RI News Portal. Jakarta 3 Januari 2025 – Di tengah upaya nasional memulihkan wilayah-wilayah terdampak bencana alam di Provinsi Aceh, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian telah menginisiasi langkah strategis dengan mengerahkan lebih dari seribu praja dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ke Kabupaten Aceh Tamiang. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan mempercepat normalisasi layanan publik, tetapi juga merepresentasikan integrasi antara pendidikan kepegawaian dan respons kemanusiaan, mencerminkan evolusi kebijakan pemerintah dalam menghadapi krisis pascabencana. Dengan fokus pada pembersihan dan aktivasi ulang kantor-kantor pemerintahan, penugasan ini diharapkan menjadi katalisator bagi kebangkitan ekonomi dan sosial di daerah yang dilanda banjir bandang akhir tahun lalu.
Pengerahan praja IPDN ini dilaksanakan secara bertahap dalam tiga gelombang, melibatkan total 1.132 personel yang terdiri dari 863 praja dan sisanya aparatur sipil negara dari kementerian terkait. Mereka diberangkatkan dari Bandar Udara Soekarno-Hatta pada Sabtu lalu, dengan masa tugas satu bulan mulai hari ini hingga awal Februari. Tito Karnavian, dalam arahannya saat pelepasan, menekankan peran sentral pemerintahan sebagai indikator utama pemulihan. “Kantor pemerintahan adalah jantung indikator pulihnya suatu keadaan. Karena di situ ada perintah, otoritas, dan pusat sumber daya,” ujarnya, seraya menggarisbawahi bahwa kondisi lapangan masih dipenuhi lumpur dan debu, menghambat operasional rutin. Peninjauan langsung di Aceh Tamiang mengungkap bahwa kantor bupati serta berbagai perangkat daerah belum berfungsi optimal, dengan lumpur menumpuk yang mengganggu koordinasi dan pengambilan keputusan.

Langkah ini datang di saat empat kabupaten di Aceh, termasuk Aceh Tamiang, memperpanjang masa tanggap darurat hingga pekan depan untuk memastikan penanganan komprehensif, mencakup evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, dan perbaikan infrastruktur. Bencana banjir yang melanda sejak akhir Desember 2025 telah menimbulkan dampak luas, dengan korban jiwa mencapai lebih dari seribu orang di seluruh wilayah Aceh dan Sumatra Utara, serta kerusakan pada ratusan desa dan fasilitas publik. Di Aceh Tamiang sendiri, seluruh kecamatan terdampak, menyebabkan gangguan pada sistem administrasi kependudukan dan teknologi informasi. Pendekatan Tito ini menyoroti pemulihan pemerintahan sebagai fondasi bagi restorasi lebih luas, di mana pemerintahan yang aktif akan memfasilitasi koordinasi lintas sektor, termasuk pemulihan ekonomi melalui revitalisasi pasar dan pertokoan.
Dalam konteks akademis, inisiatif ini dapat dilihat sebagai aplikasi praktis dari kurikulum IPDN, di mana praja tidak hanya belajar teori pemerintahan tetapi juga diterjunkan langsung ke lapangan sebagai bagian dari kuliah kerja nyata. Tito meminta mereka untuk mempraktikkan ilmu yang dipelajari, bekerja sama dengan aparatur lokal tanpa menambah beban. “Adik-adik akan berhadapan langsung dengan masalah di lapangan. Praktekkan [ilmunya], bantu, dan jangan membuat masalah,” pesannya, sambil menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan independensi di tengah kondisi sulit. Pendekatan ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang mendorong institusi pendidikan kedinasan lain untuk berkontribusi sesuai bidang keahlian, seperti memeriksa infrastruktur transportasi yang rusak.
Baca juga : Banjir Menggenangi Keraton Kaibon: Ancaman Berkelanjutan terhadap Pelestarian Warisan Kesultanan Banten
Upaya pemulihan di Aceh Tamiang juga didukung oleh inisiatif paralel, seperti pembangunan hunian sementara (huntara) yang telah mencapai ribuan unit sejak akhir Desember lalu, menggunakan bahan berkualitas untuk kenyamanan penyintas. Warga setempat mengapresiasi langkah ini, yang menggantikan tenda darurat dengan struktur lebih layak, sementara pasar lokal seperti di Kuala Simpang mulai bangkit dengan dukungan pemerintah untuk UMKM terdampak. Presiden sendiri telah meninjau proses ini pada awal tahun, menegaskan komitmen nasional untuk percepatan recovery.
Kolaborasi antara praja IPDN, TNI, Polri, dan berbagai kementerian diharapkan mempercepat proses ini, dengan potensi perluasan ke daerah lain seperti Aceh Utara atau Aceh Timur jika diperlukan. Tito menyatakan optimisme bahwa dengan tambahan sumber daya manusia terlatih, Aceh akan pulih lebih cepat dari perkiraan. “Saya sangat yakin bahwa Aceh akan pulih dengan jauh lebih cepat,” katanya, menandai visi jangka panjang di mana pemulihan bencana tidak hanya restoratif tetapi juga membangun ketahanan masyarakat melalui pendidikan dan praktik langsung.

Secara lebih luas, model ini menawarkan pelajaran berharga bagi manajemen bencana di Indonesia, di mana integrasi sumber daya pendidikan ke dalam respons darurat dapat meningkatkan efisiensi dan membangun kapasitas lokal jangka panjang, mengurangi ketergantungan pada bantuan eksternal semata.
Pewarta : Yogi Hilmawan

