RI News Portal. Jakarta – Meningkatnya ketegangan pasca-bentrokan sengit di Kota Aleppo, militer Suriah mengumumkan pembukaan koridor kemanusiaan pada Kamis untuk memfasilitasi evakuasi warga sipil dari wilayah timur provinsi tersebut. Langkah ini muncul sebagai indikasi kuat akan persiapan operasi militer di sekitar Deir Hafer dan Maskana, sekitar 60 kilometer dari pusat kota, di mana pasukan pemerintah telah memperkuat posisinya menyusul tuduhan terhadap kelompok bersenjata Kurdi.
Pengumuman yang dirilis Rabu malam menyatakan bahwa koridor akan beroperasi dari pukul 09.00 hingga 17.00 waktu setempat, memungkinkan warga sipil melarikan diri dari zona konflik potensial. Militer juga mendesak Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan kelompok bersenjata lainnya untuk mundur ke seberang Sungai Eufrat, sebuah tuntutan yang mencerminkan upaya Damaskus untuk mengonsolidasikan kendali atas wilayah timur laut pasca-jatuhnya rezim Bashar Assad pada Desember 2024.

Konflik ini berakar pada kegagalan negosiasi antara pemerintah transisi di bawah Presiden sementara Ahmad al-Sharaa dan SDF, yang selama bertahun-tahun menjadi mitra utama Amerika Serikat dalam memerangi kelompok ekstremis seperti ISIS. SDF menguasai wilayah luas di timur laut Suriah, termasuk pos perbatasan dan sumber daya minyak, yang kini menjadi sumber perselisihan. Beberapa faksi dalam tentara Suriah baru, yang dibentuk dari kelompok pemberontak sebelumnya, memiliki sejarah panjang permusuhan dengan elemen Kurdi, memperburuk dinamika regional yang dipengaruhi oleh kepentingan Turki—yang memandang SDF sebagai ekstensi dari gerakan separatis dalam negerinya.
Bentrokan pekan lalu di Aleppo menewaskan sedikitnya 23 orang, melukai puluhan lainnya, dan mengungsi ribuan warga. Pertempuran tersebut berakhir dengan penarikan pejuang Kurdi dari tiga distrik yang diperebutkan, meninggalkan pasukan pemerintah sebagai penguasa tunggal. SDF membantah tuduhan pemerintah bahwa mereka memperkuat pasukan di Deir Hafer, sementara laporan menyebut adanya serangan drone dari pihak lawan yang memperburuk situasi. Pemerintah menyalahkan SDF atas serangan udara di gedung pemerintahan Aleppo, yang terjadi tepat setelah konferensi pers pejabat tinggi.
Dari perspektif akademis, eskalasi ini menyoroti kerapuhan transisi politik di Suriah pasca-Assad. Analisis geopolitik menunjukkan bahwa integrasi pasukan Kurdi ke dalam struktur militer nasional bukan hanya masalah keamanan, melainkan juga isu identitas etnis dan otonomi regional. Penelitian dari lembaga think tank internasional menekankan bahwa kegagalan dialog bisa memicu fragmentasi lebih lanjut, mengingat SDF telah membuktikan efektivitasnya dalam stabilitas anti-ekstremis, sementara pemerintah baru bergantung pada dukungan eksternal untuk legitimasi.
Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Trump, telah mendorong integrasi ini sambil menjaga hubungan dekat dengan al-Sharaa, tanpa secara terbuka memihak dalam konflik. Komandan Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, menyerukan penahanan diri dan kembalinya ke meja perundingan, memperingatkan risiko terhadap warga sipil dan infrastruktur vital. SDF, dalam responsnya, menyalahkan Damaskus atas potensi bencana kemanusiaan, menekankan tanggung jawab penuh pemerintah atas eskalasi.

Dalam wawancara baru-baru ini, al-Sharaa memuji keberanian komunitas Kurdi sambil mengecam SDF karena diduga melanggar kesepakatan sebelumnya, termasuk pencegahan evakuasi warga sipil. Ia menuduh pengaruh eksternal dari kelompok separatis sebagai penghalang mediasi oleh Prancis dan AS. Pernyataan ini, yang sempat tertunda karena kekhawatiran memicu ketegangan lebih lanjut, mencerminkan dilema diplomasi di mana janji hak-hak Kurdi bertabrakan dengan tuntutan kesatuan nasional.
Secara keseluruhan, situasi di Aleppo menggarisbawahi tantangan rekonstruksi Suriah: menyeimbangkan aspirasi etnis dengan stabilitas negara. Tanpa kemajuan negosiasi, risiko konflik yang lebih luas—termasuk keterlibatan aktor regional—tetap tinggi, memerlukan pendekatan multilateral yang lebih kuat untuk mencegah krisis kemanusiaan baru.
Pewarta : Anjar Bramantyo

