RI News. Pyongyang, 26 Maret 2026 – Presiden Belarus Alexander Lukashenko tiba di ibu kota Korea Utara pada Rabu (25/3) untuk kunjungan resmi pertamanya ke negara tersebut. Kunjungan ini menjadi simbol semakin eratnya kerja sama antara dua negara otoriter yang sama-sama menjadi sekutu dekat Rusia dan menghadapi sanksi berat dari Barat.
Lukashenko disambut langsung oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam upacara penyambutan megah di Lapangan Kim Il Sung. Upacara tersebut melibatkan barisan pasukan berkuda, salut meriam 21 kali, serta ribuan warga yang melambai-lambaikan bendera. Sebelumnya, di bandara Pyongyang, Lukashenko disambut oleh Wakil Perdana Menteri Kim Tok Hun yang baru diangkat.
Menurut agenda resmi, kedua pemimpin akan membahas berbagai isu bilateral, termasuk penandatanganan Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama serta sekitar sepuluh kesepakatan lainnya. Menteri Luar Negeri Belarus Maxim Ryzhenkov menyatakan bahwa kedua negara berharap dapat meningkatkan kerja sama di bidang perdagangan, pangan, farmasi, dan sektor strategis lainnya.

Kunjungan ini terjadi di tengah dinamika geopolitik global yang semakin tegang. Lukashenko, yang telah memerintah Belarus selama lebih dari 30 tahun, dikenal sebagai sekutu setia Kremlin. Belarus menjadi salah satu pangkalan utama bagi invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 dan kemudian menerima penempatan senjata nuklir taktis Rusia di wilayahnya.
Sementara itu, Kim Jong Un dalam beberapa tahun terakhir juga semakin mendekatkan diri dengan Moskow. Korea Utara dikabarkan telah mengirimkan ribuan tentara serta pasokan senjata dalam jumlah besar untuk mendukung Rusia di medan perang Ukraina. Kebijakan luar negeri Pyongyang kini lebih agresif, dengan fokus memperluas hubungan ke negara-negara yang menentang dominasi Amerika Serikat.
Dalam pidato di parlemen Korea Utara beberapa hari lalu, Kim Jong Un menuduh Amerika Serikat melakukan “terorisme negara dan agresi global”, merujuk pada berbagai konflik internasional termasuk di Timur Tengah. Ia menyerukan agar Pyongyang memainkan peran lebih besar dalam membangun front persatuan anti-Washington.
Baca juga : Robot Humanoid Amerika Pertama Melangkah ke Gedung Putih: Simbol Baru Diplomasi Pendidikan Melania Trump
Analis hubungan internasional melihat kunjungan Lukashenko sebagai langkah strategis kedua negara untuk saling mendukung di tengah isolasi yang mereka hadapi. Meski memiliki ekonomi yang relatif kecil dan terkena sanksi luas, Belarus dan Korea Utara berusaha menciptakan jaringan kerja sama alternatif di luar pengaruh Barat.
Ini merupakan pertemuan kedua Lukashenko dan Kim Jong Un setelah pertemuan mereka di Beijing pada September 2025. Kunjungan kali ini diharapkan tidak hanya memperkuat ikatan politik, tetapi juga membuka peluang konkret di bidang ekonomi dan teknologi, meski tantangan sanksi internasional tetap menjadi hambatan utama.
Kunjungan dua hari ini (25–26 Maret) menjadi perhatian dunia karena menandakan semakin solidnya blok negara-negara yang menolak tatanan internasional yang dipimpin Amerika Serikat dan sekutunya.
Pewarta : Setiawan Wibisono

