RI News Portal. KYIV, Ukraine 30 Desember 2025 – Perkembangan terkini dalam upaya mengakhiri konflik Ukraina-Rusia menunjukkan adanya kemajuan diplomatik yang signifikan, meskipun masih diwarnai oleh hambatan substantif dan eskalasi di lapangan. Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada 28 Desember 2025 di Florida menjadi titik fokus, di mana keduanya melaporkan kesepakatan hampir penuh pada kerangka perdamaian 20 poin yang sedang dirundingkan.
Menurut pernyataan kedua pemimpin, sekitar 90% dari rencana tersebut telah disepakati, dengan jaminan keamanan dari AS menjadi elemen yang paling maju—disebut sebagai “100% sepakat” oleh Zelenskyy, meskipun Trump memberikan penilaian sedikit lebih rendah. Jaminan ini diusulkan berlangsung selama 15 tahun, walaupun Zelenskyy menyatakan preferensi hingga 50 tahun untuk mencegah agresi Rusia di masa depan. Rencana tersebut mencakup mekanisme pemantauan internasional dan kemungkinan kehadiran pasukan mitra, meski Rusia secara tegas menolak penempatan pasukan NATO di wilayah Ukraina.
Isu-isu krusial yang belum terselesaikan meliputi nasib wilayah Donbas timur—khususnya bagian yang masih dikuasai Ukraina—dan pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia, fasilitas terbesar di Eropa yang saat ini berada di bawah kendali Rusia. Usulan AS untuk pengoperasian bersama antara Ukraina, Rusia, dan AS ditolak oleh Kyiv, yang lebih memilih keterlibatan eksklusif dengan Washington. Selain itu, proposal zona demiliterisasi atau zona ekonomi bebas di Donbas menjadi opsi kompromi, dengan kemungkinan referendum nasional di Ukraina sebagai mekanisme legitimasi, meskipun hal ini memerlukan gencatan senjata minimal 60-90 hari yang belum disetujui Moskwa.

Diplomasi intensif melibatkan komunikasi langsung Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin sebelum dan sesudah pertemuan dengan Zelenskyy, yang digambarkan sebagai “produktif” oleh kedua belah pihak. Namun, tuduhan Rusia bahwa Ukraina mencoba menyerang kediaman Putin dengan drone jarak jauh pada malam setelah pertemuan Florida—yang dibantah keras oleh Zelenskyy sebagai “kebohongan” untuk mengganggu proses—menambah ketegangan. Insiden ini memicu peringatan dari Moskwa bahwa posisi negosiasinya akan ditinjau ulang.
Di sisi militer, Rusia terus melaporkan kemajuan di Donetsk timur dan Zaporizhzhia selatan, meskipun dengan biaya tinggi. Analis independen mencatat bahwa laju kemajuan Rusia sepanjang 2025 relatif lambat, dengan penguasaan wilayah kurang dari 1% luas Ukraina, meski disertai serangan intensif terhadap infrastruktur energi dan sipil Ukraina. Serangan drone dan misil besar-besaran terhadap Kyiv dan kota-kota lain baru-baru ini dilihat sebagai upaya Moskwa untuk memperkuat posisi tawar-menawarnya.
Kontribusi Eropa semakin krusial, dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan pertemuan “koalisi negara bersedia” di Paris pada awal Januari 2026 untuk menyelesaikan kontribusi konkret masing-masing negara terhadap jaminan keamanan. Mekanisme ini diharapkan mencakup lapisan pertahanan bertahap, termasuk komitmen mirip Pasal 5 NATO sebagai penyangga utama.
Dari perspektif akademis, dinamika ini mencerminkan ketegangan klasik dalam negosiasi perdamaian: antara prinsip kedaulatan teritorial (sebagaimana ditegaskan Ukraina dan sekutunya) dan realisme kekuatan (yang ditekankan Rusia melalui kemajuan militer). Keberhasilan proses bergantung pada kemampuan Trump untuk menjembatani kedua pihak, sementara risiko kegagalan tetap tinggi jika isu teritorial dan keamanan tidak menemukan kompromi yang dapat diterima. Opini publik di Ukraina, seperti yang tercermin dari wawancara dengan veteran dan warga sipil, menunjukkan skeptisisme mendalam terhadap niat Rusia, dengan penekanan pada perlunya jaminan kuat untuk mencegah pengulangan agresi.
Secara keseluruhan, meskipun optimisme diplomatik meningkat, perdamaian sejati memerlukan konsesi timbal balik yang belum sepenuhnya terlihat. Pertemuan mendatang di Paris dan kemungkinan lanjutan di Washington akan menjadi ujian kunci bagi prospek penyelesaian berkelanjutan.
Pewarta : Anjar Bramantyo

