RI News. Dhaka, Bangladesh – Upaya penegakan hukum lintas batas mulai menunjukkan titik terang dalam kasus penembakan fatal terhadap Sharif Osman Hadi, aktivis politik dan pemimpin mahasiswa yang tewas pada Desember 2024. Dua warga negara Bangladesh yang diduga sebagai pelaku penembakan ditangkap oleh kepolisian India di wilayah perbatasan Bongaon, Distrik North 24 Parganas, Bengal Barat, pada akhir pekan lalu.
Faisal Karim Masud dan Alamgir Hossain ditangkap dalam operasi khusus yang dilakukan tim kepolisian setempat. Pengadilan di India langsung memerintahkan penahanan keduanya untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut. Penangkapan ini menjadi perkembangan signifikan setelah polisi Bangladesh sebelumnya menyatakan bahwa para pelaku diduga telah melintasi perbatasan dan bersembunyi di wilayah India.
Inspektur Jenderal Kepolisian Bangladesh, Mohammed Ali Hossain Fakir, mengonfirmasi bahwa Kementerian Luar Negeri sedang mengupayakan pemulangan kedua tersangka melalui mekanisme perjanjian ekstradisi yang telah ada antara kedua negara. “Proses diplomatik sudah berjalan. Kami berharap kerja sama yang baik dari pihak India agar kasus ini dapat diselesaikan secara hukum dan transparan,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Senin (13/3/2026).

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Bangladesh, Shama Obaed, menegaskan pentingnya akses konsuler sebagai langkah awal. “Akses konsuler diperlukan agar petugas kami dapat memverifikasi identitas kedua orang tersebut secara langsung. Setelah itu, proses ekstradisi dapat dilanjutkan sesuai prosedur bilateral,” katanya. Pemerintah Bangladesh saat ini masih menanti respons resmi dari New Delhi terkait permintaan tersebut.
Sharif Osman Hadi, yang dikenal sebagai juru bicara Inquilab Mancha—kelompok pemuda yang mengkampanyekan perubahan budaya dan politik pasca-penggulingan Sheikh Hasina—ditembak di Dhaka pada 12 Desember 2024. Ia sempat dirawat di Singapura, namun meninggal dunia enam hari kemudian, tepatnya 18 Desember.
Kematian Hadi langsung memicu gelombang protes nasional. Kerumunan massa di Dhaka bahkan menyerbu kantor dua surat kabar besar, mencerminkan tingginya emosi publik terhadap kasus ini. Pendukung Hadi secara terbuka menuding keterlibatan pihak eksternal serta lingkaran mantan perdana menteri yang telah berlindung di India sejak Agustus 2024. Di sisi lain, sebagian kalangan liberal menilai Hadi turut bertanggung jawab atas polarisasi karena gaya komunikasinya yang keras dan basis pendukungnya yang kuat di kalangan pemuda Islamis.
Penangkapan di Bongaon menambah dimensi baru pada narasi yang selama ini berkembang. Pihak kepolisian India menyatakan bahwa kedua tersangka sempat berlindung di daerah perbatasan dengan rencana kembali ke Bangladesh. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa motif dan jaringan di balik pembunuhan tersebut mungkin lebih kompleks dari sekadar konflik politik domestik.
Sementara proses hukum dan diplomasi berjalan, kasus Sharif Osman Hadi tetap menjadi salah satu ujian terberat bagi hubungan Bangladesh-India pasca-pergantian kekuasaan 2024. Bagi banyak pengamat, penyelesaian kasus ini tidak hanya menyangkut keadilan bagi korban, tetapi juga menjadi indikator sejauh mana kedua negara mampu menangani isu sensitif lintas batas di tengah ketegangan politik yang masih membara.
Pewarta : Setiawan Wibisono

