RI News. Tapanuli Selatan, 1 Maret 2026 – Bentang alam Batangtoru di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan hutan paling berharga di pulau Sumatera, kini berada pada kondisi kritis. Hutan primer yang menjadi penyangga ekosistem regional terus menyusut akibat tekanan aktivitas ekstraktif, termasuk pertambangan emas, pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta ekspansi perkebunan kelapa sawit. Ditambah maraknya alih fungsi lahan dan penebangan liar, degradasi ini tidak hanya merusak daratan, tetapi juga merembet ke sistem hidrologi, menjadikan Sungai Batangtoru yang dulu jernih kini berubah menjadi alur air yang keruh, penuh sedimen, dan tercemar.
Pantauan terkini menunjukkan hilangnya vegetasi hutan di wilayah penyangga secara signifikan. Penurunan tutupan hijau ini menyebabkan kapasitas tanah menyerap air hujan menurun tajam. Saat musim hujan intens, debit sungai melonjak membawa lumpur, sisa kayu, dan sampah organik, sementara di musim kemarau, aliran air menjadi dangkal dan berlumpur pekat. Fenomena ini memperburuk risiko banjir bandang dan erosi, yang baru-baru ini kembali mengancam infrastruktur vital masyarakat setempat.

“Kondisi Batangtoru saat ini sangat memprihatinkan. Dulu kawasan ini dikenal dengan kelestarian hutan dan Sungai Batangtoru yang seperti cermin alam, kini telah banyak berubah. Hutan hilang, sungai kumuh, dan ancaman bencana ekologi terus mengintai masyarakat,” ujar Hendra Hasibuan, Ketua DPW Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sumatera Utara, yang juga aktif sebagai Koordinator Jaringan Advokasi Masyarakat Marjinal (JAMM).
Ekosistem hutan Batangtoru bukan sekadar lanskap alam, melainkan sumber kehidupan bagi ribuan penduduk dari hulu hingga hilir. Kawasan ini juga merupakan habitat unik bagi dua satwa endemik yang terancam punah: Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) dan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Populasi orangutan Tapanuli, yang jumlahnya kurang dari 800 individu di alam liar, semakin terdesak oleh fragmentasi habitat akibat pembukaan lahan dan gangguan ekologis.
Sepanjang aliran sungai, tumpukan sampah pasca-banjir bandang masih berserakan di tepian, diperparah oleh pembuangan limbah dari aktivitas pengolahan pertambangan emas di sekitar wilayah tersebut. Kontaminasi ini menciptakan kontras menyedihkan dengan keindahan masa lalu sungai yang pernah menjadi sumber air bersih dan keanekaragaman hayati. Hilangnya pepohonan riparian mempercepat proses erosi tebing, mengancam pemukiman warga, lahan pertanian, dan infrastruktur penting.
Baca juga : Buka Puasa Bersama Santri TPA: LDII Ngaliyan Perkuat Pembinaan Karakter di Tengah Ramadan
Salah satu kekhawatiran terbesar saat ini adalah kondisi Jembatan Trikora, akses utama yang menghubungkan mobilitas ekonomi, pendidikan, dan sosial masyarakat di kawasan tersebut. Dampak erosi pasca-hujan deras baru-baru ini telah menggerus bantaran sungai, membuat penopang jembatan rentan roboh. “Yang paling dikhawatirkan adalah Jembatan Trikora terancam putus akibat erosi berkelanjutan. Jika hujan lebat kembali datang, sungai bisa membesar dan mengikis lebih dalam, berpotensi menghancurkan struktur jembatan,” tambah Hendra Hasibuan.
Masyarakat setempat mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan peninjauan lapangan, penguatan tebing dengan bronjong atau krib, serta normalisasi sungai sebelum musim hujan intens berikutnya tiba. Jembatan ini bukan hanya infrastruktur biasa, melainkan simbol sejarah dan satu-satunya jalur vital bagi kehidupan sehari-hari warga di Kabupaten Tapanuli Selatan.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak perusahaan pertambangan emas yang beroperasi di wilayah Batangtoru terkait isu pencemaran dan kontribusi terhadap degradasi ekosistem.
Pewarta: Adi Tanjoeng

