RI News Portal. Jakarta, 26 Desember 2025 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah merevisi sikapnya mengenai perlunya pertemuan lanjutan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Meskipun awalnya meragukan urgensi dialog tambahan, Trump kini menganggap pertemuan tersebut esensial untuk mendorong kemajuan dalam implementasi rencana perdamaian Gaza yang ia inisiasi.
Pertemuan dijadwalkan berlangsung pada 29 Desember di kediaman pribadi Trump di Mar-a-Lago, Florida. Kunjungan ini sebelumnya diumumkan secara tentatif pekan lalu, dan kini semakin relevan mengingat rencana pembentukan badan pengawas internasional untuk Gaza yang dipimpin oleh Trump sendiri, yang dijadwalkan aktif pada awal Januari mendatang.
Sumber-sumber diplomatik mengindikasikan adanya peningkatan ketegangan di kalangan pejabat tinggi AS terhadap pendekatan Israel di Jalur Gaza pasca-gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober lalu. Kekhawatiran utama adalah bahwa tindakan militer Israel yang dianggap agresif dapat mengganggu transisi ke tahap kedua proses perdamaian, yang mencakup penarikan pasukan lebih lanjut, pengerahan pasukan stabilisasi internasional, serta pembentukan struktur pemerintahan transisional.

Seorang analis hubungan internasional yang dekat dengan lingkaran keputusan AS menyatakan bahwa Netanyahu tengah berupaya mempengaruhi Trump secara langsung. “Pertemuan ini menjadi arena persuasif satu lawan satu,” ujarnya. “Pertanyaan kunci adalah apakah Trump akan condong pada visi Netanyahu atau pada rekomendasi penasihat utamanya mengenai Gaza.” Ketidakpastian ini mencerminkan dinamika internal di Washington, di mana tim khusus Trump—termasuk utusan khusus dan penasihat senior—telah menyuarakan frustrasi atas langkah-langkah Israel yang dianggap menghambat kemajuan.
Di sisi lain, perwakilan senior dari kelompok Palestina menyatakan kepada media internasional bahwa Israel telah melakukan ratusan pelanggaran terhadap gencatan senjata sejak Oktober, termasuk insiden yang mengakibatkan korban sipil. Pernyataan ini telah memperkuat keraguan mengenai komitmen Israel untuk melanjutkan tahap berikutnya dari kesepakatan, yang melibatkan demiliterisasi dan rekonstruksi wilayah tersebut.
Pejabat AS menekankan bahwa Trump tetap optimis dapat membantu mediasi, namun hanya jika kebijakan saat ini diubah. “Semua peluang dan risiko telah disampaikan secara jelas,” kata salah satu sumber. Gencatan senjata itu sendiri difasilitasi melalui deklarasi bersama yang ditandatangani Trump dengan pemimpin Mesir, Qatar, dan Turki pada 13 Oktober, menyusul kesepakatan awal pada 10 Oktober.
Rencana perdamaian yang diusulkan Trump, yang terdiri dari serangkaian langkah komprehensif, awalnya menargetkan pengumuman tahap kedua sebelum akhir tahun. Tahap ini mencakup penarikan pasukan Israel yang lebih signifikan, pengerahan kekuatan internasional untuk stabilisasi, serta pembentukan mekanisme pemerintahan baru di bawah pengawasan internasional.
Dari perspektif akademis, pertemuan mendatang ini dapat menjadi titik pivotal dalam dinamika konflik Israel-Palestina pasca-2023. Analis hubungan internasional menyoroti bahwa keberhasilan transisi ke tahap lanjutan bergantung pada keseimbangan antara tekanan diplomatik AS dan komitmen kedua belah pihak terhadap kesepakatan yang ada. Ketegangan saat ini menggarisbawahi tantangan dalam mengimplementasikan visi perdamaian jangka panjang di tengah distrust yang mendalam, serta implikasi lebih luas bagi stabilitas regional Timur Tengah.
Pewarta : Setiawan Wibisono

