RI News Portal. Jatisrono, 1 Januari 2026 – Menjelang malam pergantian tahun ke 2026, pedagang musiman kembali menghiasi pinggir jalan di kawasan terminal Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, dengan tumpukan terompet warna-warni. Sejak akhir Desember 2025, lapak-lapak sementara ini menawarkan berbagai bentuk dan ukuran terompet, dengan harga berkisar antara Rp10.000 hingga Rp20.000 per buah. Bagi banyak keluarga, terompet tetap menjadi simbol sederhana kegembiraan dalam menyambut tahun baru, meski hanya bersifat musiman.
Namun, di balik keramaian sementara itu, para pengrajin terompet tradisional dari Kecamatan Bulukerto merasakan perubahan yang signifikan. Sutarno, seorang pengrajin yang telah menekuni pembuatan terompet sejak 1989, mengungkapkan bahwa pesanan kini jauh berkurang dibandingkan masa lalu. “Dulu, sebelum 2015, pesanan bisa mencapai 12.000 hingga 15.000 buah, bahkan dari kota-kota besar seperti Solo dan Jakarta. Sekarang, paling banyak hanya sekitar 5.000 buah,” katanya saat ditemui di sebuah pangkalan di wilayah Jatisrono pada akhir Desember 2025.
Distribusi produk Sutarno yang dulu menjangkau Yogyakarta hingga ibu kota kini menyusut drastis. Mayoritas pembeli saat ini adalah pengecer lokal di Solo dan Yogyakarta, yang membelinya sebagai suvenir pesta akhir tahun. Penurunan ini mencerminkan pergeseran preferensi masyarakat terhadap terompet berbahan plastik massal, yang diproduksi secara semi-industri dengan harga lebih kompetitif dan variasi bentuk yang lebih modern.

Pengalaman serupa dialami Warsono, pengrajin dari Desa Domas, Bulukerto. Ia mencatat bahwa terompet berbahan kertas buatannya semakin kurang diminati, digantikan oleh versi plastik yang lebih tahan lama dan mudah didapat. “Meski begitu, produk kertas dari sini masih ada pasarnya, terutama untuk anak-anak karena harganya terjangkau dan ramah di tangan kecil,” ujarnya.
Fenomena ini bukan hanya lokal di Wonogiri, melainkan bagian dari tren nasional di mana tradisi meniup terompet tahun baru mulai bergeser. Perayaan semakin condong ke bentuk yang lebih sederhana dan ramah lingkungan, dengan fokus pada kebersamaan keluarga daripada atribut meriah seperti terompet atau kembang api. Pengrajin seperti Sutarno dan Warsono, yang mewarisi keterampilan kerajinan tangan ini dari generasi sebelumnya, kini menghadapi tantangan mempertahankan usaha musiman yang pernah menjadi andalan ekonomi pedesaan.
Baca juga : Inkonsistensi Pernyataan Aparat Desa dalam Polemik Dugaan Konversi Lahan Sawah Produktif di Kendal
Di tengah perubahan ini, terompet tradisional dari Bulukerto tetap menyimpan nilai budaya sebagai warisan kerajinan lokal, meski masa depannya bergantung pada bagaimana masyarakat menyikapi evolusi tradisi pergantian tahun.
Pewarta : Nandar Suyadi

