RI News Portal. Pyongyang – Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyaksikan secara langsung uji terbang rudal hipersonik pada akhir pekan lalu, menandai langkah terbaru dalam upaya negara itu memperkuat kemampuan pencegah nuklirnya. Pengumuman resmi dari Pyongyang menyebut uji coba tersebut berhasil memverifikasi teknologi penting bagi pertahanan nasional dan menegaskan perlunya terus meningkatkan sistem senjata ofensif.
Latihan peluncuran rudal hipersonik ini dilakukan hanya sehari setelah negara tetangga mendeteksi beberapa peluncuran rudal balistik, yang langsung memicu kecaman dari Seoul dan Tokyo sebagai tindakan provokatif. Uji coba tersebut juga berlangsung hanya beberapa jam sebelum Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung bertolak ke Beijing untuk melakukan pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, menambah dimensi diplomatik pada rangkaian peristiwa ini.
Menurut pernyataan resmi, tujuan latihan adalah mengevaluasi kesiapan operasional pasukan rudal, meningkatkan kemampuan tempur, dan mengukur efektivitas sistem pencegah perang secara keseluruhan. Kim Jong Un dilaporkan menekankan bahwa pengembangan senjata canggih semacam ini menjadi semakin mendesak mengingat “krisis geopolitik terkini dan dinamika internasional yang semakin rumit.”

Rudal hipersonik, yang mampu melaju dengan kecepatan lebih dari lima kali kecepatan suara dan melakukan manuver sulit diprediksi, dianggap dapat menembus sistem pertahanan rudal yang dimiliki Amerika Serikat dan Korea Selatan. Meski Pyongyang telah melakukan sejumlah uji coba selama beberapa tahun terakhir, para analis internasional masih memperdebatkan apakah rudal-rudal tersebut telah mencapai tingkat kematangan teknologi yang diklaim.
Dalam beberapa minggu terakhir, Korea Utara juga mengumumkan pengujian rudal jelajah strategis jarak jauh, rudal anti-pesawat generasi baru, serta menampilkan kemajuan konstruksi kapal selam bertenaga nuklir pertama mereka. Rangkaian aktivitas ini diyakini sebagai bagian dari upaya Pyongyang untuk menunjukkan pencapaian teknologi militer menjelang kongres nasional Partai Buruh Korea yang akan digelar dalam waktu dekat—pertemuan tertinggi partai penguasa yang pertama dalam lima tahun terakhir.
Baca juga : Diplomasi AS dalam Krisis Ukraina-Rusia: Analisis atas Klaim Serangan Drone terhadap Kediaman Presiden Putin
Para pengamat memperkirakan kongres tersebut dapat menjadi momentum bagi Kim Jong Un untuk mengumumkan arah kebijakan baru, baik dalam hubungan dengan Amerika Serikat maupun dalam strategi nuklir jangka panjang. Pertanyaan utama yang mengemuka adalah apakah Pyongyang akan membuka ruang untuk dialog diplomatik atau justru mempertegas sikap kerasnya.
Kegiatan uji coba rudal kali ini juga berlangsung di tengah konteks regional yang tegang. Peluncuran tersebut menyusul operasi militer Amerika Serikat yang berhasil menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan membawanya ke Washington untuk menghadapi dakwaan terkait terorisme narkotika. Pyongyang dengan cepat mengutuk tindakan tersebut sebagai bukti “sifat agresif dan sewenang-wenang” Amerika Serikat.
Banyak analis menilai insiden di Venezuela kemungkinan akan memperkuat keyakinan Kim Jong Un bahwa pengembangan senjata nuklir dan sistem pengiriman yang canggih merupakan jaminan utama kelangsungan kekuasaan dan kedaulatan negaranya di tengah tekanan dari Barat. Dalam pernyataannya, Kim disebut menegaskan bahwa penguatan program nuklir bukan pilihan, melainkan keharusan yang dibuktikan oleh situasi internasional saat ini.

Sementara itu, pertemuan antara Presiden Lee Jae-myung dan Xi Jinping diperkirakan akan membahas pula isu program nuklir Korea Utara. Pemerintah Korea Selatan telah menyatakan harapannya agar Tiongkok—sebagai sekutu utama dan mitra ekonomi terbesar Pyongyang—dapat berperan lebih konstruktif dalam mendorong stabilitas di Semenanjung Korea.
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa meskipun dialog denuklirisasi telah lama terhenti, dinamika militer dan diplomatik di Semenanjung Korea tetap berada pada titik yang sangat sensitif. Uji coba rudal hipersonik terbaru ini tidak hanya menjadi demonstrasi kekuatan teknologi, tetapi juga pengingat akan tantangan yang masih dihadapi dalam upaya menciptakan perdamaian berkelanjutan di kawasan tersebut.
Pewarta : Setiawan Wibisono

