RI News Portal. Moscow — Moskow dan Beijing semakin mempertegas posisi mereka sebagai penyeimbang utama tatanan internasional yang didominasi Barat. Dalam panggilan video yang berlangsung Rabu lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin China Xi Jinping menegaskan komitmen untuk memperdalam kerja sama strategis di berbagai bidang, mulai dari energi hingga teknologi tinggi, sambil secara terbuka menyatakan pandangan yang hampir seragam terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Pertemuan virtual tersebut berlangsung di tengah situasi geopolitik yang semakin kompleks. Rusia terus menghadapi tekanan sanksi ekonomi Barat akibat konflik Ukraina, sementara China menghadapi upaya pembatasan teknologi dan perdagangan dari Washington. Dalam konteks ini, kedua pemimpin menilai hubungan bilateral mereka sebagai “faktor penstabil utama” di tengah gejolak global yang terus meningkat.
Putin menegaskan kembali dukungan penuh terhadap “kedaulatan, keamanan, kesejahteraan sosial-ekonomi, serta hak menentukan jalur pembangunan sendiri” bagi kedua negara. Xi Jinping, di sisi lain, menekankan pentingnya memanfaatkan “peluang bersejarah” untuk memperdalam kerja sama strategis yang lebih kokoh, termasuk tanggung jawab bersama sebagai kekuatan besar.

Salah satu poin penting yang muncul adalah undangan resmi Xi kepada Putin untuk berkunjung ke China dua kali dalam tahun ini—pertama pada paruh pertama tahun dan kedua untuk menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik di Shenzhen pada November. Putin langsung menerima undangan tersebut, menandakan bahwa pertemuan tatap muka tingkat tertinggi akan kembali digelar dalam waktu dekat.
Kerja sama ekonomi menjadi sorotan utama. Putin memuji hubungan energi yang disebutnya “strategis”, kerja sama nuklir damai, serta proyek teknologi tinggi di sektor industri dan antariksa. Ia juga secara khusus mengapresiasi kebijakan China yang memberikan akses bebas visa bagi warga Rusia—langkah yang telah dibalas dengan kebijakan serupa dari Moskow.
Dalam pembicaraan tersebut, kedua pemimpin juga menyampaikan pandangan yang “praktis sama” mengenai hubungan dengan Amerika Serikat, termasuk penilaian terhadap berbagai inisiatif diplomatik baru yang muncul dari Washington. Meski demikian, mereka menegaskan komitmen pada prinsip kerja sama yang setara dan saling menguntungkan berdasarkan hukum internasional serta Piagam PBB.
Baca juga : Akhir Era Pengendalian Nuklir: Dunia Memasuki Babak Perlombaan Senjata Tanpa Batas
Putin kembali menegaskan dukungan Rusia terhadap kebijakan “Satu China” Beijing terkait Taiwan. Sementara itu, Xi dan Putin juga membahas situasi di Iran, Venezuela, serta Kuba, dengan kesepakatan untuk mempertahankan tingkat kerja sama yang telah terjalin dengan ketiga negara tersebut.
Panggilan tersebut berlangsung hanya beberapa jam sebelum Xi melakukan pembicaraan terpisah dengan Presiden AS Donald Trump. Isu Iran menjadi salah satu topik utama dalam komunikasi Beijing-Washington, di samping berbagai persoalan perdagangan, Taiwan, dan rencana kunjungan Trump ke China pada bulan April mendatang.

Para pengamat menilai, rangkaian komunikasi tingkat tinggi ini mencerminkan upaya ketiga kekuatan besar tersebut untuk saling mengukur posisi di tengah ketidakpastian tatanan global yang terus berubah. Bagi Moskow dan Beijing, penguatan poros kerja sama bilateral bukan sekadar respons terhadap tekanan Barat, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk membentuk tatanan internasional yang lebih multipolar dan tidak lagi bergantung pada satu pusat kekuatan.
Dengan jadwal kunjungan timbal balik yang semakin padat dan agenda kerja sama yang semakin luas, hubungan Rusia-China diproyeksikan akan memainkan peran yang semakin menentukan dalam dinamika politik dan ekonomi dunia di tahun-tahun mendatang.
Pewarta : Anjar Bramantyo

