RI News Portal. Melawi – Di tengah kabut asap yang masih mengancam sebagian wilayah Kalimantan Barat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah melanda ratusan ribu hektare sejak awal tahun ini, petugas kepolisian setempat terus berupaya mencegah penambahan titik api baru melalui pendekatan langsung ke masyarakat.
Pada Rabu (11/2/2026), Bripka Sakkot Girsang, Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Polsek Nanga Pinoh, turun ke lapangan untuk menyosialisasikan kampanye Stop Pembakaran Hutan dan Lahan di dua desa rawan: Desa Kelakik, Kecamatan Nanga Pinoh, serta Desa Tanjung Paoh, Kecamatan Pinoh Utara, Kabupaten Melawi.
Bertemu secara tatap muka dengan warga petani dan tokoh masyarakat, Bripka Sakkot menjelaskan secara rinci bahaya pembakaran lahan sebagai metode pembukaan areal pertanian. Ia menekankan bahwa praktik tersebut tidak hanya merusak ekosistem hutan tropis yang kaya biodiversitas, tetapi juga memicu kabut asap tebal yang mengganggu kesehatan pernapasan, terutama anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru.

“Dampaknya sangat luas: dari penurunan kualitas udara yang memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata dan kulit, hingga risiko jangka panjang seperti gangguan kardiovaskular dan kerusakan lingkungan yang sulit dipulihkan,” ujar Bripka Sakkot dalam dialog tersebut.
Kapolres Melawi AKBP Harris Batara Simbolon, S.I.K., S.H., M.Tr.Opsla., melalui Kapolsek Nanga Pinoh Iptu Jamidi, menyatakan bahwa pendekatan dialog langsung ini terbukti efektif membangun kesadaran kolektif. “Cara ini membuat Polri semakin dekat dengan masyarakat. Kami ingin warga memahami bahwa menjaga alam sama dengan menjaga masa depan generasi mendatang,” terang Iptu Jamidi.
Data terbaru menunjukkan bahwa Provinsi Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah paling terdampak karhutla pada periode Januari hingga pertengahan Februari 2026, dengan luasan terbakar mencapai ratusan ribu hektare yang tersebar di belasan kabupaten dan kota, termasuk Melawi. Meski upaya pemadaman gabungan telah berhasil memadamkan sebagian besar titik api, potensi kebakaran baru tetap tinggi akibat cuaca kering dan praktik pembukaan lahan tradisional.
Baca juga : Debit Sungai Kaligung Melonjak, Jembatan Bersejarah di Bendung Pesayangan Roboh Diterjang Banjir Bandang
Melalui himbauan ini, Polsek Nanga Pinoh mengajak seluruh warga untuk beralih ke metode pembukaan lahan yang ramah lingkungan, seperti membersihkan secara manual atau memanfaatkan teknologi pertanian berkelanjutan. “Kami mengucapkan terima kasih atas kepedulian dan pemahaman warga terhadap bahaya karhutla. Mari bersama-sama jaga Kalbar tetap hijau dan sehat,” tambah Iptu Jamidi.
Upaya preventif semacam ini diharapkan dapat menekan angka kejadian baru, sekaligus memperkuat kemitraan antara aparat keamanan dan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.
Pewarta: Lisa Susanti

