RI News Portal. Jakarta, 30 Desember 2025 – Di tengah upaya pemulihan pasca-bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak akhir November lalu, pemerintah pusat terus mempercepat penyaluran bantuan bahan pokok. Bencana hidrometeorologi yang dipicu hujan ekstrem dan diperparah degradasi lingkungan hulu sungai tersebut telah menewaskan lebih dari 1.100 jiwa serta memaksa ratusan ribu warga mengungsi, menurut data terkini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa distribusi bantuan beras dan minyak goreng dari cadangan pemerintah telah mencapai skala signifikan. “Pengiriman dilakukan melalui mekanisme cadangan strategis nasional untuk memastikan kebutuhan dasar pengungsi dan masyarakat terdampak terpenuhi segera,” ujarnya usai memantau pasar tradisional di Jakarta Timur pada Senin (29/12).
Secara rinci, untuk wilayah Aceh yang menjadi salah satu episentrum bencana dengan korban jiwa tertinggi, telah dikirimkan hampir 15.000 ton beras beserta 1,5 juta liter minyak goreng. Di Sumatra Utara, volume bantuan lebih besar lagi, mencapai sekitar 20.000 ton beras dan 3 juta liter minyak goreng, mengingat luasnya dampak di kabupaten-kabupaten seperti Tapanuli dan sekitar Medan. Sementara untuk Sumatra Barat, pasokan beras mendekati 8.000 ton disertai 1,33 juta liter minyak goreng.

Langkah ini merupakan bagian dari respons darurat yang lebih luas, di mana pemerintah juga mendukung pendirian dapur umum dan distribusi logistik lain untuk menjangkau pengungsi yang masih tersebar di puluhan titik. Para ahli lingkungan menekankan bahwa bencana ini tidak hanya akibat cuaca ekstrem, tetapi juga kerentanan ekologis akibat deforestasi masif di daerah aliran sungai, yang mempercepat aliran banjir bandang.
Di sisi lain, pasca-perayaan Natal, stabilitas harga pangan nasional tetap terjaga meski menghadapi tekanan musiman menjelang Tahun Baru. Zulkifli Hasan menegaskan bahwa stok komoditas strategis melimpah dan harga terkendali secara keseluruhan. “Ketersediaan pangan aman hingga awal tahun depan, dengan pemantauan ketat untuk menghindari fluktuasi berlebih,” katanya.
Pengamatan di pasar-pasar ibu kota menunjukkan variasi harga yang wajar antarwilayah, dipengaruhi faktor distribusi. Misalnya, beras medium stabil di kisaran Rp14.000–15.000 per kilogram, sementara daging sapi sekitar Rp130.000 per kilogram. Daging ayam ras di Jakarta mencapai Rp41.000–42.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan daerah produsen seperti Jawa Tengah atau Lampung yang berada di Rp37.000–38.000, akibat biaya transportasi. Cabai merah berkisar Rp40.000–50.000 per kilogram tergantung kualitas, sedangkan cabai rawit masih relatif tinggi di Rp60.000 per kilogram, meski tren penurunan mulai terlihat.
Analis ekonomi pangan mencatat bahwa perbedaan harga ini mencerminkan dinamika rantai pasok nasional, di mana wilayah urban seperti Jakarta bergantung pada pasokan dari provinsi penghasil. Stabilitas ini menjadi krusial di tengah pemulihan bencana, untuk mencegah inflasi pangan yang dapat memperburuk kondisi masyarakat rentan.
Pemerintah berkomitmen melanjutkan intervensi stok dan distribusi guna menjaga ketahanan pangan nasional, sekaligus mendorong rehabilitasi lingkungan jangka panjang di Sumatra agar resiliensi terhadap bencana serupa meningkat di masa depan.
Pewarta : Albertus Parikesit

