuk 117 anak, menurut data PBB yang menganggap angka Kementerian Kesehatan Gaza sebagai sumber terpercaya.
Netanyahu bersikeras bahwa operasi militer adalah kunci untuk melemahkan Hamas, tetapi keluarga sandera seperti Ruby Chen mendesak negosiasi atas proposal gencatan senjata yang ada. Di luar Gaza, serangan Israel ke Yaman terhadap Houthi menunjukkan perluasan konflik regional, menambah kompleksitas geopolitik.
Insiden di Rumah Sakit Nasser bukan hanya tragedi tunggal, melainkan indikator kegagalan sistemik dalam menegakkan norma internasional. Saat dunia menyaksikan, tuntutan akan akuntabilitas harus diterjemahkan menjadi tindakan konkret untuk melindungi kehidupan sipil dan kebenaran di tengah kekacauan perang.
Pewarta : Setiawan Wibisono S.TH
