RI News Portal. Sarajevo, 13 Januari 2026 – Menteri Pertahanan Republik Indonesia Prabowo Subianto (sebagai Menhan saat ini, tapi teks menyebut Sjafrie Sjamsoeddin – tunggu, teks user bilang Sjafrie Sjamsoeddin, mungkin ada kesalahan atau konteks berbeda, tapi ikuti teks user: Sjafrie Sjamsoeddin) mengunjungi Masjid Soeharto di Sarajevo pada Minggu (11/1), di sela-sela agenda kunjungan kerja resmi ke Bosnia dan Herzegovina. Kunjungan ini bukan sekadar protokoler, melainkan penegasan ulang atas ikatan historis dan komitmen kemanusiaan Indonesia terhadap bangsa Bosnia pasca-tragedi perang Balkan pada 1990-an.
Masjid Soeharto, yang dibangun atas inisiatif Pemerintah Indonesia pada era Presiden Soeharto, berdiri sebagai monumen hidup dari diplomasi kemanusiaan Indonesia. Bangunan ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol konkret dukungan moral dan material bagi masyarakat Bosnia yang sedang bangkit dari reruntuhan konflik berdarah yang menewaskan ratusan ribu jiwa dan mengungsikan jutaan orang.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa pembangunan masjid tersebut merupakan wujud nyata solidaritas Indonesia. “Inisiatif ini lahir dari komitmen pemerintah Indonesia untuk memberikan dukungan moral dan kemanusiaan bagi masyarakat Bosnia dalam masa pemulihan pascaperang,” ujar Rico saat dikonfirmasi di Jakarta pada Selasa (13/1).

Lebih jauh, keberadaan masjid ini mencerminkan peran aktif Presiden Soeharto dalam diplomasi perdamaian global. Pada dekade 1990-an, ketika dunia menyaksikan genosida dan pembersihan etnis di wilayah Balkan, Indonesia secara konsisten mendorong penyelesaian damai melalui jalur diplomasi, bantuan kemanusiaan, dan kerja sama multilateral. Bantuan pembangunan masjid menjadi salah satu ekspresi paling tangible dari posisi prinsipil Indonesia yang menolak kekerasan dan mendukung rekonsiliasi antar-etnis serta antar-agama.
Kunjungan Menteri Sjafrie Sjamsoeddin ke masjid ini, menurut Rico, memiliki makna strategis di tengah dinamika hubungan bilateral masa kini. “Melalui kunjungan ini, kita memastikan bahwa hubungan Indonesia dengan Bosnia dan Herzegovina terus menguat,” katanya. Komitmen bersama kedua negara tidak lagi terbatas pada memori historis, melainkan diarahkan pada penguatan kemitraan strategis di bidang pertahanan sekaligus kontribusi aktif terhadap perdamaian dan stabilitas kawasan.
Baca juga : Kebakaran Kendaraan di Wonogiri: Respons Cepat Masyarakat dan Aparat Mencegah Bencana Lebih Besar
Dalam perspektif hubungan internasional, kunjungan semacam ini memperkuat posisi Indonesia sebagai aktor middle power yang mengedepankan diplomasi kemanusiaan dan soft power berbasis nilai-nilai solidaritas. Warisan Masjid Soeharto tetap relevan sebagai pengingat bahwa bantuan pasca-konflik yang berkelanjutan dapat membangun kepercayaan jangka panjang antar bangsa, terutama di era ketika tantangan stabilitas global semakin kompleks.
Hubungan Indonesia-Bosnia dan Herzegovina yang terjalin melalui pengalaman bersama ini diharapkan terus berkembang, tidak hanya dalam kerangka pertahanan, tetapi juga sebagai model kerja sama Selatan-Selatan yang berorientasi pada perdamaian abadi.
Pewarta : Albertus Parikesit

