RI News. Minahasa Tenggara – Tragedi kebakaran yang melanda sebuah rumah sederhana di Desa Tababo Selatan, Kecamatan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara, kembali menyoroti kerapuhan sistem penanganan darurat kebakaran di tingkat kecamatan. Rumah milik Ibu Hartati Tahani (65) ludes dilahap api pada Sabtu malam (11 April 2026) sekitar pukul 21.45 WITA, hanya dalam waktu singkat, meski unit pemadam kebakaran berada di wilayah tersebut.
Peristiwa bermula ketika korban sedang menonton televisi di kamar depan rumahnya. Diduga kuat korsleting listrik memicu percikan api yang dengan cepat merambat ke seluruh bagian bangunan. Ibu Hartati sempat berlari keluar rumah meminta pertolongan, namun kobaran api sudah tidak terkendali dalam kurun waktu sekitar lima menit.
Hukum Tua setempat bersama warga sekitar langsung berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya sambil menghubungi unit Damkar Kecamatan Belang. Namun, yang terjadi justru mengecewakan. Meski terdapat armada pemadam di wilayah kecamatan, petugas dilaporkan tidak berada di pos saat dibutuhkan.

Melihat situasi semakin kritis, warga dan beberapa awak media berinisiatif menghubungi langsung Kepala Satuan Pemadam Kebakaran Kabupaten Minahasa Tenggara (Kasat Damkar Mitra), yang diketahui berasal dari daerah setempat. Sayangnya, armada baru tiba di lokasi sekitar satu jam kemudian—saat rumah sudah rata dengan tanah.
Kekecewaan warga pun memuncak. Banyak yang menyayangkan lambatnya respons tim di lapangan. “Kami sangat kecewa. Ada unit di kecamatan tapi anggotanya tidak standby. Rumah sudah habis terbakar baru mobil datang. Kami minta Kasat Damkar segera evaluasi anggota, jangan sampai kejadian memalukan seperti ini terulang lagi,” ujar salah seorang warga dengan nada kesal.
Di tengah masyarakat beredar pula dugaan bahwa salah satu oknum petugas tidak siaga karena berada di bawah pengaruh minuman keras. Meski belum ada konfirmasi resmi, isu ini semakin memperkeruh suasana dan memperkuat tuntutan agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap personel Damkar di Pos Belang.
Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Namun, kerugian materiil diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, mencakup seluruh isi rumah dan bangunan itu sendiri. Kejadian ini menjadi pukulan berat bagi Ibu Hartati yang kini kehilangan tempat tinggal.
Warga Kecamatan Belang kini menunggu langkah tegas dari Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara melalui Dinas Pemadam Kebakaran. Mereka mendesak agar dilakukan audit kinerja personel, peningkatan disiplin, serta penempatan petugas yang benar-benar siaga 24 jam di setiap pos kecamatan.
Kasus ini bukan kali pertama menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia penanganan kebakaran di daerah-daerah pelosok Sulawesi Utara. Kecepatan respons menjadi kunci utama menyelamatkan harta benda dan nyawa warga. Tanpa perbaikan sistemik, tragedi serupa berpotensi terulang di masa mendatang.
Pewarta: Raden Karim

