RI News Portal. Jakarta 3 Januari 2026 – Di tengah eskalasi protes yang melanda Iran sejak akhir Desember 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesiapan negaranya untuk melakukan intervensi jika otoritas Iran melakukan kekerasan terhadap demonstran damai. Pernyataan ini, yang disampaikan pada Jumat, 2 Januari 2026, menekankan bahwa Washington “siap siaga dan siap bertindak” untuk mendukung para pengunjuk rasa yang menuntut perubahan ekonomi dan politik.
Respons tajam segera datang dari pejabat senior Iran, yang memperingatkan bahwa setiap campur tangan asing akan memicu kekacauan lebih luas di kawasan Timur Tengah. Mereka menegaskan bahwa kehadiran militer AS di wilayah tersebut bisa menjadi target sah bagi pasukan Iran, menggarisbawahi ketegangan yang telah lama membara antara kedua negara. Pernyataan ini mencerminkan pola historis di mana intervensi Barat sering kali dipandang sebagai ancaman terhadap kedaulatan nasional, seperti yang terlihat dalam konflik-konflik sebelumnya seperti Perang Teluk atau sanksi ekonomi berkepanjangan.
Protes di Iran bermula pada Minggu, 28 Desember 2025, di Teheran, dipicu oleh kemerosotan ekonomi yang parah: penurunan nilai rial, inflasi yang meroket, dan kenaikan harga barang pokok. Awalnya berfokus pada isu-isu ekonomi, aksi massa ini dengan cepat menyebar ke kota-kota kecil dan berubah menjadi tuntutan politik yang lebih radikal, termasuk kritik terhadap kepemimpinan ulama dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Slogan-slogan anti-rezim yang bergema di jalanan menandakan pergeseran dari keluhan sehari-hari menjadi seruan perubahan struktural, mirip dengan gelombang protes 2019 yang juga dipicu oleh krisis bahan bakar.

Laporan dari organisasi hak asasi manusia internasional menyebutkan setidaknya tujuh korban jiwa akibat bentrokan, sementara sumber resmi Iran mengonfirmasi tiga kematian. Video-video yang beredar menunjukkan suara tembakan dan konfrontasi antara demonstran dengan aparat keamanan di berbagai provinsi. Krisis ini diperburuk oleh faktor-faktor jangka panjang, seperti sanksi internasional yang telah melumpuhkan ekonomi Iran selama bertahun-tahun, konflik dengan Israel, serta serangan terhadap fasilitas nuklir pada 2025 yang dikaitkan dengan AS. Selain itu, krisis air yang sempat melanda negara itu tahun lalu semakin memperdalam ketidakpuasan publik, menciptakan lingkungan di mana ketidakstabilan sosial mudah meletus.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesediaan pemerintahannya untuk berdialog dengan para demonstran, mengakui validitas sebagian tuntutan mereka. Namun, penasihat dekat Khamenei menekankan bahwa Iran akan menentang segala bentuk intervensi eksternal dengan tegas. Sebagai langkah meredam, pemerintah menetapkan hari libur nasional, sementara pasukan keamanan diperkirakan akan dikerahkan secara masif pada akhir pekan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Pezeshkian juga memperingatkan bahwa setiap agresi terhadap Iran akan direspons dengan kekuatan penuh, mengisyaratkan potensi konflik militer yang lebih luas.
Dari perspektif akademis, dinamika ini mengilustrasikan teori realisme dalam hubungan internasional, di mana kekuatan negara besar seperti AS sering kali menggunakan isu hak asasi manusia sebagai alat untuk memproyeksikan pengaruh, sementara negara seperti Iran memanfaatkan nasionalisme untuk mengonsolidasikan dukungan domestik. Ancaman Trump, meskipun retoris, bisa mempercepat polarisasi regional, terutama mengingat sejarah intervensi AS di Timur Tengah yang sering berujung pada instabilitas jangka panjang, seperti invasi Irak pada 2003. Di sisi lain, respons Iran menyoroti strategi deterrence, di mana ancaman balik digunakan untuk mencegah eskalasi.
Sementara itu, komunitas internasional memantau situasi dengan cermat, dengan kekhawatiran bahwa konflik ini bisa meluas ke isu-isu lebih besar seperti program nuklir Iran atau stabilitas Selat Hormuz. Para analis menilai bahwa dialog multilateral, mungkin melalui saluran seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, diperlukan untuk mencegah perang proxy yang baru. Namun, dengan posisi kedua belah pihak yang semakin keras, prospek resolusi damai tampak semakin suram di awal tahun 2026 ini.
Pewarta : Setiawan Wibisono

