RI News. Kyiv, Ukraine. 4 April 2026 — Serangan rudal dan drone Rusia yang masif pada Jumat (3 April) menewaskan sedikitnya delapan orang di berbagai wilayah Ukraina, termasuk di sekitar ibu kota Kyiv. Otoritas setempat melaporkan bahwa serangan kali ini menunjukkan perubahan pola yang signifikan, yaitu peningkatan serangan di siang hari yang berpotensi memperbesar korban jiwa di kalangan penduduk sipil.
Menurut pejabat Ukraina, Kremlin tampaknya sedang mengubah strategi untuk memperburuk penderitaan masyarakat sipil. Selama berbulan-bulan, Rusia lebih banyak melancarkan serangan pada malam hari dengan ratusan drone sekaligus. Kini, serangan siang hari semakin sering dilakukan, termasuk di wilayah Kyiv, Sumy, Kherson, Zhytomyr, Kharkiv, dan Donetsk.
Kepala Administrasi Militer Kyiv Region, Mykola Kalashnyk, menyatakan bahwa wilayah Kyiv kembali menjadi sasaran serangan besar-besaran. Satu orang tewas dan sedikitnya delapan lainnya luka-luka di tiga kota satelit Kyiv, yaitu Bucha, Fastiv, dan Obukhiv. Di wilayah Sumy, sebuah bom udara berpandu menghantam blok apartemen dan menewaskan satu orang. Serangan serupa juga dilaporkan di Kharkiv, di mana dua orang meninggal di rumah sakit setelah luka akibat serangan drone.

Salah seorang warga Obukhiv, Lesia Podoriako (37 tahun), menggambarkan kepanikannya saat mengetahui gedung tempat tinggalnya diserang melalui saluran informasi. “Yang terpenting, semua orang masih hidup dan sehat,” ujarnya, meski trauma yang dialami sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menilai serangan tersebut sebagai respons Moskow terhadap usulan gencatan senjata Paskah yang diajukan Kyiv. “Hampir 500 drone dan rudal jelajah menyerang semalam. Inilah jawaban Moskow terhadap proposal perdamaian kami,” katanya.
Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa Ukraina tetap terbuka terhadap kemungkinan gencatan senjata saat perayaan Paskah pada 12 April mendatang, sesuai kalender Julian yang digunakan Gereja Ortodoks. Usulan tersebut telah disampaikan ke Moskow melalui saluran Amerika Serikat, meski respons Kremlin masih belum jelas. Sebelumnya, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan bahwa Rusia menginginkan penyelesaian damai yang permanen, bukan gencatan senjata sementara.
Zelenskyy juga memperingatkan adanya perubahan taktik udara Rusia berdasarkan data intelijen. Setelah berbulan-bulan menghantam infrastruktur energi, Rusia kini disebut-sebut akan menargetkan sistem logistik seperti kereta api, serta pasokan air dan jaringan penting lainnya. “Kami sedang mempersiapkan diri menghadapi serangan yang lebih luas,” ujarnya dalam konferensi pers.
Di sisi lain, Andrii Kovalenko dari Pusat Penanggulangan Disinformasi Kementerian Pertahanan Ukraina menjelaskan bahwa serangan siang hari sengaja dilakukan pada hari kerja untuk meningkatkan korban sipil. “Itu sebabnya mereka menggunakan jumlah drone dan rudal yang sangat besar pada saat orang-orang sedang beraktivitas,” katanya.
Di medan perang, Zelenskyy menyebut situasi di garis depan relatif stabil dan merupakan kondisi paling menguntungkan bagi Ukraina dalam 10 bulan terakhir, berdasarkan laporan intelijen domestik dan Inggris (MI6). Pasukan Ukraina berhasil menggagalkan beberapa ofensif Rusia dan merebut kembali sebagian kecil wilayah di timur, meski pertempuran masih berlangsung sengit.
Sementara itu, Ukraina juga melancarkan serangan balasan dengan drone ke wilayah Rusia. Dua orang dirawat di rumah sakit di wilayah Leningrad setelah serangan drone yang membakar sebuah gedung industri. Di wilayah Belgorod, 12 orang termasuk tiga tentara Rusia terluka akibat serangan serupa.
Serangan Jumat ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang masih alot. Ukraina telah mengundang negosiator Amerika Serikat ke Kyiv untuk membahas jaminan keamanan jangka panjang dan kerangka penyelesaian konflik, dengan melibatkan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte. Namun, kedua pihak masih saling tuding dan belum menunjukkan tanda kompromi nyata menjelang hari Paskah.
Peristiwa ini semakin menegaskan bahwa perang Rusia-Ukraina memasuki fase baru di mana taktik udara yang lebih agresif berpotensi memperpanjang penderitaan warga sipil, sementara harapan perdamaian sementara masih samar.
Pewarta : Setiawan Wibisono

