RI News Portal. Tapanuli Selatan – Upaya pemulihan pasca-bencana alam yang melanda wilayah Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara, inisiatif normalisasi aliran Sungai Batang Toru menjadi sorotan utama sebagai respons konkret terhadap ancaman banjir bandang dan longsor berulang. Pada Kamis, 22 Januari 2026, Komandan Distrik Militer (Dandim) 0212/TS, Letkol Infanteri Dedi Harnoto, secara langsung meninjau dan mendukung proses tersebut di Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Langkah ini tidak hanya menandai komitmen institusi militer dalam penanganan bencana, tetapi juga menyoroti pendekatan terintegrasi antara pemerintah daerah dan swasta untuk mengurangi risiko hidrologis di kawasan rawan.
Proses normalisasi sungai ini melibatkan pengerahan tiga unit alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU PR) Provinsi Sumatera Utara, bekerja sama dengan PT Wijaya Karya (WIKA). Fokus utama adalah pembangunan kanal baru untuk mengoptimalkan aliran air, sehingga mencegah luapan yang sering kali menggenangi pemukiman warga. Observasi di lapangan menunjukkan bahwa upaya ini dirancang untuk mengatasi dampak langsung dari curah hujan tinggi, yang selama ini mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat. Dalam konteks akademis, pendekatan ini mencerminkan aplikasi prinsip manajemen sumber daya air berbasis komunitas, di mana pencegahan banjir tidak hanya bergantung pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada pemulihan psikososial korban.

Bencana banjir bandang sebelumnya di Tapanuli Selatan telah meninggalkan luka mendalam, dengan korban jiwa, cedera, dan hilangnya tempat tinggal yang memperburuk kerentanan sosial-ekonomi masyarakat. Trauma kolektif ini masih membayangi warga Desa Hapesong Baru, di mana ketakutan akan banjir susulan menjadi bagian dari keseharian. Inisiatif normalisasi sungai ini bertujuan untuk merestorasi rasa aman, memastikan bahwa peningkatan debit air tidak lagi menjadi ancaman langsung. Dari perspektif jurnalistik akademis, hal ini menggarisbawahi pentingnya integrasi antara respons darurat dan pembangunan jangka panjang, di mana kolaborasi lintas sektor—militer, pemerintah, dan korporasi—menjadi kunci untuk membangun ketahanan komunitas terhadap perubahan iklim yang semakin ekstrem.
Salah seorang warga setempat, yang enggan disebut namanya, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran tim di lapangan. “Kami sangat berterima kasih atas kepekaan pemerintah melalui Dinas PU PR Provinsi, PT WIKA, dan Dandim 0212/TS Letkol Infanteri Dedi Harnoto yang turun langsung mendukung proses ini. Ini demi menciptakan rasa nyaman bagi kami yang masih trauma berat mengingat peristiwa banjir bandang itu,” ujarnya. Ia menambahkan harapan agar alat berat dan tim tidak mengalami kendala, sehingga pekerjaan cepat rampung dan masyarakat bisa kembali beraktivitas normal tanpa dibayangi ketakutan. “Kami selalu berdoa agar kondisi kembali seperti sedia kala, bebas dari kekhawatiran banjir susulan saat hujan deras.”
Baca juga : Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan: Musrenbang Desa Tanggulangin Menuju RKPD 2027
Secara lebih luas, kasus di Tapanuli Selatan ini mengilustrasikan tantangan pengelolaan bencana di wilayah pegunungan Sumatera, di mana faktor topografi dan deforestasi sering memperburuk dampak hujan musiman. Upaya normalisasi seperti ini, jika dilanjutkan dengan pemantauan berkelanjutan, berpotensi menjadi model bagi daerah lain di Indonesia yang menghadapi risiko serupa. Namun, keberhasilan jangka panjang bergantung pada partisipasi aktif masyarakat, termasuk pendidikan lingkungan untuk mencegah degradasi sungai lebih lanjut. Dengan demikian, inisiatif ini bukan sekadar perbaikan infrastruktur, melainkan langkah menuju pemulihan holistik yang menggabungkan aspek teknis, sosial, dan psikologis.
Pewarta : Adi Tanjoeng

