RI News. Wonogiri – Transformasi digital yang selama ini kerap dikaitkan dengan kota-kota besar ternyata turut merambah pelosok pedesaan di Jawa Tengah. Di Desa Tawangrejo, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, seorang pemuda bernama Eko Mujiono berhasil membangun industri pengolahan kayu skala besar hanya dengan memanfaatkan ponsel pintar dan media sosial sebagai saluran utama pemasaran.
Eko Mujiono, yang kini berusia matang, memulai perjalanan kariernya sebagai buruh jasa konstruksi di wilayah Wonogiri sejak awal 2000-an. Ia kemudian mendalami dunia pertukangan kayu, khususnya produk-produk sederhana seperti pasah brambang, pasah kripik pisang, dan alat pencacah rumput. Tahun 2009 menjadi titik balik ketika ia mulai mengembangkan usaha sendiri dengan memanfaatkan bahan baku kayu lokal yang melimpah di kawasan perbukitan Wonogiri.
Kini, pada 2026, usaha yang dirintisnya telah berkembang menjadi industri pengolahan kayu yang terintegrasi. Mulai dari proses penebangan, penggergajian, hingga pembuatan berbagai perabotan rumah tangga seperti tempat tidur, meja, kursi, dan produk furnitur lainnya. Semua proses dikerjakan oleh 60 tenaga trampil yang berasal dari warga sekitar desa. Produk-produk ini tidak hanya beredar di pasar Jawa, melainkan telah menembus wilayah luar pulau.

Keberhasilan Eko Mujiono tidak lepas dari strategi pemasaran yang sederhana namun inovatif. Ia memproduksi konten video dan foto secara mandiri menggunakan gawai pribadi, menampilkan proses produksi secara transparan mulai dari bahan mentah hingga produk jadi. Konten tersebut ia unggah secara rutin, memungkinkan calon pembeli melihat langsung kualitas dan proses pembuatan.
“Sebagian besar pembeli saya berasal dari wilayah luar Jawa. Mereka melihat postingan saya, bertanya lewat pesan langsung atau WhatsApp, lalu memesan produk,” ujar Eko Mujiono saat ditemui di lokasi usahanya, Minggu (12/4/2026).
Dalam satu bulan, Eko Mujiono mampu menjual ribuan paket produk furnitur kayu dengan pendapatan mencapai ratusan juta rupiah. Angka tersebut jauh melampaui potensi penjualan melalui toko konvensional di pedesaan yang terbatas akses pasarnya.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana teknologi digital menjadi solusi inklusif bagi pelaku usaha di daerah terpencil. Tanpa harus mengandalkan infrastruktur perdagangan formal seperti pusat perbelanjaan atau distributor besar, Eko Mujiono mampu membuka akses pasar nasional hanya melalui interaksi langsung dengan konsumen. Pendekatan berbasis testimoni visual dan komunikasi pribadi ini semakin memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap transaksi daring.
Baca juga : Respons Cepat Polres Boltim Amankan Pelaku Penikaman di Danau Togid Hanya Beberapa Jam Setelah Kejadian
Dari perspektif sosiologis, model bisnis Sugiyono menunjukkan pergeseran pola ekonomi desa di era digital. Usaha pertukangan kayu yang merupakan warisan keterampilan nenek moyang kini berpadu dengan akselerasi teknologi, sehingga mampu memberdayakan warga setempat tanpa bergantung sepenuhnya pada intervensi pemerintah atau institusi besar. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa inovasi dan keuletan dapat menembus batas geografis, menjadikan desa sebagai pusat produktivitas yang kompetitif.
Kisah Eko Mujiono bukan sekadar cerita sukses pribadi, melainkan cermin dari potensi besar kewirausahaan berbasis komunitas di pedesaan. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan teknologi yang terjangkau, ia membuka peluang ekonomi baru yang inklusif, sekaligus menginspirasi generasi muda di pelosok untuk melihat masa depan yang lebih cerah di kampung halaman sendiri.
Pewarta: Nandar Suyadi

