RI News. Kuala Lumpur – Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang semakin kompleks, Malaysia mengambil langkah strategis dengan memulai penilaian komprehensif terhadap potensi penerapan tenaga nuklir sebagai sumber pembangkit listrik. Upaya ini bukan sekadar respons terhadap fluktuasi harga dan pasokan bahan bakar fosil, melainkan visi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih.
Wakil Perdana Menteri Datuk Seri Fadillah Yusof menyatakan bahwa eksplorasi tenaga nuklir menjadi bagian penting dari strategi nasional. “Langkah ini merupakan upaya strategis untuk memperkuat keamanan energi jangka panjang, sekaligus mendukung transisi energi bersih negara,” ujarnya, seperti dikutip dari pernyataan resmi di Putrajaya baru-baru ini.
Fadillah, yang juga menjabat sebagai Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air (PETRA), menekankan relevansi penilaian ini di tengah lanskap energi dunia yang berubah cepat. Ketegangan di Timur Tengah dan gangguan pada jalur perdagangan energi utama, seperti Selat Hormuz, telah menunjukkan kerentanan pasokan bahan bakar fosil. Dalam kondisi tersebut, tenaga nuklir menawarkan keunggulan sebagai sumber daya beban dasar (baseload) yang stabil, rendah emisi karbon, dan mampu mengurangi ketergantungan pada impor fosil.

Penilaian yang sedang berjalan mencakup berbagai aspek krusial: pengembangan kebijakan, pembentukan kerangka hukum dan regulasi yang kuat, analisis kelayakan proyek secara teknis dan ekonomi, partisipasi industri lokal, keterlibatan aktif pemangku kepentingan, serta pengembangan sumber daya manusia yang kompeten di bidang nuklir. Pendekatan ini dirancang secara bertahap dan berbasis ilmiah, sesuai rekomendasi Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
MyPOWER Corporation Malaysia, lembaga di bawah naungan Kementerian PETRA, ditunjuk sebagai Organisasi Pelaksana Program Tenaga Nuklir (NEPIO). Lembaga ini bertugas mengkoordinasikan seluruh persiapan, memastikan bahwa setiap langkah selaras dengan prioritas nasional dan komitmen internasional Malaysia di bidang keselamatan nuklir serta non-proliferasi.
Inisiatif ini sejalan dengan Rencana Malaysia Ketigabelas (13MP) yang disampaikan Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim pada 31 Juli 2025. Dokumen perencanaan tersebut menempatkan diversifikasi sumber energi sebagai pilar utama pembangunan berkelanjutan, di mana tenaga nuklir dipertimbangkan sebagai salah satu opsi kompetitif dan ramah lingkungan untuk mendukung target net-zero emisi jangka panjang.
Fadillah menambahkan bahwa tren serupa juga muncul di kawasan ASEAN. Beberapa negara tetangga sedang merevisi strategi energi mereka dengan memasukkan kembali opsi nuklir. Filipina, misalnya, menetapkan target kapasitas nuklir hingga 4.800 megawatt pada 2050, sementara Vietnam telah mengintegrasikan tenaga nuklir ke dalam rencana pembangkitan listrik nasionalnya dengan proyek skala besar yang ditargetkan beroperasi pada awal 2030-an. Di Indonesia, kajian terhadap reaktor modular kecil (Small Modular Reactor/SMR), termasuk varian terapung, terus dikembangkan dengan target awal sekitar tahun 2030.
“Prioritas utama kami adalah memastikan bahwa setiap pengembangan di masa depan dilakukan melalui analisis teknis yang sangat teliti, transparan, dan selaras dengan kepentingan nasional serta kewajiban internasional,” tegas Fadillah.

Para pengamat energi melihat langkah Malaysia ini sebagai respons matang terhadap tantangan ganda: memenuhi pertumbuhan permintaan listrik yang terus meningkat seiring industrialisasi dan digitalisasi, sekaligus menjaga komitmen terhadap pengurangan emisi. Meski demikian, proses penilaian ini masih berada pada tahap awal, dengan penekanan kuat pada aspek keselamatan, penerimaan publik, dan kesiapan infrastruktur.
Dengan pendekatan yang hati-hati dan komprehensif, Malaysia berupaya menjadikan tenaga nuklir sebagai salah satu pilar masa depan yang tidak hanya andal, tetapi juga berkelanjutan—memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan energi kawasan di tengah dinamika global yang penuh tantangan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

