RI News Portal. Pontianak, 30 Desember 2025 – Menjelang pergantian tahun, Kepolisian Daerah Kalimantan Barat terus mengintensifkan upaya pengamanan masyarakat melalui Operasi Lilin Kapuas 2025, yang menekankan dimensi kemanusiaan, sosial, dan spiritual sebagai pilar utama. Operasi ini, yang berlangsung sejak 20 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, melibatkan pengerahan besar-besaran personel gabungan untuk memastikan perayaan Hari Natal dan Tahun Baru berjalan aman serta kondusif di tengah dinamika sosial yang kompleks.
Dalam pernyataan resmi pada akhir Desember ini, seorang pejabat humas kepolisian daerah menyatakan bahwa operasi tahun ini berbeda dari sebelumnya dengan lebih menonjolkan pelayanan humanis. “Fokus kami bukan hanya pada penegakan hukum semata, melainkan menciptakan rasa aman dan nyaman melalui pendekatan yang lebih empati, termasuk kegiatan sosial dan dukungan spiritual bagi masyarakat yang merayakan,” ujarnya. Pendekatan ini mencerminkan evolusi strategi pengamanan di Indonesia, di mana aspek preventif dan kolaboratif semakin dikedepankan untuk membangun kepercayaan publik.
Operasi Lilin Kapuas 2025 mengerahkan total 3.586 personel gabungan, terdiri dari ribuan anggota kepolisian serta dukungan dari militer, satuan pamong praja, dinas kesehatan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Strategi terpadu ini dirumuskan melalui rapat lintas sektoral sebelumnya, yang melibatkan pimpinan instansi terkait untuk menyinkronkan upaya pengamanan. Personel ditempatkan secara strategis pada objek vital seperti tempat ibadah, terminal transportasi, pelabuhan, bandara, serta pusat-pusat mobilitas masyarakat yang diprediksi ramai selama libur akhir tahun.

Untuk mendukung operasi ini, didirikan puluhan pos pengamanan dan pelayanan yang tersebar di seluruh provinsi, termasuk pos terpadu di wilayah-wilayah padat seperti Pontianak, Kubu Raya, Mempawah, hingga Kayong Utara. Pos-pos ini tidak hanya berfungsi sebagai titik pengawasan, tetapi juga sebagai pusat pelayanan darurat dan bantuan masyarakat, mencerminkan komitmen pada aspek humanis yang ditekankan.
Hingga akhir Desember 2025, pengamanan malam Natal dilaporkan berjalan lancar tanpa gangguan signifikan, memungkinkan umat menjalankan ibadah dengan tenang. Kini, perhatian difokuskan pada malam Tahun Baru, di mana potensi kerumunan dan mobilitas tinggi menjadi prioritas. Dalam konteks ini, kepolisian mengimbau masyarakat untuk menahan diri dari penggunaan kembang api atau petasan, sebagai bentuk solidaritas terhadap korban bencana hidrometeorologi baru-baru ini di berbagai wilayah Indonesia, termasuk banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, serta dampak lanjutan di Jawa Timur. Imbauan ini menunjukkan sensitivitas institusi terhadap konteks nasional yang sedang berduka.
Selain pengamanan fisik, operasi ini juga menargetkan pencegahan tindak pidana seperti peredaran narkotika dan pelanggaran moral. Pengawasan dilakukan secara intensif, baik oleh personel beruniform maupun sipil, dengan dukungan dari badan narkotika nasional dan partisipasi aktif masyarakat. Upaya ini bertujuan mencegah potensi gangguan keamanan yang sering muncul di momen perayaan massal.
Baca juga : Wafatnya Khaleda Zia: Kehilangan Tokoh Sentral dalam Sejarah Politik Bangladesh
Dari perspektif akademis, Operasi Lilin Kapuas 2025 dapat dilihat sebagai contoh adaptasi institusi kepolisian terhadap tuntutan masyarakat modern di Indonesia, di mana pengamanan tidak lagi sekadar represif, melainkan integratif dengan nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi beragama. Di tengah keragaman etnis dan budaya Kalimantan Barat, pendekatan ini berpotensi memperkuat kohesi sosial dan resiliensi komunitas terhadap ancaman keamanan.
Pejabat terkait menyatakan harapan bahwa hingga akhir operasi, situasi keamanan di provinsi ini tetap terjaga, memberikan contoh positif bagi pengamanan serupa di wilayah lain. Masyarakat diimbau untuk terus bekerja sama dengan aparat, melaporkan segala potensi gangguan, demi mewujudkan perayaan akhir tahun yang bermakna dan aman bagi semua.
Pewarta : Lisa Susanti

