RI News Portal. Jakarta, 2 November 2025 – Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan resmi meluncurkan program Kebun Pangan Perempuan sebagai inisiatif strategis untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga dan memastikan pemenuhan gizi anak di tingkat desa. Program ini menitikberatkan pada peran perempuan sebagai agen utama dalam pengelolaan sumber daya pangan lokal, dengan fokus awal pada tujuh kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam peluncuran yang dilakukan secara daring dan luring, Veronica Tan menekankan bahwa inisiatif ini melibatkan kelompok perempuan dari berbagai komunitas di wilayah tersebut. “Perempuan memegang pengetahuan inti tentang pangan dan keberlanjutan keluarga, sehingga program ini dirancang untuk mengoptimalkan potensi mereka dalam menciptakan sistem pangan yang mandiri,” ujarnya dalam keterangan pers pada Minggu (2/11/2025).
Program ini menetapkan tiga tujuan pokok: pelestarian tanaman lokal yang adaptif terhadap iklim kering Flores, pelestarian kuliner tradisional sebagai warisan budaya, serta penyediaan pangan segar berkualitas tinggi untuk mendukung pertumbuhan anak. “Kebun Pangan Perempuan bukan sekadar proyek agraris, melainkan mekanisme pemberdayaan yang mengintegrasikan aspek ekonomi, kesehatan, dan lingkungan di tingkat desa,” tambah Veronica.

Sebagai langkah awal, model kebun akan direplikasi di Desa Wogo, Kabupaten Ngada, disertai pelatihan intensif selama empat hari bagi kelompok Mama Bambu. Pelatihan ini mencakup teknik budidaya berkelanjutan, pengolahan pasca-panen, dan manajemen keuangan kelompok. Selanjutnya, edukasi akan disebarkan melalui platform School TV yang menjangkau tujuh kabupaten, mulai dari Labuan Bajo di Manggarai Barat hingga Sikka di timur Flores. “Pendekatan ini menggabungkan teori dan praktik secara simultan; kami mendorong pemerintah daerah, desa, universitas, dan masyarakat untuk mempercepat adopsi model serupa guna mencapai skala nasional,” tegas Veronica.
Dari perspektif daerah, Asisten Perekonomian Kabupaten Ngada, Nicolaus Noywuli, menyatakan bahwa program ini selaras dengan prioritas lokal dalam mengendalikan inflasi yang didominasi fluktuasi harga pangan. “Kabupaten Ngada berambisi menjadi pionir produksi pangan segar melalui kelompok perempuan, dengan target pasokan stabil untuk sayur, buah, telur, dan beras yang aman dari kontaminasi,” katanya. Menurut Noywuli, inisiatif ini tidak hanya memperkuat produksi rumah tangga, tetapi juga meningkatkan indeks gizi masyarakat, terutama di kalangan anak-anak yang rentan terhadap stunting akibat keterbatasan akses pangan bergizi.
Analisis akademis terhadap program ini menunjukkan potensi jangka panjang dalam mengatasi disparitas gender di sektor agraria. Studi serupa di wilayah timur Indonesia mengindikasikan bahwa pemberdayaan perempuan melalui kebun komunal dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga hingga 25 persen, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor pangan. Namun, keberhasilan bergantung pada integrasi teknologi sederhana seperti irigasi tetes dan monitoring digital untuk adaptasi perubahan iklim.
Program Kebun Pangan Perempuan ini diharapkan menjadi blueprint nasional untuk pemberdayaan berbasis komunitas, dengan evaluasi berkala untuk memastikan dampak berkelanjutan terhadap ketahanan pangan dan perlindungan anak.
Pewarta : Yudha Purnama

