RI News Portal. Jakarta, 2 Januari 2026 – Perum Bulog mengawali tahun 2026 dengan posisi stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang kuat, mencapai sekitar 3,25 juta ton. Angka ini merupakan sisa persediaan dari tahun sebelumnya (carry over stock), yang menandai kelanjutan tren positif dalam pengelolaan pangan nasional.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan bahwa stok tersebut menjadi bukti nyata dari pencapaian krusial sepanjang 2025. Pada pertengahan tahun lalu, stok CBP sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah sekitar 4,2 juta ton, sebelum sebagian dialokasikan untuk berbagai program stabilisasi dan bantuan.
“Tahun 2025 menjadi fase konsolidasi penting bagi kami sebagai instrumen negara dalam menstabilkan rantai pasok pangan, dari hulu hingga hilir,” ujar Rizal dalam konferensi pers di Jakarta. Ia menekankan bahwa fokus utama adalah melindungi kepentingan petani melalui penyerapan optimal, sekaligus memastikan akses pangan yang stabil dan terjangkau bagi masyarakat.

Sepanjang 2025, Bulog mencatat pengadaan beras nasional setara beras mencapai lebih dari 3,19 juta ton. Capaian ini bersumber dari penyerapan gabah kering panen (GKP) sebanyak 4,53 juta ton—rekor tertinggi sejak institusi ini berdiri—ditambah gabah kering giling serta beras langsung. Penyerapan GKP yang masif ini tidak hanya memperkuat CBP, tetapi juga menjaga kesinambungan pendapatan petani melalui pembelian dengan harga yang sesuai ketentuan pemerintah.
Keberhasilan tersebut, menurut Rizal, merupakan hasil kehadiran aktif di lapangan, termasuk kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. “Ini bukan hanya angka statistik, melainkan wujud komitmen negara untuk berpihak pada petani dan membangun fondasi swasembada pangan berkelanjutan,” tambahnya.
Baca juga : Tinggal Meninggal: Satir Gelap tentang Kerapuhan Empati di Era Modern
Dengan stok awal tahun yang solid, Bulog siap menghadapi dinamika 2026, termasuk potensi panen raya dan kebutuhan distribusi. Posisi ini memperkuat peran strategis sebagai penyangga ketahanan pangan nasional, di tengah upaya pemerintah mewujudkan visi jangka panjang kemandirian pangan. Analis pangan menilai, tren positif ini dapat menjadi momentum untuk mengurangi ketergantungan eksternal dan meningkatkan resiliensi sistem pangan Indonesia terhadap fluktuasi global.
Pewarta : Albertus Parikesit

