RI News. Jakarta – Kementerian Agama menggelar acara Takjil Pesantren yang dipadukan dengan sesi talkshow mendalam dan Ngaji Bareng Santri di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan. Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian program Ramadhan Direktorat Pesantren bertajuk “San Trend Ramadhan”, yang dirancang untuk memperkuat peran santri di tengah dinamika zaman modern.
Acara yang berlangsung di lingkungan pesantren tersebut mengusung tema “Dari Pesantren untuk Dunia: Proyeksi Santri Masa Depan”. Pendekatan tematik ini menekankan bahwa santri tidak lagi cukup hanya menguasai ilmu agama secara tradisional, melainkan harus siap berkontribusi di berbagai ranah strategis kehidupan berbangsa.
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamarudin Amin, menegaskan visi baru bagi generasi santri saat ini. Menurutnya, tuntutan tafaqquh fiddin (pendalaman agama) tetap menjadi fondasi utama, namun perlu dilengkapi dengan pemahaman mendalam tentang ilmu ketatanegaraan dan nilai-nilai kebangsaan. Hal ini diharapkan memungkinkan santri mengisi posisi-posisi kunci di berbagai sektor.

“Santri masa kini jika bisa tidak hanya memiliki target tafaqquh fiddin tetapi bisa belajar ketatanegaraan juga sehingga bisa sukses di pos-pos strategis,” ujar Kamarudin Amin dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (28/2/2026).
Sementara itu, Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Said Aqil Siradj, menyoroti kekayaan tradisi keilmuan pesantren yang telah teruji ratusan tahun. Ia menjelaskan bahwa pembelajaran di pesantren bertumpu pada tiga pilar fundamental: bayan ilahi (berdasar wahyu Al-Qur’an), bayan nabawi (merujuk sunnah Nabi), serta bayan aqli (pengembangan akal melalui ijtihad ulama, termasuk ijma’ dan qiyas sebagai metode penetapan hukum).
“Pesantren itu kaya, salah satunya karena tradisi kitab kuningnya. Di dalamnya ada bayan ilahi, ada bayan nabawi, dan juga bayan aqli yang melahirkan ijma serta qiyas sebagai metode istinbath hukum,” papar Said Aqil Siradj.
Direktur Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Basnang Said, menambahkan bahwa kegiatan Takjil Pesantren ini hanyalah salah satu elemen dari “San Trend Ramadhan”. Program ini juga mencakup berbagai inisiatif lain seperti Pesantren di Radio, Ramadhan Insight, Ngaji Bandongan Online, serta agenda pendamping lainnya.
Basnang menekankan bahwa tema yang diangkat bukan sekadar retorika, melainkan kompas strategis bagi pembinaan santri ke depan. Ia membayangkan figur santri masa depan yang berakar kuat pada khazanah klasik pesantren, sekaligus adaptif terhadap perkembangan zaman, serta memiliki komitmen kebangsaan yang teguh.
“Santri masa depan yang kita proyeksikan adalah santri yang berakar kuat pada tradisi keilmuan pesantren sebagaimana dicontohkan oleh Kiai Said, menguasai khazanah klasik, tetapi tetap terbuka terhadap perkembangan zaman,” tutur Basnang.
Kegiatan ini mencerminkan upaya berkelanjutan untuk menjembatani warisan keilmuan pesantren dengan tuntutan kontemporer, sehingga santri tidak hanya menjadi penjaga tradisi, melainkan juga aktor perubahan yang relevan di era global.
Pewarta : Yudha Purnama

