RI News. Seoul, Korea Utara, 9 April 2026 – Korea Utara kembali melakukan serangkaian peluncuran rudal balistik jarak pendek ke arah Laut Timur dalam waktu dua hari berturut-turut. Kejadian ini terjadi hanya beberapa jam setelah pejabat tinggi Pyongyang melontarkan kritik keras dan hinaan terhadap upaya Seoul untuk membuka kembali jalur dialog.
Menurut Joint Chiefs of Staff Korea Selatan, pada Rabu pagi sekitar pukul 08.50 waktu setempat, beberapa rudal balistik jarak pendek diluncurkan dari wilayah pesisir timur Wonsan. Rudal-rudal tersebut masing-masing menempuh jarak sekitar 240 kilometer sebelum jatuh di perairan timur Korea Utara. Tak lama kemudian, pada sore hari, satu rudal balistik lagi ditembakkan dari lokasi yang sama dan terbang lebih jauh, mencapai jarak lebih dari 700 kilometer. Kementerian Pertahanan Jepang menyatakan rudal tersebut jatuh di luar zona ekonomi eksklusif (ZEE) negaranya.
Peluncuran ini merupakan kelanjutan dari aktivitas serupa pada Selasa, di mana sebuah proyektil tak dikenal diluncurkan dari wilayah ibu kota Pyongyang, meskipun tampaknya mengalami kegagalan teknis pada tahap awal.

Komando Indo-Pasifik Amerika Serikat menegaskan bahwa peluncuran-peluncuran tersebut tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap personel, wilayah AS, maupun sekutunya. Sementara itu, militer Korea Selatan menyatakan tetap dalam kesiagaan tinggi untuk menghadapi segala bentuk provokasi, dengan dukungan aliansi pertahanan yang solid bersama Washington.
Serangkaian peluncuran ini muncul di tengah penolakan tegas Pyongyang terhadap harapan pemerintah liberal Seoul untuk memulihkan dialog yang telah lama terputus. Presiden Lee Jae Myung sebelumnya menyampaikan penyesalan atas dugaan penerbangan drone sipil ke wilayah utara. Respons Kim Yo Jong, saudari berpengaruh Kim Jong Un, yang sempat memuji “kejujuran dan keberanian” Lee, sempat ditafsirkan Seoul sebagai sinyal positif.
Namun, Wakil Menteri Pertama Kementerian Luar Negeri Korea Utara, Jang Kum Chol, dengan cepat membantah interpretasi tersebut. Ia menegaskan bahwa Korea Selatan akan selalu menjadi “musuh paling bermusuhan” bagi Pyongyang. Jang bahkan menyebut Seoul sebagai “orang-orang bodoh yang menghebohkan dunia” yang terjebak dalam angan-angan, serta mengutip kritik tajam Kim Yo Jong yang menyamakan Korea Selatan dengan “anjing kudisan yang menggonggong mengikuti tetangganya” – merujuk pada dukungan Seoul terhadap resolusi PBB tentang isu hak asasi manusia di Korea Utara.
Pernyataan-pernyataan keras ini memperjelas bahwa Pyongyang tidak tertarik pada pendekatan dialogis yang ditawarkan Seoul saat ini.
Para pengamat melihat peluncuran rudal berturut-turut ini bukan sekadar demonstrasi kekuatan biasa, melainkan bagian dari upaya sistematis Pyongyang untuk memperkuat kemampuan militer strategisnya. Beberapa waktu lalu, Kim Jong Un menyaksikan uji coba mesin roket berbahan bakar padat yang ditingkatkan. Mesin tersebut diklaim memiliki daya dorong lebih tinggi dan menggunakan material komposit karbon fiber canggih.
Rudal berbahan bakar padat memiliki keunggulan signifikan: lebih mudah dipindahkan, lebih cepat diluncurkan, dan sulit dideteksi dibandingkan rudal berbahan bakar cair. Badan intelijen Korea Selatan memperkirakan pengembangan ini terkait dengan ambisi membangun rudal balistik antarbenua (ICBM) berbahan bakar padat yang mampu membawa beberapa hulu ledak nuklir sekaligus.
Meski para ahli meragukan Pyongyang telah sepenuhnya menguasai teknologi multiple independently targetable reentry vehicle (MIRV), upaya ini jelas menunjukkan tekad Korea Utara untuk meningkatkan kemampuan penetrasi terhadap sistem pertahanan rudal Amerika Serikat.

Penolakan Pyongyang terhadap dialog dengan Seoul dan Washington berlangsung sejak kegagalan diplomasi Kim Jong Un dengan mantan Presiden AS Donald Trump pada 2019. Sejak saat itu, Korea Utara semakin mendekatkan diri dengan Rusia dan China, dua negara yang tengah bersaing secara strategis dengan Barat.
Kunjungan Menteri Luar Negeri China Wang Yi ke Pyongyang yang dijadwalkan pada hari Kamis menambah dinamika menarik. Pertemuan ini kemungkinan akan membahas kerja sama lebih erat di tengah ketegangan regional yang terus meningkat.
Secara keseluruhan, serangkaian provokasi militer terbaru ini memperkuat persepsi bahwa Korea Utara memilih jalur konfrontasi dan pengembangan senjata daripada rekonsiliasi. Bagi Seoul dan Washington, hal ini menjadi pengingat bahwa pendekatan diplomasi harus dibarengi dengan kewaspadaan pertahanan yang tinggi, sementara bagi komunitas internasional, situasi ini semakin menegaskan kompleksitas tantangan keamanan di kawasan Asia Timur Laut.
Berita ini disusun berdasarkan laporan resmi militer Korea Selatan, pernyataan pejabat terkait, serta analisis para ahli strategis. Situasi terus berkembang dan akan dipantau secara ketat oleh berbagai pihak.
Pewarta : Anjar Bramantyo

